Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Nilai TKA Matematika Siswa Banyuwangi Masih di Kisaran 40, Dispendik Sebut Soal Baru dan Sulit Jadi Faktor Utama

M Ksatria Raya • Senin, 1 Juni 2026 | 04:09 WIB
BERLATIH: Siswa SDN Kepatihan mengikuti tryout sebagai salah satu persiapan menghadapi TKA pada pertengahan April lalu. (Ramada Kusuma/Radar Banyuwangi)
BERLATIH: Siswa SDN Kepatihan mengikuti tryout sebagai salah satu persiapan menghadapi TKA pada pertengahan April lalu. (Ramada Kusuma/Radar Banyuwangi)

Rata-rata Bahasa Indonesia Capai 63, Kesenjangan Nilai dan Rendahnya Motivasi Belajar Ikut Pengaruhi Hasil Tes Kemampuan Akademik

RADARBANYUWANGI.ID – Hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) jenjang SD dan SMP di Banyuwangi memunculkan catatan penting bagi dunia pendidikan. Rata-rata nilai Matematika siswa masih berada di kisaran angka 40, sementara nilai Bahasa Indonesia berada di angka sekitar 63.

Capaian tersebut menjadi sorotan karena menunjukkan masih adanya tantangan besar dalam penguatan kompetensi literasi dan numerasi siswa. Dinas Pendidikan (Dispendik) Banyuwangi menilai rendahnya rata-rata hasil TKA dipengaruhi sejumlah faktor, mulai dari karakteristik soal yang lebih kompleks hingga motivasi siswa yang belum optimal dalam mengikuti ujian.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Bidang SMP Dispendik Banyuwangi Muisman mengatakan, hasil TKA tahun ini memperlihatkan adanya variasi nilai yang cukup tinggi di antara peserta.

Menurutnya, terdapat kesenjangan yang lebar antara siswa dengan capaian nilai tinggi dan siswa yang memperoleh nilai sangat rendah. Kondisi tersebut berdampak langsung terhadap rata-rata hasil ujian secara keseluruhan.

“Hasil rata-rata nilai ujian TKA dipengaruhi beberapa faktor seperti varians nilainya terlalu tinggi yang artinya sebaran nilainya terlalu bervariasi,” ujarnya.

Ia menjelaskan, sebagian siswa mampu meraih nilai yang sangat baik, namun di sisi lain terdapat pula siswa yang memperoleh nilai jauh di bawah rata-rata.

Ketimpangan itulah yang membuat nilai rata-rata TKA, khususnya Matematika, masih belum sesuai harapan.

“Ada beberapa anak yang nilainya tinggi, tapi juga ada anak yang nilainya rendah sekali. Sehingga perlu dievaluasi tentang kompetensi murid di bidang matematika dan menggunakan komputer,” katanya.

Menurut Muisman, hasil tersebut menjadi bahan evaluasi bagi sekolah dan pemerintah daerah untuk memperkuat kemampuan dasar siswa, terutama pada aspek numerasi yang selama ini menjadi tantangan di berbagai daerah.

Selain kemampuan akademik, penguasaan teknologi juga dinilai perlu mendapat perhatian. Sebab pelaksanaan asesmen berbasis komputer menuntut siswa tidak hanya memahami materi, tetapi juga mampu beradaptasi dengan perangkat digital yang digunakan saat ujian.

Sementara itu, Kepala Bidang SD Dispendik Banyuwangi Sutikno menilai hasil TKA tidak bisa dilepaskan dari karakteristik soal yang relatif baru bagi sebagian besar siswa.

Ia menjelaskan bahwa model soal TKA berbeda dengan pola evaluasi yang selama ini banyak digunakan di sekolah. Soal-soal tersebut dirancang untuk mengukur kemampuan berpikir kritis, bernalar, serta kemampuan memecahkan masalah, bukan sekadar menghafal materi pelajaran.

“Ada banyak faktor. Menurut saya, soal TKA adalah hal baru bagi anak-anak dan memang bobotnya sulit. Soalnya juga setara dengan PISA,” ujarnya.

PISA atau Programme for International Student Assessment merupakan standar asesmen internasional yang digunakan untuk mengukur kemampuan literasi, matematika, dan sains siswa dalam menyelesaikan persoalan kehidupan nyata.

Karakter soal yang menuntut kemampuan analisis dan penalaran mendalam membuat banyak siswa belum terbiasa menghadapi tipe pertanyaan semacam itu.

Sutikno mengakui bahwa selama ini pembelajaran di sekolah lebih banyak difokuskan pada penguasaan materi sesuai kurikulum dan target capaian pembelajaran di kelas.

Akibatnya, latihan soal yang berorientasi pada kemampuan bernalar dan pemecahan masalah kompleks belum menjadi fokus utama dalam proses pembelajaran sehari-hari.

“Untuk latihan soal difokuskan pada pembelajaran kita serta kurang ditekankan pada penyelesaian soal TKA,” katanya.

Selain faktor teknis dan akademik, aspek motivasi belajar siswa juga dinilai berpengaruh terhadap hasil yang diperoleh.

Berbeda dengan ujian yang menjadi penentu kelulusan atau kenaikan jenjang pendidikan, hasil TKA tidak memiliki konsekuensi langsung terhadap status akademik siswa. Kondisi tersebut membuat sebagian peserta kurang memiliki dorongan kuat untuk mempersiapkan diri secara maksimal.

“Hasil dari TKA tidak menentukan kelulusan sehingga banyak siswa yang kurang fokus belajarnya ataupun motivasinya rendah,” tutur Sutikno.

Meski demikian, Dispendik Banyuwangi menilai hasil TKA tetap memiliki nilai strategis sebagai alat pemetaan kualitas pendidikan. Melalui hasil asesmen tersebut, sekolah dapat mengetahui kompetensi yang masih perlu diperkuat, baik pada bidang literasi maupun numerasi.

Ke depan, hasil TKA akan menjadi salah satu dasar evaluasi untuk menyusun strategi pembelajaran yang lebih adaptif terhadap kebutuhan siswa. Penguatan kemampuan berpikir kritis, literasi membaca, numerasi, serta pemanfaatan teknologi pembelajaran diproyeksikan menjadi fokus utama agar capaian siswa Banyuwangi dapat meningkat pada asesmen berikutnya.

Dengan semakin berkembangnya model evaluasi berbasis kompetensi seperti TKA, sekolah dituntut tidak hanya mengajarkan materi pelajaran, tetapi juga membiasakan siswa menghadapi soal-soal yang menuntut penalaran, analisis, dan kemampuan memecahkan masalah secara komprehensif. (ray/sgt)

Editor : Ali Sodiqin
#hasil TKA Banyuwangi 2026 #nilai TKA matematika Banyuwangi #soal TKA setara PISA #literasi dan numerasi siswa #Dispendik banyuwangi