RADARBANYUWANGI.ID – Upaya membangkitkan kembali produktivitas tambak tradisional di pesisir selatan Banyuwangi terus dilakukan. Serikat Nelayan Nahdlatul Ulama (SNNU) Kabupaten Banyuwangi menggandeng Shrimp Club Indonesia, Yayasan Sinergi Aquaculture Indonesia (YSAI), dan Konservasi Indonesia menggelar pelatihan budidaya udang berbasis Sistem Tradisional Plus dan Natural Habitat, Senin (29/6/2026), di Aula Welas Asih, Kecamatan Muncar.
Pelatihan bertema "Meningkatkan Produktivitas Tambak Tradisional yang Berkelanjutan" tersebut diikuti puluhan petambak udang dari wilayah Banyuwangi selatan. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan kapasitas pelaku usaha tambak agar mampu menghasilkan produksi yang lebih optimal tanpa mengabaikan keseimbangan lingkungan pesisir.
Ketua SNNU Kabupaten Banyuwangi, Ir. Hardi Pitoyo, yang menjadi narasumber utama, menjelaskan bahwa sebagian besar tambak di Banyuwangi selatan merupakan bekas tambak udang windu intensif yang kini menghadapi berbagai persoalan teknis.
Menurutnya, pendangkalan saluran tambak dan dasar kolam, kerusakan pematang, serta menurunnya fungsi saluran air menjadi tantangan utama yang harus diselesaikan sebelum berbicara mengenai peningkatan hasil produksi.
"Perbaikan infrastruktur tambak menjadi langkah awal yang sangat penting agar sistem budidaya dapat berjalan optimal dan berkelanjutan," ujarnya.
Penyakit Masih Menjadi Ancaman Budidaya
Selain persoalan infrastruktur, Hardi juga mengingatkan petambak terhadap ancaman penyakit yang terus berkembang seiring perubahan sistem budidaya.
Pada masa kejayaan udang windu (Penaeus monodon), penyakit seperti Lymphoid Virus (LV) dan Monodon Baculovirus (MBV) menjadi momok utama.
Sementara dalam budidaya udang vaname, tantangan semakin kompleks dengan munculnya penyakit seperti White Spot Syndrome Virus (WSSV), Taura Syndrome Virus (TSV), Infectious Hypodermal and Hematopoietic Necrosis Virus (IHHNV), White Feces Disease (WFD), hingga Acute Hepatopancreatic Necrosis Disease (AHPND).
Berbagai penyakit tersebut kerap menyebabkan penurunan produktivitas bahkan kegagalan panen apabila tidak diantisipasi melalui pengelolaan tambak yang baik.
Lima Fondasi Tambak Berkelanjutan
Dalam pemaparannya, Hardi menegaskan bahwa keberhasilan tambak tradisional tidak hanya ditentukan oleh kualitas benih, tetapi juga bergantung pada kondisi lingkungan dan manajemen budidaya.
Ia menyebut terdapat lima fondasi utama yang harus diperhatikan petambak, yakni ketersediaan sumber air yang memadai, kualitas pematang dan pintu air, kemampuan mempertahankan tinggi muka air kolam, pengendalian hama, serta sistem keamanan tambak.
Selain itu, keberadaan pakan alami dan kualitas benih juga menjadi faktor penting yang menentukan tingkat kelangsungan hidup udang hingga masa panen.
"Tambak tradisional memiliki keunggulan jika mampu menjaga keseimbangan ekosistemnya. Karena itu pengelolaan dasar tambak dan kualitas air menjadi kunci utama," jelasnya.
Kenali Perbedaan Udang Windu dan Vaname
Dalam sesi pelatihan, peserta juga mendapatkan materi mengenai karakter biologis udang windu dan udang vaname.
Menurut Hardi, udang windu lebih banyak beraktivitas di dasar kolam, menyukai substrat lumpur atau pasir, tahan terhadap kondisi air yang relatif dangkal, serta lebih responsif terhadap pakan segar seperti ikan rucah.
Sebaliknya, udang vaname lebih aktif berenang di kolom air, membutuhkan kualitas air yang lebih stabil, kurang responsif terhadap pakan segar, dan umumnya berasal dari induk hasil program pemuliaan.
Pemahaman mengenai karakter biologis kedua komoditas tersebut dinilai penting agar petambak mampu menentukan metode budidaya yang sesuai dengan kondisi tambaknya.
Dorong Tambak Tradisional Lebih Produktif
Melalui pelatihan ini, SNNU Banyuwangi bersama Shrimp Club Indonesia, YSAI, dan Konservasi Indonesia berharap petambak mampu menerapkan sistem budidaya tradisional plus dengan pendekatan natural habitat sebagai solusi meningkatkan produktivitas tanpa merusak lingkungan.
Pendekatan tersebut diharapkan dapat mengembalikan daya dukung tambak tradisional, mengurangi risiko kegagalan budidaya, sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir Banyuwangi secara berkelanjutan.
Dengan pengelolaan yang lebih adaptif terhadap kondisi alam, tambak tradisional dinilai tetap memiliki prospek besar sebagai salah satu penopang ekonomi masyarakat pesisir sekaligus menjaga kelestarian ekosistem kawasan pantai. (*)
Editor : Ali Sodiqin