RADARBANYUWANGI.ID – Momen kelulusan biasanya identik dengan coret-coret seragam atau pesta perpisahan. Namun, hal berbeda dilakukan Wahyu Triana Risnanti Putri. Siswi SMPN 1 Muncar, Banyuwangi, itu memilih merayakan kelulusannya dengan meluncurkan buku antologi puisi karya sendiri sebagai hadiah perpisahan bagi teman-teman dan dewan guru.
Buku berjudul Di Bawah Jemari yang Mengikat itu resmi diperkenalkan pada acara pelepasan siswa kelas IX SMPN 1 Muncar. Peluncuran buku tersebut menjadi salah satu momen istimewa dalam acara karena dari sepuluh buku yang dirilis pada kesempatan itu, karya Risna—sapaan akrabnya—menarik perhatian banyak orang.
Pilihan Risna merayakan kelulusan dengan buku tentu bukan keputusan yang lahir dalam semalam. Remaja kelahiran 14 Januari 2011 itu ternyata telah akrab dengan dunia puisi sejak duduk di bangku kelas III SDN 2 Tembokrejo.
Kala itu, ia belum menulis puisi sendiri. Risna hanya belajar membaca puisi untuk mengikuti berbagai lomba. Ketertarikannya pada dunia sastra semakin tumbuh ketika memasuki jenjang SMP.
“Baru ketika awal masuk SMP saya belajar untuk menulis,” ujarnya.
Selama tiga tahun bersekolah di SMPN 1 Muncar, Risna diam-diam menekuni dunia kepenulisan. Bahkan, ayahnya yang juga seorang guru di sekolah tersebut tidak mengetahui bahwa putrinya sedang menyiapkan sebuah karya besar.
Dari kebiasaan menuangkan perasaan ke dalam bait-bait puisi, Risna berhasil menulis sekitar 135 puisi. Dari jumlah tersebut, sebanyak 100 puisi dipilih untuk diterbitkan menjadi sebuah buku antologi.
“Dari total 135 puisi itu, yang diterbitkan 100,” katanya.
Sebagian besar puisi yang ia tulis merupakan curahan hati dan refleksi dari pengalaman hidupnya selama tumbuh sebagai remaja. Ia mengaku proses menulis tidak selalu mudah. Namun, dukungan dari para guru dan teman-teman membuatnya semakin percaya diri untuk berkarya.
Risna mengaku pertama kali belajar menulis dari guru Bahasa Indonesia di sekolahnya. Setelah itu, dukungan datang dari banyak pihak, mulai guru lain hingga kepala sekolah.
“Dapat support dan belajar dari Guru Bahasa Indonesia Zahwa Jihan Sowaya, kemudian ada Bu Dewi, Bu Dea, dan Kepala SMPN 1 Muncar Pak Mashudi. Wali Kelas Pak Wahyu Suwandono hingga teman-teman juga memberi support yang luar biasa,” tuturnya.
Keberhasilan Risna menerbitkan buku juga menjadi kejutan tersendiri bagi keluarganya. Sang ayah, Haris Nusantoro, mengaku baru mengetahui rencana penerbitan buku tersebut menjelang acara pelepasan siswa.
Ia merasa bangga karena di usia yang masih muda, putrinya mampu membuktikan bahwa masa sekolah tidak hanya diisi dengan kegiatan akademik, tetapi juga dapat menjadi ruang untuk berkarya dan menghasilkan sesuatu yang membanggakan.
“Awalnya malah tidak tahu, ini merupakan kejutan bagi saya. Sebab, menjelang pelepasan baru diberi tahu akan menerbitkan buku. Apa pun itu jika hal positif pasti akan kami dukung,” ujarnya.
Buku antologi puisi karya Risna tersebut diterbitkan oleh sebuah percetakan di Lamongan. Karyanya juga telah dikirim ke Perpustakaan Nasional di Jakarta sebagai bagian dari dokumentasi karya literasi anak bangsa.
Bagi Risna, buku itu bukan sekadar kumpulan puisi. Lebih dari itu, Di Bawah Jemari yang Mengikat menjadi penanda perjalanan masa remajanya sekaligus hadiah perpisahan yang akan selalu dikenang oleh teman-teman dan guru di SMPN 1 Muncar.
Di saat sebagian pelajar memilih meninggalkan jejak melalui coretan di seragam, Risna justru meninggalkan warisan berupa karya yang bisa dibaca dan menginspirasi banyak orang. (why/sgt)
Editor : Ali Sodiqin