RADARBANYUWANGI.ID – Gerakan sadar zakat, infak, dan sedekah di kalangan generasi muda mulai diperkuat. Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Kabupaten Banyuwangi menggandeng dua kampus besar di wilayah Banyuwangi Selatan untuk menggelorakan Gerakan Aku Suka Zakat, Infak, dan Sedekah (GASZIS) di lingkungan perguruan tinggi.
Kolaborasi itu ditandai dengan penandatanganan memorandum of understanding (MoU) bersama Universitas Islam KH Mukhtar Syafa’at (UIMSYA) dan Universitas Islam Cordoba (UI Cordoba), Rabu (13/5). Langkah tersebut menjadi upaya memperluas literasi zakat sekaligus membangun budaya kepedulian sosial di lingkungan akademik.
Penandatanganan pertama dilakukan Ketua Baznas Banyuwangi, Drs. Dwi Yanto MAP bersama Rektor UIMSYA, Ahmad Munib Syafa'at, di ruang pertemuan kampus pada Rabu pagi. Momen tersebut juga diikuti penyerahan Surat Keputusan (SK) Tim GASZIS kepada ketua tim yang telah dibentuk.
Rektor UIMSYA menilai kerja sama tersebut bukan sekadar formalitas kelembagaan, tetapi bentuk implementasi nyata Tri Dharma Perguruan Tinggi, terutama pada aspek pengabdian masyarakat berbasis nilai keagamaan.
Menurutnya, kampus memiliki tanggung jawab membentuk generasi unggul yang tidak hanya kuat secara akademik, tetapi juga memiliki sensitivitas sosial yang tinggi.
“UIMSYA tidak hanya mencetak intelektual yang cerdas secara akademik, tetapi juga pribadi yang memiliki kepekaan sosial melalui pembiasaan zakat, infak, dan sedekah yang terorganisir dengan baik,” ujarnya.
Usai penandatanganan di UIMSYA, agenda serupa dilanjutkan di kampus UI Cordoba, Kecamatan Tegalsari. Ketua Baznas Banyuwangi kembali menandatangani MoU dengan Rektor UI Cordoba, Agus Trihartono.
Dalam sambutannya, Profesor Agus menegaskan pihak kampus siap menjadi mitra aktif Baznas dalam menyosialisasikan serta menggerakkan program GASZIS kepada civitas akademika.
“Kami siap berkolaborasi dan bersinergi menjadi agensi Baznas untuk membantu sosialisasi dan menggerakkan program GASZIS di kampus kami,” tegasnya.
Ketua Baznas Banyuwangi, Dwi Yanto, menyampaikan apresiasi atas antusiasme dua kampus tersebut. Menurutnya, lingkungan pendidikan memiliki potensi besar dalam membangun ekosistem zakat yang produktif apabila dikelola secara profesional dan transparan.
Potensi tersebut tidak hanya berkaitan dengan penghimpunan dana zakat, infak, dan sedekah, tetapi juga dapat menjadi sarana pendidikan karakter dan solidaritas sosial bagi mahasiswa.
Dwi menegaskan, Baznas akan memberikan pendampingan terhadap implementasi program GASZIS agar manfaatnya dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat.
Selain itu, program tersebut juga berpeluang membuka akses bantuan pendidikan bagi mahasiswa dari keluarga kurang mampu.
“Baznas berkomitmen memberikan pendampingan dan penyaluran program bantuan secara tepat sasaran, termasuk potensi beasiswa pendidikan bagi mahasiswa yang membutuhkan,” katanya.
Kolaborasi antara Baznas dan perguruan tinggi dinilai menjadi strategi baru untuk membangun kebiasaan berbagi sejak dini. Dengan keterlibatan mahasiswa dan dosen, GASZIS diharapkan tidak hanya menjadi program sosial, tetapi juga gerakan kolektif yang tumbuh menjadi budaya di lingkungan kampus.
Ke depan, sinergi serupa diproyeksikan terus diperluas agar kesadaran berzakat di kalangan generasi muda semakin meningkat dan berdampak pada penguatan kesejahteraan masyarakat. (*)
Editor : Ali Sodiqin