Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Petani Cabai di Jombang Didorong Melek Keuangan, FEB Unair Kenalkan Akuntansi Sederhana

Lugas Rumpakaadi • Kamis, 4 Juni 2026 | 13:19 WIB
FEB Unair menggelar pengabdian masyarakat di Desa Marmoyo, Jombang. (Istimewa)
FEB Unair menggelar pengabdian masyarakat di Desa Marmoyo, Jombang. (Istimewa)

RADARBANYUWANGI.ID - Tingkat literasi keuangan di kalangan petani masih menjadi perhatian. Hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2025 yang dilakukan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa tingkat literasi keuangan petani masih berada di bawah rata-rata nasional.

Meski demikian, terdapat peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya. Tingkat literasi keuangan petani tercatat mencapai 58,87 persen pada 2025 atau naik 0,9 persen dibandingkan 2024. Kondisi tersebut mendorong berbagai pihak untuk memperkuat edukasi keuangan bagi pelaku sektor pertanian.

Salah satu upaya dilakukan Departemen Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga (FEB Unair) melalui kegiatan pengabdian masyarakat di Desa Marmoyo, Kecamatan Kabuh, Kabupaten Jombang. Kegiatan yang berlangsung pada Sabtu (2/5/2026) itu merupakan bagian dari program mandatori fakultas yang berfokus pada pemberdayaan petani cabai melalui pemahaman akuntansi sederhana.

Dalam kegiatan tersebut, tim FEB Unair memberikan pelatihan mengenai pentingnya pencatatan keuangan usaha tani. Materi disampaikan untuk membantu petani mengelola usaha secara lebih terukur dan berorientasi pada keberlanjutan bisnis.

Pemateri kegiatan, Dr. Wiwik Supratiwi, MBA., Ak., menjelaskan bahwa hingga kini masih banyak petani yang mengandalkan ingatan dalam mengelola arus keuangan usaha taninya. Padahal, tanpa pencatatan yang jelas, petani akan kesulitan mengetahui kondisi keuangan usahanya secara akurat.

“Banyak petani di Indonesia masih mengandalkan ingatan untuk mengelola keuangan usaha tani mereka. Tanpa catatan yang jelas, sangat sulit untuk mengukur keuntungan nyata atau merencanakan musim tanam berikutnya secara efektif,” ujarnya.

Menurut Wiwik, penerapan akuntansi sederhana dapat menjadi langkah awal transformasi usaha tani dari aktivitas tradisional menuju bisnis agribisnis yang lebih profesional. Selain meningkatkan kemampuan pengelolaan keuangan, pencatatan yang baik juga dapat membantu petani mengambil keputusan berdasarkan data.

Ia menilai perubahan pola pikir menjadi aspek penting dalam pengembangan sektor pertanian. Petani tidak hanya dituntut mampu bercocok tanam, tetapi juga perlu memahami aspek bisnis agar usaha yang dijalankan dapat berkembang secara berkelanjutan.

Melalui pencatatan keuangan sederhana, petani dapat mengetahui secara rinci penggunaan modal usaha, mulai dari pembelian benih, pupuk, hingga pestisida. Selain itu, petani juga dapat menghitung laba secara lebih akurat setelah memperhitungkan seluruh biaya produksi, termasuk biaya tenaga kerja.

Manfaat lainnya adalah membantu petani menyusun perencanaan usaha berdasarkan data historis. Dengan informasi yang terdokumentasi, petani dapat menentukan waktu tanam yang tepat maupun memilih komoditas yang memiliki prospek pasar lebih baik.

Melalui kegiatan ini, FEB Unair berharap kemampuan literasi keuangan petani terus meningkat sehingga usaha tani tidak hanya bertahan, tetapi juga mampu tumbuh menjadi sektor agribisnis yang lebih modern, efisien, dan berdaya saing.

Editor : Lugas Rumpakaadi
#Literasi Keuangan Petani #FEB Unair #Petani Cabai Jombang #Akuntansi Sederhana #pengabdian masyarakat