Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

75 Siswa TK di Banyuwangi Diajak Telusuri Jejak Air Bersih, Belajar dari Sumber Gedor hingga Tandon Peninggalan Belanda

M Ksatria Raya • Jumat, 22 Mei 2026 | 10:00 WIB
Dirut PUDAM Banyuwangi Abd Rahman turun langsung menyapa dan mendampingi para siswa TKN Model Banyuwangi saat berkunjung ke Sumber Gedor pada Rabu (20/5). (M Ksatria Raya/Radar Banyuwangi)
Dirut PUDAM Banyuwangi Abd Rahman turun langsung menyapa dan mendampingi para siswa TKN Model Banyuwangi saat berkunjung ke Sumber Gedor pada Rabu (20/5). (M Ksatria Raya/Radar Banyuwangi)

RADARBANYUWANGI.ID – Puluhan anak Taman Kanak-Kanak tampak berlarian kecil sambil memandang takjub aliran air dan bangunan tua yang berdiri kokoh. Di tangan mungil mereka, rasa penasaran tentang dari mana air di rumah berasal terjawab lewat pengalaman yang tak biasa. Sebanyak 75 siswa Taman Kanak-Kanak Negeri (TKN) Model Banyuwangi diajak menyusuri perjalanan air bersih dari sumber hingga ke rumah warga melalui Program Wisata Edukasi Sejak Usia Dini (Wis Esa Sik Adi).

Program yang dirancang sebagai pembelajaran luar kelas itu memberi pengalaman langsung kepada anak-anak untuk memahami pentingnya air bersih, pelestarian lingkungan, hingga sejarah infrastruktur air di Banyuwangi.

Pada Rabu (20/5), rombongan siswa mengunjungi Sumber Gedor di Kelurahan Gombengsari, Kecamatan Kalipuro. Lokasi ini menjadi salah satu sumber air yang selama bertahun-tahun menyuplai kebutuhan masyarakat Banyuwangi.

Namun kunjungan tersebut bukan sekadar wisata biasa. Di lokasi, para siswa mendapat pembelajaran langsung dari berbagai instansi terkait. Mulai dari pengenalan proses penyediaan air bersih oleh Perusahaan Umum Daerah Air Minum (PUDAM), edukasi pentingnya menjaga kesehatan melalui air bersih dari Dinas Kesehatan (Dinkes), hingga pemahaman pelestarian vegetasi sumber air oleh Dinas Lingkungan Hidup (DLH).

Anak-anak tampak antusias menyimak setiap penjelasan. Bagi mereka, pengalaman melihat langsung sumber mata air jauh lebih menarik dibanding sekadar mempelajari gambar di buku pelajaran.

Perjalanan edukasi kemudian berlanjut menuju tandon air minum PUDAM di Kalipuro dan berakhir di tandon Penataban, Kecamatan Giri.

Lokasi terakhir justru menjadi magnet tersendiri bagi para peserta. Sebab selain menyaksikan proses penampungan air sebelum dialirkan ke rumah warga, mereka juga diajak melihat bangunan tua peninggalan kolonial yang masih berdiri hingga kini.

Didampingi petugas PUDAM, para siswa berkeliling menyusuri bangunan yang telah menjadi bagian sejarah pelayanan air bersih Banyuwangi.

Direktur Utama PUDAM Banyuwangi, Abd Rahman, mengatakan kawasan Sumber Gedor hingga tandon Penataban memiliki nilai sejarah panjang dalam sistem penyediaan air bersih di daerah.

Menurutnya, bangunan tersebut merupakan peninggalan Belanda yang hingga kini masih dipertahankan.

"Dari Sumber Gedor sampai tandon di Kelurahan Penataban merupakan bangunan peninggalan Belanda yang terus kita rawat dan jaga hingga saat ini," ujarnya.

Rahman menjelaskan tandon di Penataban telah berdiri sejak 1927 dan menjadi bagian penting perjalanan layanan air bersih di Banyuwangi.

Tak hanya mengenalkan sejarah, program tersebut juga dirancang untuk mengajak anak lebih dekat dengan pembelajaran berbasis lingkungan.

Menurut Rahman, pembelajaran langsung di lapangan jauh lebih efektif dibanding membiarkan anak menghabiskan banyak waktu di depan layar gawai.

"Ini bagaimana peran kita sebagai orang tua untuk menyelamatkan anak-anak dari kecanduan gadget serta bisa belajar dari alam, terutama proses air dari sumber hingga bisa dikonsumsi masyarakat," katanya.

Selain bangunan peninggalan Belanda, di kompleks Tandon Penataban juga terdapat bangunan tua lain yang diresmikan pada 21 Februari 1973 oleh Mayjen TNI AD Dandi Kadarsan.

Bangunan tersebut hingga kini masih menjadi bagian dari sistem layanan air bersih PUDAM Banyuwangi.

Kepala TKN Model Banyuwangi, Sulastri, mengatakan kegiatan semacam itu memberikan pengalaman belajar berbeda bagi siswa karena anak dapat melihat langsung proses yang selama ini hanya mereka ketahui dari kehidupan sehari-hari.

Menurutnya, rasa ingin tahu siswa sangat tinggi selama mengikuti kegiatan.

"Semoga Program Wis Esa Sik Adi ini terus berlanjut serta memberikan edukasi kepada para siswa dari proses air yang nantinya kita manfaatkan setiap hari," ujarnya.

Antusiasme juga dirasakan para siswa. Adit, salah satu murid kelas A1 TKN Model, mengaku senang dapat melihat secara langsung proses perjalanan air hingga sampai ke rumah warga.

"Senang bisa keliling lihat proses air yang kita minum di rumah," ujarnya polos.

Program Wis Esa Sik Adi tidak sekadar membawa anak-anak berwisata. Di balik perjalanan itu terselip pesan besar tentang pentingnya menjaga sumber air, mencintai lingkungan, dan mengenalkan sejarah daerah sejak usia dini.

Di tengah era digital saat anak semakin dekat dengan layar, pembelajaran seperti ini menjadi cara berbeda untuk mengajak generasi muda kembali belajar dari alam. (ray/sgt)

Editor : Ali Sodiqin
#Sumber Gedor Banyuwangi #wisata edukasi Banyuwangi #Wis Esa Sik Adi #TKN Model Banyuwangi #PUDAM Banyuwangi