Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Putus Rantai Kecanduan Layar, SMA-SMK Banyuwangi Batasi Ketat HP Siswa di Kelas

Ali Sodiqin • Jumat, 15 Mei 2026 | 22:20 WIB
Eko Budi Santosa, Kepala Cabang Dispendik Jatim Wilayah Banyuwangi.
Eko Budi Santosa, Kepala Cabang Dispendik Jatim Wilayah Banyuwangi.

RADARBANYUWANGI.ID - Kebiasaan siswa menatap layar ponsel selama jam sekolah perlahan mulai dibatasi di Banyuwangi. Seluruh SMA dan SMK di bawah naungan Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur kini resmi menerapkan kebijakan pembatasan penggunaan gadget di lingkungan sekolah.

Langkah ini dilakukan untuk mengurangi ketergantungan siswa terhadap telepon genggam sekaligus menghidupkan kembali interaksi sosial yang dinilai mulai memudar akibat dominasi penggunaan gadget di kalangan pelajar.

Kepala Cabang Dinas Pendidikan (Dispendik) Jawa Timur Wilayah Banyuwangi, Eko Budi Santosa, mengatakan kebijakan tersebut kini diterapkan secara menyeluruh di SMA dan SMK se-Banyuwangi.

Dalam praktiknya, siswa diwajibkan menyimpan ponsel mereka di tempat khusus yang telah disediakan sekolah selama proses pembelajaran berlangsung.

“Setiap pelajaran, ponsel diletakkan di tempat yang sudah disiapkan sekolah. Bahkan saat istirahat juga dibatasi,” ujar Eko.

Kebijakan tersebut menjadi salah satu langkah serius dunia pendidikan untuk menekan dampak negatif penggunaan gadget berlebihan di lingkungan sekolah.


Siswa Mulai Aktif Bersosialisasi Tanpa Gadget

Menurut Eko, perubahan perilaku siswa mulai terlihat sejak aturan itu diterapkan.

Jika sebelumnya banyak siswa memilih sibuk bermain ponsel saat jam kosong atau waktu istirahat, kini interaksi langsung antarsiswa mulai kembali hidup.

Suasana sekolah dinilai menjadi lebih aktif dan komunikatif dibandingkan sebelumnya.

“Anak-anak sekarang mulai kembali bersosialisasi. Interaksi antarsiswa lebih terlihat dibanding sebelumnya,” katanya.

Fenomena tersebut menjadi sinyal positif bahwa pembatasan gadget mampu memulihkan pola komunikasi sosial di lingkungan pendidikan.


Gadget Dinilai Membuat Siswa Pasif dan Minim Aktivitas Fisik

Eko menjelaskan, selama ini gadget tidak hanya digunakan untuk kebutuhan belajar, tetapi juga menjadi sarana hiburan utama bagi siswa.

Akibatnya, banyak pelajar mulai mengurangi aktivitas fisik dan lebih memilih menghabiskan waktu dengan layar ponsel.

Hal tersebut dikhawatirkan berdampak pada kesehatan fisik maupun mental siswa dalam jangka panjang.

“Anak-anak hiburannya tidak lagi ke aktivitas fisik atau olahraga. Karena itu pembatasan ini diharapkan bisa membangun kesehatan fisik sekaligus psikis mereka,” tambahnya.


Program Larangan Gadget Dimulai Sejak Januari 2026

Program pembatasan gadget sebenarnya telah mulai disosialisasikan sejak Januari 2026 sebelum akhirnya resmi diterapkan di Banyuwangi pada Maret tahun ini.

Kebijakan tersebut terinspirasi dari langkah yang lebih dulu diterapkan oleh SMA Negeri 1 Glagah sejak 2024.

Sekolah tersebut menyediakan tempat penyimpanan khusus ponsel siswa selama jam belajar dan dinilai berhasil menciptakan lingkungan belajar yang lebih kondusif.

Keberhasilan program di SMAN 1 Glagah kemudian menjadi model penerapan di sekolah-sekolah lain di Banyuwangi.


Aturan Tetap Fleksibel untuk Kebutuhan Pembelajaran

Meski penggunaan gadget dibatasi, sekolah tetap memberikan kelonggaran apabila ponsel dibutuhkan sebagai media pembelajaran.

Guru tetap diperbolehkan meminta siswa menggunakan gadget untuk kepentingan tertentu di dalam kelas.

Selain itu, siswa juga diberi waktu khusus sekitar 10 menit untuk memeriksa ponsel mereka agar komunikasi penting dengan keluarga tetap terpantau.

Aturan Pembatasan Gadget di SMA-SMK Banyuwangi

Pendekatan tersebut dilakukan agar aturan tidak terasa terlalu kaku namun tetap efektif mengurangi ketergantungan siswa terhadap gadget.


Fokus Belajar dan Karakter Jadi Target Utama

Dinas Pendidikan Jawa Timur menilai pembatasan gadget bukan sekadar soal larangan membawa ponsel ke sekolah.

Lebih dari itu, kebijakan tersebut diarahkan untuk membentuk karakter siswa agar lebih fokus, disiplin, dan bijak menggunakan teknologi.

Dampak Positif Pembatasan Gadget di Sekolah

Eko berharap kebijakan ini dapat menjadi langkah awal membangun budaya belajar yang lebih sehat di tengah era digital yang semakin kompleks.

“Targetnya anak-anak lebih fokus, berkarakter, dan lebih bijak menggunakan gadget,” pungkasnya.


Banyuwangi Jadi Contoh Adaptasi Pendidikan di Era Digital

Kebijakan pembatasan gadget di sekolah menunjukkan bagaimana dunia pendidikan mulai beradaptasi menghadapi tantangan era digital.

Di satu sisi, teknologi tetap dibutuhkan sebagai bagian dari pembelajaran modern. Namun di sisi lain, penggunaan yang berlebihan juga memunculkan persoalan baru bagi perkembangan sosial dan mental pelajar.

Langkah SMA dan SMK di Banyuwangi ini menjadi upaya mencari titik seimbang antara kemajuan teknologi dan pembentukan karakter generasi muda.

Dan di tengah kebiasaan generasi digital yang nyaris tak lepas dari layar ponsel, sekolah kini mencoba mengembalikan satu hal yang mulai hilang: interaksi manusia secara nyata. (fre/sgt)

Editor : Ali Sodiqin
#pembatasan gadget sekolah #SMA Banyuwangi #SMK Banyuwangi #larangan HP di sekolah #dinas pendidikan jawa timur