Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Sekolah Rakyat Banyuwangi Antar Tiga Anak Putus Sekolah Raih Ijazah SMA

Sigit Hariyadi • Senin, 22 Juni 2026 | 02:00 WIB
LANJUT KULIAH: Bupati Ipuk Fiestiandani menyampaikan selamat sekaligus motivasi kepada Auratul Hasanah usai prosesi kelulusan di SR Muncar pada Sabtu (20/6). (Humas Pemkab Banyuwangi)
LANJUT KULIAH: Bupati Ipuk Fiestiandani menyampaikan selamat sekaligus motivasi kepada Auratul Hasanah usai prosesi kelulusan di SR Muncar pada Sabtu (20/6). (Humas Pemkab Banyuwangi)

RADARBANYUWANGI.ID - Mata Auratul Hasanah tampak berbinar saat namanya dipanggil dalam prosesi kelulusan Sekolah Rakyat Banyuwangi. Tak banyak yang tahu, gadis 18 tahun itu pernah meninggalkan bangku sekolah dan menghabiskan hari-harinya bekerja di perkebunan kopi demi membantu ekonomi keluarga.

Kini, perjalanan hidup Aura berubah. Ia menjadi satu dari tiga siswa Sekolah Rakyat (SR) Banyuwangi yang resmi lulus jenjang SMA/sederajat dalam prosesi kelulusan di Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 46 yang berada di kompleks Balai Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BPVP) Kecamatan Muncar, Sabtu (20/6).

Kelulusan tersebut bukan sekadar seremoni. Bagi mereka, itu adalah titik balik kehidupan setelah sempat kehilangan kesempatan memperoleh pendidikan akibat keterbatasan ekonomi.

Selain prosesi kelulusan yang dihadiri Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani, kegiatan tersebut juga dimeriahkan dengan "Gelar Karya" yang menampilkan berbagai hasil kreativitas para siswa Sekolah Rakyat.

Tiga siswa yang berhasil menyelesaikan pendidikan setara SMA itu adalah Auratul Hasanah, Dimas Kiki Andreansyah, dan Luis Cicko Putra Erdiyanto. Mereka memiliki kisah serupa: pernah putus sekolah dan nyaris kehilangan harapan untuk melanjutkan pendidikan.

Aura mengaku sempat pasrah ketika harus berhenti sekolah. Kondisi ekonomi keluarga memaksanya bekerja di perkebunan kopi.

"Setelah tidak sekolah, saya ikut bekerja di perkebunan. Terus ditawari masuk Sekolah Rakyat. Alhamdulillah sekarang sudah lulus," ujarnya dengan senyum lega.

Kelulusan ini menjadi pintu baru bagi Aura. Ia telah diterima untuk melanjutkan pendidikan ke Universitas Negeri Jember (Unej), sebuah impian yang dulu terasa mustahil diraih.

Sementara itu, dua siswa lainnya memilih jalan berbeda. Mereka memutuskan untuk langsung memasuki dunia kerja agar bisa membantu perekonomian keluarga.

Salah satunya adalah Dimas yang akrab disapa Andika. Ia mengaku pernah menganggur selama setahun setelah putus sekolah. Kesempatan masuk Sekolah Rakyat menjadi titik balik kehidupannya.

"Saya dulu sempat satu tahun menganggur karena tidak sekolah. Lalu ditawari masuk Sekolah Rakyat, dan Alhamdulillah tidak mengulang dari awal kelas 10 tapi langsung kelas 12, sehingga saya sekarang lulus. Saya mau bekerja untuk membantu ekonomi keluarga," tuturnya.

Kepala Sekolah Rakyat Banyuwangi Winarno menjelaskan, sistem pembelajaran di Sekolah Rakyat menyesuaikan jenjang pendidikan terakhir siswa.

"Anak yang masuk Sekolah Rakyat disesuaikan dengan jenjang pendidikan sebelumnya. Apabila mereka putus sekolah kelas XII, tidak perlu mengulang dari kelas X, tapi langsung kelas XII. Seperti tiga siswa yang baru lulus saat ini," ujarnya.

Menurut Winarno, setelah lulus pihak sekolah tidak melepas begitu saja para siswa. Sekolah bersama Pemerintah Kabupaten Banyuwangi turut memfasilitasi masa depan mereka, baik yang ingin bekerja maupun melanjutkan pendidikan.

Dua siswa yang memilih bekerja bahkan telah mendapatkan pelatihan keterampilan di BPVP Muncar.

"Alhamdulillah keduanya telah diterima di Toyota," kata Winarno.

Ia menambahkan, saat ini Sekolah Rakyat di BPVP Muncar memiliki total 88 siswa. Rinciannya, 48 siswa jenjang SD dan 40 siswa jenjang SMA.

Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani mengaku bangga melihat semangat para siswa untuk kembali belajar setelah sempat terhenti.

"Hari ini kita tidak hanya menyaksikan prosesi kelulusan. Tapi kita menyaksikan anak-anak yang terus tumbuh, belajar, berkarya, dan mempersiapkan diri meraih masa depan yang lebih baik," ujarnya.

Ipuk menegaskan, Pemerintah Kabupaten Banyuwangi akan terus memperluas akses pendidikan yang inklusif dan berkualitas agar tidak ada anak yang kehilangan hak untuk belajar.

Berbagai program pendidikan seperti Siswa Asuh Sebaya (SAS), Gerakan Daerah Angkat Anak Putus Sekolah (Garda Ampuh), Banyuwangi Cerdas, hingga pendampingan anak putus sekolah terus dijalankan untuk menjangkau seluruh lapisan masyarakat.

"Sekolah Rakyat ini kian melengkapi berbagai program yang telah dilakukan Banyuwangi," tambahnya.

Saat ini, Sekolah Rakyat di Banyuwangi masih menempati dua lokasi sementara, yakni di Balai Diklat milik Pemkab Banyuwangi di Kecamatan Licin dan di BPVP Muncar.

Ke depan, seluruh siswa akan dipusatkan di Sekolah Rakyat Terintegrasi yang tengah dibangun Kementerian Pekerjaan Umum di Desa Blambangan, Kecamatan Muncar. Sekolah yang berdiri di atas lahan seluas tujuh hektare milik Pemkab Banyuwangi itu diharapkan menjadi rumah besar bagi anak-anak yang pernah kehilangan kesempatan belajar, namun tak pernah kehilangan mimpi.

Bagi Aura dan dua rekannya, mimpi itu kini bukan lagi sekadar harapan. Mereka telah membuktikan bahwa keterbatasan ekonomi bukan akhir dari segalanya, melainkan awal untuk bangkit dan meraih masa depan yang lebih baik. (sgt)

Editor : Ali Sodiqin
#BPVP Muncar #lulus SMA #Sekolah Rakyat #anak putus sekolah #banyuwangi