RADARBANYUWANGI.ID – Kabar membanggakan kembali datang dari MA Unggulan Nuris Jember. Di tengah ketatnya persaingan masuk perguruan tinggi negeri terbaik di Indonesia, dua santri terbaik lembaga tersebut berhasil menembus Universitas Gadjah Mada (UGM), kampus yang selama ini menjadi tujuan para pelajar berprestasi dari seluruh penjuru tanah air.
Mereka adalah Muhammad Fathur Rohman, siswa kelas XII A, dan Fauzan Muhtar Fadilah dari kelas XII MIPA. Keduanya diterima di program studi yang berbeda melalui jalur prestasi, sekaligus menegaskan bahwa santri mampu bersaing di level akademik tertinggi tanpa meninggalkan identitasnya sebagai pengkaji ilmu agama.
Fathur diterima di Program Studi S1 Sastra Arab UGM melalui jalur Penelusuran Bibit Unggul Berprestasi (PBUB), sedangkan Fauzan berhasil menembus Program Studi S1 Fisika UGM, salah satu program studi sains dengan tingkat persaingan yang sangat ketat.
Prestasi tersebut menjadi kebanggaan tersendiri bagi keluarga besar MA Unggulan Nuris Jember dan Pesantren Nurul Islam Jember. Sebab, keberhasilan keduanya lahir dari proses panjang yang memadukan pendidikan pesantren, akademik, serta pembinaan prestasi secara berkelanjutan.
Fathur, Santri Penghafal Kitab yang Menaklukkan Sastra Arab UGM
Dilansir dari laman pesantrennuris.net, nama Muhammad Fathur Rohman sudah lama dikenal di lingkungan MA Unggulan Nuris maupun Pesantren Nurul Islam Jember. Santri asal Kandangrejo, Desa Sukoreno, Kecamatan Umbulsari, Jember tersebut dikenal sebagai pribadi tekun, rendah hati, dan memiliki kecintaan mendalam terhadap bahasa Arab.
Selama mondok di pesantren, Fathur berhasil mengkhatamkan 16 kitab yang menjadi rujukan penting dalam tradisi keilmuan Islam. Capaian tersebut menunjukkan ketekunan dan kedalaman pemahamannya terhadap literatur klasik Islam yang menjadi fondasi pendidikan pesantren.
Tak hanya unggul dalam kajian kitab, Fathur juga aktif mengikuti berbagai kompetisi tingkat nasional. Berbagai penghargaan berhasil diraihnya dan semakin mengukuhkan kapasitasnya di bidang bahasa Arab.
Di antaranya Juara 1 Pidato Bahasa Arab Tingkat Nasional yang diselenggarakan Markaz Arabiyah Kediri, Juara 3 Taqdimul Qishoh Tingkat Nasional di Universitas Negeri Malang, Juara 2 Khitobah Tingkat Nasional di STAI Al Anwar Rembang, Juara 2 Syarhil Qur’an Tingkat Kabupaten Jember, Juara 2 Pidato Bahasa Arab Tingkat Kabupaten, serta Juara 3 Khitobah Tingkat Nasional di Universitas Islam Malang.
Deretan prestasi tersebut menjadi bukti bahwa kemampuan bahasa Arab yang diasah secara konsisten mampu membuka jalan menuju kampus impian.
Ketika pengumuman penerimaan mahasiswa baru UGM diumumkan dan namanya dinyatakan lolos di Program Studi Sastra Arab, kebahagiaan besar menyelimuti dirinya, keluarga, serta para guru yang selama ini membimbingnya.
Keberhasilan tersebut menjadi hadiah manis atas perjalanan panjang yang diwarnai kerja keras, disiplin belajar, dan dedikasi dalam mendalami ilmu bahasa serta keislaman.
Fauzan, Ahli Debat dan Sains dengan TOEFL 610
Di sisi lain, Fauzan Muhtar Fadilah hadir dengan cerita sukses yang tidak kalah inspiratif.
Santri asal Bondowoso tersebut dikenal sebagai siswa dengan kemampuan akademik yang menonjol, berpikir kritis, serta memiliki penguasaan bahasa Inggris yang sangat baik.
Kegemarannya membaca membuat wawasan Fauzan berkembang luas. Ia aktif mengikuti berbagai forum kompetitif dan mampu menunjukkan kualitasnya di tingkat provinsi maupun nasional.
Salah satu prestasi membanggakan yang pernah diraih adalah Medali Emas sekaligus Juara 1 Speech Bahasa Inggris dalam ajang PORSENI Madrasah Aliyah tingkat Provinsi Jawa Timur.
Tidak berhenti di sana, Fauzan juga sukses meraih Juara 2 National Schools Debating Championship (NSDC) yang diselenggarakan oleh Pusat Prestasi Nasional Kementerian Pendidikan.
Kemampuannya dalam diplomasi dan komunikasi internasional juga terlihat saat mengikuti Senior High School Model United Nations (MUN) Universitas Jember. Dalam ajang tersebut, Fauzan berhasil meraih penghargaan Honorable Mention.
Prestasi yang paling mencuri perhatian adalah capaian skor TOEFL yang berhasil diraihnya.
Dengan skor TOEFL mencapai 610, Fauzan menunjukkan kemampuan bahasa Inggris akademik yang sangat tinggi. Capaian tersebut bahkan telah melampaui standar yang umumnya dimiliki banyak mahasiswa perguruan tinggi.
Bekal akademik, kemampuan bahasa asing, serta sederet prestasi nasional akhirnya mengantarkannya diterima di Program Studi Fisika Universitas Gadjah Mada.
Program studi tersebut dikenal memiliki standar akademik tinggi dan menjadi salah satu jurusan favorit bagi siswa-siswa terbaik Indonesia yang memiliki minat di bidang sains.
Dua Wajah Keunggulan Santri Masa Kini
Keberhasilan Fathur dan Fauzan menghadirkan gambaran menarik tentang wajah santri masa kini.
Di satu sisi, Fathur mewakili kekuatan tradisi pesantren melalui penguasaan kitab kuning, bahasa Arab, dan dakwah. Di sisi lain, Fauzan menunjukkan bahwa santri juga mampu unggul dalam sains modern, bahasa internasional, serta diplomasi global.
Perbedaan bidang keilmuan yang mereka pilih justru memperlihatkan luasnya peluang yang dapat diraih santri ketika mendapatkan pendidikan yang seimbang antara ilmu agama dan ilmu pengetahuan umum.
Keberhasilan keduanya sekaligus menjadi bukti bahwa pesantren bukan penghalang untuk meraih pendidikan tinggi terbaik. Sebaliknya, lingkungan pesantren mampu menjadi tempat lahirnya generasi yang memiliki kecerdasan intelektual, kedalaman spiritual, dan karakter yang kuat.
Pencapaian ini juga mempertegas kualitas sistem pendidikan yang diterapkan MA Unggulan Nuris Jember dan Pesantren Nurul Islam Jember dalam menyiapkan generasi unggul yang siap bersaing di tingkat nasional maupun internasional.
Di balik keberhasilan menembus UGM, tersimpan ribuan jam belajar, puluhan kompetisi yang diikuti, tumpukan kitab yang dikaji, serta doa panjang dari orang tua dan para guru.
Kini langkah Muhammad Fathur Rohman dan Fauzan Muhtar Fadilah telah sampai di gerbang Universitas Gadjah Mada. Namun perjalanan sesungguhnya baru saja dimulai.
Fathur akan melanjutkan pengabdiannya pada dunia bahasa Arab dan kajian keislaman di salah satu kampus terbaik Indonesia. Sementara Fauzan akan mengembangkan potensinya di bidang fisika dan sains dengan bekal prestasi yang telah mengantarkannya hingga titik ini.
Keduanya telah membuktikan bahwa mimpi besar tidak ditentukan oleh asal daerah maupun latar belakang. Yang menjadi pembeda adalah kesungguhan belajar, konsistensi berjuang, dan keberanian untuk terus mengejar cita-cita.
Keberhasilan dua santri MA Unggulan Nuris Jember tersebut diharapkan menjadi inspirasi bagi pelajar dan santri di seluruh Indonesia untuk terus berprestasi serta berani menembus kampus-kampus terbaik negeri ini. (*)
Editor : Ali Sodiqin