RADARBANYUWANGI.ID – Tradisi literasi di Banyuwangi kembali mendapat panggung penting. Buku “Man Nahnu 6: Dari Banyuwangi Menyala Api Harapan Ibu Pertiwi” karya Direktur Jawa Pos Radar Banyuwangi (JP-RaBa), Samsudin Adlawi, bakal dibedah pagi ini, Selasa (20/5).
Kegiatan bedah buku tersebut digelar di aula Kantor Dinas Pendidikan (Dispendik) Banyuwangi mulai pukul 08.00 WIB dengan melibatkan ratusan guru dari berbagai wilayah di Banyuwangi.
Acara itu diproyeksikan bukan sekadar forum diskusi buku biasa. Lebih dari itu, bedah buku menjadi ruang refleksi intelektual untuk membangkitkan budaya membaca, memperkuat nalar kritis, dan memperluas cakrawala berpikir di tengah derasnya arus informasi digital.
Mengusung tema “Menghidupkan Tradisi Literasi, Memperkuat Nalar, dan Memperluas Cakrawala Pemikiran”, kegiatan tersebut akan menghadirkan dua pembicara utama, yakni Rektor Universitas Islam Cordoba Banyuwangi, Agus Trihartono, serta Pelaksana Tugas Kepala Dispendik Banyuwangi, Alfian.
Keduanya dijadwalkan mengupas isi buku yang memuat kumpulan tulisan Samsudin Adlawi selama periode Mei 2024 hingga September 2025.
Sebanyak 200 guru dari berbagai jenjang pendidikan dipastikan mengikuti kegiatan tersebut. Kehadiran para guru dinilai penting karena mereka menjadi ujung tombak penguatan budaya literasi di lingkungan sekolah.
Buku Man Nahnu 6 sendiri memuat 76 tulisan dengan ragam tema yang luas dan kontekstual. Tulisan pembuka berjudul “Menegakkan Akal Sehat Pilkada”, sementara tulisan penutup bertajuk “Dari Banyuwangi Menyala Api Harapan Ibu Pertiwi”.
Di antara dua tulisan tersebut, pembaca diajak menyelami beragam persoalan sosial, pendidikan, birokrasi, olahraga, seni budaya, pariwisata, hingga kisah prestasi pelajar Banyuwangi yang dikemas dengan sudut pandang reflektif dan kritis.
Tidak hanya menyajikan opini, buku tersebut juga merekam denyut perubahan Banyuwangi dalam berbagai sektor selama beberapa tahun terakhir.
Karena itu, bedah buku ini dipandang relevan untuk memperkuat tradisi berpikir kritis di kalangan tenaga pendidik dan masyarakat umum.
Dalam konteks pendidikan modern, budaya literasi tidak lagi sekadar kemampuan membaca dan menulis. Literasi juga menyangkut kemampuan memahami realitas sosial, menyaring informasi, hingga membangun kesadaran kolektif terhadap masa depan daerah dan bangsa.
Kegiatan bedah buku ini diharapkan menjadi momentum membangkitkan kembali budaya diskusi intelektual di lingkungan pendidikan Banyuwangi.
Selain itu, forum tersebut juga menjadi ruang untuk mempertemukan dunia jurnalistik, pendidikan, dan akademik dalam satu panggung pemikiran yang konstruktif.
Melalui karya Man Nahnu 6, Samsudin Adlawi mencoba menghadirkan Banyuwangi bukan hanya sebagai daerah yang berkembang secara fisik, tetapi juga sebagai ruang tumbuhnya gagasan, harapan, dan kesadaran sosial yang terus menyala.
Spirit itulah yang kemudian dituangkan dalam judul besar buku: Dari Banyuwangi Menyala Api Harapan Ibu Pertiwi. (*)
Editor : Ali Sodiqin