RADARBANYUWANGI.ID - Pemkab Banyuwangi membuat terobosan baru dalam Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB) 2026. Anak-anak penghafal Al-Qur’an kini mendapat jalur istimewa untuk masuk sekolah favorit.
Tak tanggung-tanggung, hafalan tujuh juz Al-Qur’an bahkan disetarakan dengan prestasi juara tingkat nasional dan berpeluang menjadi “golden ticket” diterima di sekolah tujuan melalui jalur prestasi non-akademik.
Kebijakan progresif tersebut diumumkan Dinas Pendidikan (Dispendik) Banyuwangi sebagai bentuk penghargaan terhadap prestasi keagamaan sekaligus penguatan pendidikan karakter di lingkungan sekolah.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dispendik Banyuwangi Alfian menegaskan, program ini menjadi bukti bahwa kemampuan tahfidz memiliki nilai prestasi yang setara dengan capaian kompetisi formal.
“Untuk yang hafal tiga juz kita hargai sama seperti juara 1 tingkat kabupaten. Sedangkan yang hafal lima juz seperti juara provinsi serta yang hafal tujuh juz sama seperti juara tingkat nasional yang insya-Allah menjadi golden ticket bagi anak-anak penghafal Al-Qur’an,” ujarnya.
Hafalan Al-Qur’an Kini Jadi Jalur Prestasi Resmi
Kebijakan tersebut menjadi angin segar bagi ribuan siswa madrasah, TPQ, pondok pesantren, maupun sekolah umum yang selama ini serius mendalami hafalan Al-Qur’an.
Dalam skema baru SPMB Banyuwangi 2026, capaian tahfidz resmi dimasukkan dalam kategori jalur prestasi non-akademik.
Artinya, hafalan Al-Qur’an kini memiliki posisi setara dengan prestasi olahraga, seni, maupun kejuaraan lainnya.
Dispendik Banyuwangi menetapkan klasifikasi penghargaan sebagai berikut:
-
Hafalan 3 juz setara juara 1 tingkat kabupaten
-
Hafalan 5 juz setara juara tingkat provinsi
-
Hafalan 7 juz setara juara tingkat nasional
Khusus hafalan tujuh juz, peluang diterima di sekolah favorit disebut sangat terbuka karena bobot penilaiannya tertinggi dalam jalur prestasi non-akademik.
Kebijakan ini pun langsung mendapat respons positif dari kalangan orang tua dan lembaga pendidikan berbasis agama.
Jadi Bentuk Penghargaan untuk Prestasi Keagamaan
Menurut Alfian, jalur tahfidz sebenarnya mulai dibuka sejak tahun lalu. Namun tahun ini regulasinya diperkuat dan diperjelas agar semakin memberi ruang bagi siswa berprestasi di bidang keagamaan.
Dispendik menilai kemampuan menghafal Al-Qur’an membutuhkan disiplin tinggi, konsistensi, serta ketekunan luar biasa sehingga layak mendapatkan apresiasi khusus.
Selain itu, program tersebut juga diharapkan mampu mendorong lahirnya generasi muda Banyuwangi yang unggul secara akademik sekaligus kuat secara spiritual.
“Ini bagian dari penghargaan kepada anak-anak yang punya capaian luar biasa di bidang keagamaan,” terang Alfian.
Jalur Prestasi Kini Dibagi Lebih Adil
Selain menghadirkan jalur tahfidz, Dispendik Banyuwangi juga melakukan evaluasi besar terhadap sistem jalur prestasi dalam SPMB tahun ini.
Jika sebelumnya prestasi akademik dan non-akademik bercampur dalam satu kuota, kini pembagiannya dibuat lebih proporsional.
Total kuota jalur prestasi ditetapkan sebesar 10 persen dengan rincian:
-
5 persen untuk prestasi akademik
-
5 persen untuk prestasi non-akademik
Langkah tersebut dilakukan karena pada pelaksanaan sebelumnya jalur non-akademik mendominasi sehingga dinilai perlu penyesuaian.
“Ini perbaikan juknis yang lama karena dulu tidak dibedakan untuk jalur prestasi lomba. Karena paling banyak non-akademik, jadi sekarang ada sendiri-sendiri untuk prestasi akademik dan non-akademik,” jelas Alfian.
Dengan sistem baru ini, peluang siswa dari berbagai bidang prestasi diharapkan menjadi lebih seimbang dan kompetitif.
Dorong Semangat Generasi Qurani di Banyuwangi
Kebijakan afirmatif terhadap penghafal Al-Qur’an dinilai bukan sekadar strategi penerimaan siswa baru, tetapi juga bagian dari upaya membangun kultur pendidikan yang lebih berkarakter.
Di tengah tantangan era digital dan menurunnya minat generasi muda terhadap pendidikan agama, Banyuwangi justru memilih memberi panggung lebih besar bagi para hafidz dan hafidzah.
Program ini diyakini akan memacu semangat siswa untuk lebih dekat dengan Al-Qur’an sejak usia dini.
Bukan hanya demi masuk sekolah favorit, tetapi juga membentuk mental disiplin, akhlak, dan kecerdasan spiritual.
Dengan skema baru tersebut, SPMB Banyuwangi 2026 dipastikan bakal menjadi salah satu sistem penerimaan siswa paling menarik di Jawa Timur karena memadukan prestasi akademik, non-akademik, dan nilai religius secara seimbang. (*)
Editor : Ali Sodiqin