Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Kampanye Anti Gadget, Pasangan Pengantin di Banyuwangi Ini Siapkan Arena Dolanan Anak-Anak

Sigit Hariyadi • Senin, 15 Juni 2026 | 06:00 WIB
BERMAIN-BERINTERAKSI: Anak-anak bermain aneka permainan tradisional yang disiapkan di acar resepsi pernikahan pasangan Lutfina Aulia Rahman dan Achmad Irfandi di Sahid Mahatta Hall, Genteng, Sabtu (13/6). (Toha/Radar Banyuwangi)
BERMAIN-BERINTERAKSI: Anak-anak bermain aneka permainan tradisional yang disiapkan di acar resepsi pernikahan pasangan Lutfina Aulia Rahman dan Achmad Irfandi di Sahid Mahatta Hall, Genteng, Sabtu (13/6). (Toha/Radar Banyuwangi)

RADARBANYUWANGI.ID - Di tengah semakin tingginya penggunaan gawai di kalangan anak-anak, sepasang pengantin di Banyuwangi menghadirkan cara unik untuk menyampaikan pesan sosial. Saat menggelar resepsi pernikahan, mereka menyediakan ruang khusus permainan tradisional sebagai alternatif hiburan sehat bagi anak-anak yang hadir.

Langkah tersebut dilakukan Lutfina Aulia Rahman dan Achmad Irfandi dalam resepsi pernikahan yang digelar di Sahid Mahatta Hall, Genteng, Sabtu (13/6). Tidak hanya memikirkan kenyamanan tamu dewasa, pasangan ini juga menyiapkan area bermain yang memungkinkan anak-anak bergerak, berinteraksi, dan menikmati berbagai permainan rakyat secara langsung.

Puluhan permainan tradisional disediakan selama acara berlangsung. Mulai egrang mini, gasing, kuda-kudaan, permainan papan kayu, hingga beragam permainan edukatif yang dapat dimainkan bersama-sama.

Konsep tersebut langsung menarik perhatian para tamu undangan. Sebab, ruang bermain anak berbasis permainan tradisional masih sangat jarang ditemukan dalam resepsi pernikahan pada umumnya.

Bagi Achmad Irfandi, ide tersebut lahir dari kegelisahan yang selama ini ia rasakan terhadap semakin berkurangnya ruang bermain anak di lingkungan masyarakat. Aktivis yang aktif mengembangkan permainan tradisional melalui Yayasan Kampung Lali Gadget itu melihat anak-anak kini lebih banyak menghabiskan waktu di depan layar dibanding bermain bersama teman sebayanya.

“Anak-anak membutuhkan ruang untuk bergerak, berekspresi, dan berinteraksi. Permainan tradisional bisa menjadi alternatif yang menyenangkan sekaligus menyehatkan dibandingkan hanya berfokus pada layar gawai,” ujarnya.

Pria yang juga merupakan menantu Direktur Utama PUDAM Banyuwangi Abd Rahman tersebut menilai permainan tradisional memiliki banyak manfaat. Selain melatih kemampuan motorik, permainan rakyat juga membangun komunikasi, kerja sama, kreativitas, hingga kemampuan sosial anak.

Karena itu, momentum resepsi pernikahan sengaja dimanfaatkan sebagai media edukasi sekaligus kampanye sosial kepada masyarakat.

Menurut Irfandi dan Lutfina, pesta pernikahan tidak harus berhenti sebagai seremoni keluarga. Acara tersebut juga dapat menjadi ruang untuk menyebarkan nilai-nilai positif yang bermanfaat bagi lingkungan sekitar.

Lutfina mengaku memiliki perhatian besar terhadap tumbuh kembang anak. Ia melihat masih minimnya ruang ramah anak dalam berbagai kegiatan masyarakat, termasuk hajatan keluarga.

Akibatnya, banyak anak yang akhirnya menghabiskan waktu dengan memegang telepon genggam agar tidak merasa bosan selama mengikuti acara orang dewasa.

Kondisi tersebut ingin diubah melalui konsep resepsi yang mereka usung.

Tidak hanya menyediakan area bermain, pasangan ini juga membagikan sekitar 300 kitiran klutuk kepada anak-anak yang hadir. Mainan tradisional berbentuk kincir angin tersebut menghasilkan bunyi khas saat dimainkan dan dapat dibawa pulang sebagai suvenir.

Melalui langkah sederhana itu, mereka berharap anak-anak semakin mengenal permainan tradisional yang mulai jarang ditemui di era digital.

Kehadiran arena bermain selama resepsi terbukti mampu menarik minat anak-anak. Banyak di antara mereka yang lebih memilih mencoba berbagai permainan dibanding sibuk dengan telepon genggam.

Suasana resepsi pun terasa berbeda. Tawa dan kegembiraan anak-anak menjadi warna tersendiri yang melengkapi momen bahagia kedua mempelai.

“Anak-anak berhak mendapatkan ruang yang nyaman di mana pun mereka berada. Jika ruang itu tersedia, mereka akan tumbuh lebih aktif, kreatif, dan bahagia,” pungkas Irfandi.

Melalui resepsi yang tidak biasa tersebut, pasangan pengantin ini menunjukkan bahwa setiap ruang publik, termasuk pesta pernikahan, dapat menjadi sarana edukasi sekaligus tempat yang ramah bagi tumbuh kembang anak. Sebuah pesan sederhana, namun relevan di tengah tantangan era digital yang semakin dekat dengan kehidupan generasi muda. (sgt)

Editor : Ali Sodiqin
#Kampung Lali #Anak dan gawai #Banyuwangi kreatif #resepsi pernikahan #Permainan Tradisional