RADARBANYUWANGI.ID – Gema takbir menjadi salah satu syiar paling khas saat menyambut Idul Fitri maupun Idul Adha. Suara lantunan “Allahu Akbar” menggema dari masjid, musala, hingga surau kecil di pelosok desa dan perkotaan.
Tak hanya orang dewasa, anak-anak pun ikut meramaikan malam takbiran dengan penuh suka cita. Namun di balik tradisi yang terus hidup di tengah masyarakat itu, masih banyak umat Islam yang belum memahami perbedaan takbir pada Idul Fitri dan Idul Adha.
Padahal, dalam kajian fikih Islam, terdapat dua jenis takbir yang memiliki waktu pelaksanaan dan ketentuan berbeda, yakni takbir mursal dan takbir muqayyad.
Perbedaan inilah yang kerap membuat masyarakat awam rancu saat mengamalkan takbir di dua hari raya besar umat Islam tersebut.
Takbir Mursal dan Muqayyad, Apa Bedanya?
Dilansir dari laman maalysitubondo.ac.id, dalam ilmu fikih, para ulama membagi takbir hari raya menjadi dua kategori utama.
Pertama adalah takbir mursal, sedangkan kedua disebut takbir muqayyad.
Keduanya sama-sama sunnah untuk diamalkan, tetapi memiliki perbedaan mendasar dalam waktu dan cara pelaksanaannya.
Takbir Mursal: Takbir Umum di Dua Hari Raya
Takbir mursal adalah takbir yang tidak terikat dengan waktu salat tertentu.
Artinya, umat Islam boleh melafalkannya kapan saja selama waktu yang disunnahkan masih berlangsung.
Takbir ini biasa dikumandangkan di masjid, rumah, jalan, kendaraan, maupun tempat umum lainnya sejak malam hari raya.
Takbir mursal berlaku pada dua hari raya sekaligus, baik Idul Fitri maupun Idul Adha.
Waktu pelaksanaannya dimulai sejak matahari terbenam pada malam hari raya hingga imam memasuki masjid untuk melaksanakan salat Id.
Kesunnahan takbir mursal berlaku bagi laki-laki dan perempuan, baik yang sedang mukim maupun musafir.
Namun khusus bagi jamaah haji yang sedang berihram, para ulama menganjurkan untuk memperbanyak talbiyah dibanding takbir.
Sebab syiar utama dalam ibadah haji adalah bacaan talbiyah.
Dasar Hadis Takbir Mursal
Kesunnahan takbir mursal didasarkan pada riwayat sahabat Nabi Muhammad SAW.
Dalam hadis riwayat Imam Bukhari disebutkan:
“Umar RA bertakbir di tendanya di Mina, lalu penduduk masjid mendengarnya dan mereka pun ikut bertakbir. Orang-orang di pasar juga ikut bertakbir hingga Mina bergemuruh oleh suara takbir.”
Riwayat tersebut menunjukkan bahwa takbir pada hari raya dilakukan secara luas dan tidak terbatas hanya setelah salat.
Takbir Muqayyad Khusus Idul Adha
Berbeda dengan takbir mursal, takbir muqayyad merupakan takbir yang terikat dengan ibadah tertentu, yakni setelah salat.
Takbir ini disunnahkan dibaca usai salat fardu maupun salat sunnah, baik salat tunai (ada’) maupun qadha.
Takbir muqayyad hanya berlaku pada Hari Raya Idul Adha dan hari-hari Tasyrik.
Sementara pada Idul Fitri, takbir muqayyad tidak disyariatkan.
Karena dilakukan setelah salat, sebagian ulama menilai takbir muqayyad lebih utama dibanding takbir mursal.
Waktu Pelaksanaan Takbir Muqayyad
Takbir muqayyad dimulai sejak Subuh hari Arafah pada 9 Dzulhijjah.
Kemudian berlanjut hingga terbenam matahari pada akhir hari Tasyrik, yakni 13 Dzulhijjah.
Artinya, umat Islam dianjurkan terus memperbanyak takbir setiap selesai salat selama empat hari penuh.
Tradisi ini menjadi salah satu pembeda utama antara takbir Idul Adha dan Idul Fitri.
Mengapa Banyak Orang Masih Salah Paham?
Masih banyak masyarakat yang mengira perbedaan takbir Idul Fitri dan Idul Adha hanya terletak pada momentum hari rayanya.
Padahal dalam kajian fikih, perbedaannya justru terletak pada waktu pelaksanaan dan keterkaitannya dengan ibadah tertentu.
Takbir mursal dilakukan secara umum dan tidak terikat salat.
Sedangkan takbir muqayyad memiliki waktu khusus setelah salat dan hanya berlaku pada Idul Adha.
Karena itu, umat Islam dianjurkan memahami dua jenis takbir tersebut agar ibadah yang dilakukan sesuai tuntunan syariat.
Gema Takbir Jadi Syiar Islam
Terlepas dari perbedaan hukumnya, takbir tetap menjadi salah satu syiar Islam yang penuh makna.
Lafal takbir merupakan bentuk pengagungan kepada Allah SWT sekaligus ungkapan rasa syukur atas datangnya hari raya.
Di Indonesia sendiri, tradisi malam takbiran masih terus hidup dan menjadi bagian penting budaya masyarakat Muslim.
Mulai dari takbir keliling, gema beduk, hingga lantunan takbir bersama di masjid menjadi simbol kebersamaan umat dalam menyambut hari kemenangan. (*)
Editor : Ali Sodiqin