Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

SPMB SMA-SMK Jatim 2026 Dibuka 11 Juni, Siswa Diminta Cermati Aturan Baru Jalur Domisili

Fredy Rizki Manunggal • Rabu, 10 Juni 2026 | 01:00 WIB
SPMB Jawa Timur 2026 Resmi Dimulai, Calon Siswa Wajib Segera Aktivasi PIN. (ChatGPT)
SPMB SMA dan SMK Jawa Timur tahap pertama dibuka 11 Juni. Jalur domisili kini mengutamakan skor TKA dan rapor sebelum jarak sekolah. (ChatGPT)

RADARBANYUWANGI.ID – Ribuan lulusan SMP yang akan melanjutkan pendidikan ke jenjang SMA dan SMK negeri di Jawa Timur memasuki fase krusial. Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB) tahap pertama resmi dibuka, Kamis (11/6), dengan jalur domisili sebagai pintu masuk awal yang bisa dimanfaatkan calon peserta didik.

Menjelang pembukaan pendaftaran, para siswa telah diberi kesempatan melakukan simulasi pendaftaran secara online selama dua hari, Senin (8/6) hingga Selasa (9/6). Simulasi tersebut menjadi sarana penting untuk mengukur peluang diterima di sekolah tujuan sekaligus memahami mekanisme seleksi yang mengalami sejumlah perubahan dibanding tahun sebelumnya.

Kasi SMA Cabang Dinas Pendidikan Jawa Timur Wilayah Banyuwangi Arief Ainur Rozie menjelaskan, terdapat tiga jalur yang disimulasikan dalam uji coba pendaftaran. Yakni jalur domisili, jalur prestasi akademik SMA, dan jalur prestasi akademik SMK.

Melalui simulasi itu, siswa sudah dapat melihat nilai yang menjadi dasar seleksi sehingga bisa menyusun strategi pendaftaran secara lebih matang.

“Tiga jalur itu bisa dicoba dengan simulasi secara mandiri kemarin. Kalau afirmasi belum bisa karena harus mengunggah dokumen tambahan seperti piagam, SK mutasi, dan lainnya,” jelas Arief.

Perubahan paling mencolok terjadi pada jalur domisili SMA. Jika sebelumnya faktor jarak menjadi pertimbangan utama, kini sistem seleksi lebih menitikberatkan pada skor gabungan nilai Tes Kemampuan Akademik (TKA) dan nilai rapor.

Artinya, calon peserta didik dengan nilai akademik lebih tinggi memiliki peluang lebih besar untuk diterima meski jarak rumahnya tidak menjadi yang terdekat dengan sekolah tujuan.

“Untuk SMA yang dijadikan patokan lebih dulu adalah skor, kemudian baru jarak tempat tinggal dengan sekolah. Sedangkan untuk SMK, acuan utamanya tetap jarak terlebih dahulu,” terang Arief.

Kebijakan baru tersebut membuat siswa harus lebih jeli membaca hasil simulasi. Sebab, nilai rapor dan skor TKA yang sudah muncul dalam sistem dapat menjadi gambaran awal posisi mereka dalam persaingan jalur domisili maupun jalur prestasi.

Meski demikian, jalur domisili SMA tetap memiliki batasan wilayah atau rayon. Peserta hanya dapat memilih sekolah yang berada dalam rayon sesuai ketentuan yang berlaku.

Berbeda dengan jalur prestasi akademik yang memberi keleluasaan lebih besar karena seleksinya murni berdasarkan perolehan skor tanpa terikat lokasi tempat tinggal.

“Untuk jalur domisili selain skor masih ada ketentuan rayon, sehingga tidak bisa mendaftar di luar rayon. Sedangkan jalur prestasi benar-benar beradu skor dan tidak terikat lokasi,” tegasnya.

Dengan dibukanya SPMB tahap pertama besok, para siswa dan orang tua diharapkan memanfaatkan hasil simulasi sebagai bahan evaluasi sebelum menentukan pilihan sekolah.

Strategi memilih jalur dan sekolah yang sesuai dengan capaian nilai menjadi faktor penting untuk meningkatkan peluang lolos dalam persaingan SPMB tahun ini. (fre/aif)

Editor : Ali Sodiqin
#nilai TKA #SMA SMK #Seleksi siswa #SPMB 2026 #jalur domisili