Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Duduk Sebangku dengan Gen Z, Pensiunan Toyota Kuliah Lagi di Usia 56 Tahun

Ali Sodiqin • Sabtu, 6 Juni 2026 | 20:00 WIB
Pensiun dari Toyota, Nurohman Jadi Mahasiswa Reguler Unisma Bekasi di Usia 56 Tahun. (unismabekasi.ac.id)
Pensiun dari Toyota, Nurohman Jadi Mahasiswa Reguler Unisma Bekasi di Usia 56 Tahun. (unismabekasi.ac.id)

RADARBANYUWANGI.ID – Ketika banyak orang memilih menikmati masa pensiun dengan beristirahat di rumah atau menghabiskan waktu bersama keluarga, Nurohman justru mengambil keputusan yang tak biasa. Setelah mengabdi selama 35 tahun di PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN), pria berusia 56 tahun itu kembali duduk di bangku kuliah sebagai mahasiswa reguler.

Keputusan tersebut menjadikan kisah Nurohman berbeda dari kebanyakan pensiunan. Alih-alih berhenti beraktivitas setelah menyelesaikan karier panjangnya di dunia industri, ia memilih membuka lembaran baru sebagai mahasiswa Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) UM Indonesia.

Lebih menarik lagi, Nurohman tidak memilih kelas karyawan atau program khusus untuk pekerja profesional. Ia mengikuti perkuliahan reguler bersama mahasiswa yang sebagian besar berasal dari Generasi Z dengan rentang usia puluhan tahun lebih muda darinya.

Namun perbedaan usia itu tidak membuatnya merasa canggung.

Di ruang kelas, ia berdiskusi, mengerjakan tugas, hingga mengikuti berbagai aktivitas akademik layaknya mahasiswa lainnya. Baginya, kampus menjadi ruang baru untuk terus bertumbuh setelah memasuki masa pensiun.

Dari Operator hingga Supervisor Senior Toyota

Sebelum mengenakan jaket almamater kampus, Nurohman menghabiskan sebagian besar hidupnya di lingkungan industri manufaktur otomotif.

Pria kelahiran 27 November 1969 tersebut bergabung dengan PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia saat berusia 20 tahun. Selama kurang lebih tiga setengah dekade, ia meniti karier dari bawah hingga menduduki posisi strategis.

Kariernya dimulai sebagai operator produksi. Berkat dedikasi dan kompetensi yang dimiliki, ia kemudian dipercaya menjadi kepala regu, line head, hingga akhirnya menjabat Supervisor Senior yang memimpin ribuan operator.

Tidak hanya itu, Nurohman juga aktif sebagai trainer internal perusahaan. Ia memberikan pelatihan mengenai basic rules operator, problem solving, hingga menjadi asesor bagi karyawan yang ingin naik ke jenjang kepemimpinan.

Pengalaman panjang tersebut membuatnya dikenal sebagai sosok yang terbiasa mengajar dan membimbing orang lain.

Mimpi Kuliah yang Tertunda Puluhan Tahun

Di balik kesuksesan kariernya, Nurohman ternyata menyimpan satu impian yang belum sempat terwujud, yakni melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.

Keinginan itu sebenarnya sudah muncul sejak masih aktif bekerja. Namun tuntutan pekerjaan dan tanggung jawab yang besar membuat cita-cita tersebut terus tertunda.

"Sebenarnya saya ingin kuliah sejak masih bekerja, tetapi belum ada kesempatan karena kesibukan pekerjaan. Setelah pensiun, saya merasa inilah saat yang tepat untuk mendapatkan ilmu baru yang selama ini belum sempat saya pelajari," ujarnya.

Dorongan dari rekan-rekan kerja yang selama ini mengenalnya sebagai mentor dan pengajar turut memperkuat keinginannya untuk kembali belajar secara formal.

Ketika masa pensiun tiba, ia melihat kesempatan yang selama ini dinanti akhirnya datang.

Memilih Pendidikan Agama Islam

Menariknya, Nurohman tidak memilih jurusan yang berkaitan dengan dunia industri yang telah digelutinya selama puluhan tahun.

Ia justru mengambil Program Studi Pendidikan Agama Islam karena ingin mendalami bidang ilmu yang belum pernah dipelajari secara formal.

"Saya sudah puluhan tahun menekuni dunia industri. Ilmu agama adalah bidang yang belum pernah saya dapatkan secara mendalam. Saya berharap ilmu ini nantinya bisa bermanfaat untuk diri sendiri dan juga orang lain," katanya.

Keputusan tersebut menunjukkan bahwa kuliah baginya bukan sekadar mengejar gelar akademik, melainkan bagian dari proses memperluas wawasan dan memperdalam pemahaman hidup.

Beradaptasi dengan Mahasiswa Generasi Z

Kembali menjadi mahasiswa di usia 56 tahun tentu menghadirkan tantangan tersendiri.

Nurohman mengakui kemampuan menangkap materi dan daya ingatnya tidak lagi secepat ketika masih muda. Namun hal itu tidak mengurangi semangatnya untuk belajar.

"Saya bisa memahami materi, hanya memang membutuhkan waktu lebih lama. Daya ingat mungkin tidak sekuat dulu, tetapi ketika berdiskusi dengan teman-teman saya tetap bisa mengikuti dan memahami materi yang disampaikan," ungkapnya.

Di tengah perbedaan usia yang cukup jauh, ia justru menikmati interaksi dengan mahasiswa generasi muda.

Baginya, kehadiran teman-teman yang lebih muda memberikan perspektif baru, energi positif, serta wawasan yang berbeda mengenai perkembangan zaman.

Lingkungan kampus menjadi ruang belajar dua arah. Ia berbagi pengalaman hidup dan dunia kerja, sementara mahasiswa lain membagikan sudut pandang baru yang relevan dengan perkembangan era digital.

Dukungan Keluarga Jadi Kekuatan

Perjalanan kuliah Nurohman tidak lepas dari dukungan keluarga.

Menariknya, keputusan untuk mendaftar kuliah sempat ia rahasiakan terlebih dahulu. Setelah resmi diterima sebagai mahasiswa dan menjalani masa orientasi, barulah ia memberi tahu istri dan anak-anaknya.

Saat itu, ia sebenarnya sempat mendapatkan tawaran pekerjaan baru setelah pensiun. Namun lokasi kerja yang jauh membuat keluarga menyarankan agar ia memilih aktivitas yang lebih membahagiakan.

"Waktu itu saya sempat ditawari pekerjaan lagi setelah pensiun, tetapi lokasinya jauh dari rumah. Keluarga menyarankan saya mencari kegiatan yang membuat bahagia. Akhirnya saya memilih kuliah," tuturnya.

Dukungan penuh dari keluarga membuatnya semakin percaya diri menjalani kehidupan sebagai mahasiswa.

Kampus Jadi Gudang Ilmu

Bagi Nurohman, pengalaman kuliah menjadi salah satu fase paling berkesan dalam hidupnya.

Ia menikmati suasana akademik yang selama ini belum pernah dirasakan. Bertemu dosen dengan berbagai keahlian, berdiskusi dengan mahasiswa dari beragam latar belakang, hingga mengikuti aktivitas kampus memberikan pengalaman baru yang memperkaya hidupnya.

"Di kampus saya bertemu banyak orang baru, dosen-dosen yang menarik, dan teman-teman yang luar biasa. Saya merasa kampus adalah gudangnya ilmu. Ini pengalaman yang belum pernah saya rasakan sebelumnya," katanya.

Ingin Lanjut hingga Magister

Meski baru menempuh semester dua, Nurohman sudah memiliki target jangka panjang.

Jika diberikan kesehatan, kemampuan, dan kesempatan, ia ingin melanjutkan pendidikan hingga jenjang magister atau S2.

"Saya masih semester dua dan perjalanan masih panjang. Tetapi kalau nanti diberikan kemampuan dan kesempatan, saya ingin melanjutkan pendidikan sampai S2," ujarnya.

Pendidikan Tak Mengenal Batas Usia

Kisah Nurohman menjadi bukti bahwa pendidikan tidak dibatasi oleh usia, profesi, maupun status sosial.

Di saat sebagian orang menganggap masa pensiun sebagai akhir dari produktivitas, ia justru membuktikan bahwa fase tersebut bisa menjadi awal perjalanan baru untuk mewujudkan impian yang lama tertunda.

Melalui pengalamannya, Nurohman mengajak masyarakat, khususnya para pensiunan, untuk terus belajar dan mengembangkan diri.

"Banyak yang bertanya kenapa setelah pensiun justru kuliah. Ada yang menganggap itu buang-buang uang, tetapi banyak juga yang mendukung. Bagi saya, ilmu itu sangat bermanfaat, membuka wawasan, dan membawa banyak keberkahan. Karena itu jangan pernah berhenti belajar," pungkasnya.

Pesan sederhana itu menjadi refleksi bahwa semangat belajar tidak memiliki batas waktu. Selama masih memiliki keinginan untuk berkembang, selalu ada kesempatan untuk memulai langkah baru, berapa pun usia seseorang. (*)

Editor : Ali Sodiqin
#Nurohman mahasiswa usia 56 tahun #Pensiunan Toyota kuliah #Mahasiswa reguler UM Indonesia #Kuliah setelah pensiun #Inspirasi pendidikan sepanjang hayat