RADARBANYUWANGI.ID - Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) resmi mengumumkan hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) jenjang SD/MI dan SMP/MTs tahun 2026 pada Selasa (26/5/2026).
Hasil evaluasi nasional tersebut menunjukkan capaian kemampuan literasi bahasa Indonesia siswa masih jauh lebih baik dibanding kemampuan numerasi dan matematika.
Temuan ini langsung menjadi perhatian serius pemerintah karena dinilai mencerminkan masih lemahnya kemampuan berpikir logis, penalaran matematis, dan pemecahan masalah peserta didik di Indonesia.
Kepala Badan Kebijakan Pendidikan Dasar dan Menengah (BKPDM) Kemendikdasmen, Toni Toharudin, menegaskan hasil TKA 2026 menjadi alarm penting bagi dunia pendidikan nasional agar penguatan kemampuan numerasi dilakukan lebih masif dalam proses pembelajaran sehari-hari.
“Ini menjadi sinyal penting bahwa penguatan kemampuan berpikir logis, kemudian penalaran matematis, dan juga pemecahan masalah itu masih perlu terus kita harus perkuat di dalam proses pembelajaran sehari-hari di setiap satuan pendidikan,” ujar Toni dalam Taklimat Media Hasil TKA jenjang SD/MI dan SMP/MTs di Gedung E Kompleks Kemendikbud, Senayan, Jakarta Pusat.
Nilai Bahasa Indonesia SD-SMP Lebih Tinggi
Kemendikdasmen mencatat rerata nilai TKA mata pelajaran Bahasa Indonesia pada jenjang SD maupun SMP berada di atas angka 60. Capaian tersebut bahkan disebut lebih baik dibanding hasil TKA jenjang SMA/SMK sederajat.
Kepala Pusat Asesmen Pendidikan Kemendikdasmen, Rahmawati, membenarkan bahwa kemampuan literasi siswa Indonesia relatif lebih baik dibanding kemampuan matematika.
“Bahasa Indonesia, capaiannya, baik SMP/sederajat maupun SD/sederajat, ini hasilnya lebih tinggi dibandingkan hasil TKA jenjang SMA/MA/SMK/sederajat,” jelas Rahmawati.
Adapun rerata nilai TKA Bahasa Indonesia tahun 2026 yaitu:
-
SD/MI sederajat: 60,14
-
SMP/MTs sederajat: 60,83
Menurut Rahmawati, salah satu faktor yang membuat hasil Bahasa Indonesia lebih tinggi karena proses sosialisasi dan kesiapan siswa yang dinilai lebih matang dibanding jenjang lain.
“Maka hasilnya bisa kita lihat memang lebih tinggi dibandingkan jenjang SMA/MA/SMK,” imbuhnya.
Nilai Matematika Masih Jadi PR Besar
Berbeda dengan capaian literasi, hasil TKA matematika justru menunjukkan angka yang masih relatif rendah. Nilai rerata nasional bahkan masih berada di kisaran 40.
Rinciannya yakni:
-
SD/MI sederajat: 43,41
-
SMP/MTs sederajat: 40,34
Angka tersebut memperlihatkan kemampuan numerasi siswa Indonesia masih menjadi pekerjaan rumah besar bagi pemerintah maupun satuan pendidikan.
Kemendikdasmen menilai rendahnya capaian matematika tidak hanya berkaitan dengan kemampuan menghitung, tetapi juga kemampuan berpikir sistematis, analitis, hingga pemecahan masalah dalam kehidupan sehari-hari.
Kondisi tersebut dikhawatirkan berdampak terhadap kesiapan generasi muda menghadapi tantangan industri, teknologi, dan transformasi digital di masa depan.
Pengumuman TKA Tidak Bisa Diakses Mandiri
Berbeda dengan pengumuman seleksi masuk perguruan tinggi yang dapat diakses langsung oleh peserta, hasil TKA 2026 tidak dibuka secara mandiri kepada siswa.
Kemendikdasmen menjelaskan hasil TKA terlebih dahulu disalurkan kepada Dinas Pendidikan dan Kantor Wilayah Kementerian Agama untuk diverifikasi sebelum diteruskan kepada sekolah.
Setelah proses verifikasi selesai, sekolah dapat mengunduh Daftar Kolektif Hasil TKA (DKHTKA) melalui laman resmi TKA Kemendikdasmen.
Pemerintah juga memperbolehkan sekolah menyampaikan hasil tersebut kepada peserta didik melalui Surat Hasil TKA (SHTKA) agar distribusi nilai lebih tertib dan akurat.
TKA Jadi Peta Kualitas Pendidikan Nasional
Tes Kemampuan Akademik kini menjadi salah satu instrumen penting pemerintah dalam memetakan kualitas pendidikan nasional, terutama pada aspek literasi dan numerasi.
Hasil TKA juga menjadi bahan evaluasi pemerintah untuk memperbaiki metode pembelajaran di sekolah sekaligus memperkuat kualitas guru dan kurikulum.
Kemendikdasmen menegaskan penguatan numerasi akan menjadi fokus utama dalam kebijakan pendidikan mendatang agar kesenjangan kemampuan antara literasi dan matematika tidak semakin melebar.
Selain itu, pemerintah mendorong sekolah tidak hanya mengejar capaian akademik semata, tetapi juga membangun pola belajar yang melatih kemampuan berpikir kritis, logis, kreatif, dan adaptif.
Di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan, kemampuan numerasi dinilai menjadi kompetensi dasar yang sangat penting untuk masa depan generasi muda Indonesia. (*)
Editor : Ali Sodiqin