RADARBANYUWANGI.ID – Menjelang datangnya bulan Dzulhijjah, umat Islam mulai bersiap menyambut deretan ibadah sunnah yang diyakini penuh keutamaan. Mulai puasa Dzulhijjah, puasa Tarwiyah, hingga puasa Arafah menjadi amalan yang banyak diburu karena pahala besar yang dijanjikan.
Namun di tengah semangat tersebut, muncul satu pertanyaan yang hampir selalu ramai dibahas setiap tahun: bolehkah menjalankan puasa sunnah Dzulhijjah jika masih memiliki utang puasa Ramadan?
Pertanyaan ini menjadi dilema bagi banyak Muslim. Di satu sisi, puasa Dzulhijjah hanya hadir setahun sekali dan memiliki keutamaan luar biasa. Di sisi lain, puasa Ramadan yang ditinggalkan tetap wajib diganti atau diqadha.
Perdebatan mengenai hal itu ternyata sudah lama dibahas para ulama dan melahirkan dua pandangan besar dalam fikih Islam.
Ulama Berbeda Pendapat
Sebagian ulama, terutama dari kalangan mazhab Syafi’i, berpendapat puasa sunnah sebaiknya tidak didahulukan jika seseorang masih memiliki utang puasa Ramadan.
Menurut pandangan ini, qadha Ramadan merupakan kewajiban yang harus menjadi prioritas utama sebelum menjalankan ibadah sunnah.
Mereka menilai mendahulukan puasa sunnah sementara kewajiban belum selesai dianggap kurang tepat dari sisi adab dan prioritas syariat.
Imam Nawawi dalam kitab Al-Majmu’ menjelaskan bahwa puasa sunnah yang dilakukan orang yang masih memiliki utang qadha tetap sah, namun hukumnya makruh atau kurang dianjurkan.
Meski demikian, pandangan berbeda datang dari mayoritas ulama lain, termasuk kalangan Hanafiyah dan Hanabilah.
Mereka membolehkan puasa sunnah dilakukan meski masih memiliki utang puasa Ramadan, selama masih ada waktu untuk melunasi qadha sebelum Ramadan berikutnya tiba.
Dasarnya, kewajiban qadha tidak harus diselesaikan seketika setelah Ramadan berakhir. Selama belum memasuki Ramadan berikutnya, seseorang masih dianggap memiliki waktu yang cukup untuk mengganti puasanya.
Karena itu, puasa sunnah di hari-hari utama seperti Dzulhijjah dinilai tetap boleh dilakukan dan tidak menghapus kewajiban qadha.
Mana yang Lebih Utama?
Para ulama menilai kedua pendapat tersebut sama-sama memiliki landasan kuat. Namun dalam praktiknya, banyak ulama menganjurkan sikap yang lebih hati-hati atau ihtiyath dengan mendahulukan qadha puasa Ramadan.
Apalagi jika jumlah utang puasa masih banyak dan waktu menuju Ramadan berikutnya semakin sempit.
Sebaliknya, jika utang puasa hanya sedikit dan masih ada waktu panjang untuk menggantinya, maka menjalankan puasa Dzulhijjah tetap diperbolehkan.
Dengan demikian, keputusan terbaik sangat bergantung pada kondisi masing-masing orang.
Jika ingin lebih aman dan tenang, mendahulukan qadha menjadi pilihan yang paling dianjurkan.
Namun jika mengikuti pendapat mayoritas ulama, puasa Dzulhijjah tetap sah dilakukan selama kewajiban qadha belum melewati batas waktu.
Bolehkah Gabung Niat?
Di tengah perdebatan itu, muncul solusi yang banyak dipilih umat Islam, yakni menggabungkan niat qadha Ramadan dengan puasa sunnah Dzulhijjah.
Sejumlah ulama kontemporer membolehkan hal tersebut.
Salah satunya disampaikan Muhammad bin Shalih al-Utsaimin atau Syaikh Ibnu Utsaimin yang menjelaskan bahwa seseorang boleh berpuasa qadha di hari-hari Dzulhijjah sambil berharap mendapatkan keutamaan puasa sunnahnya.
Dalam praktiknya, niat utama tetap diarahkan untuk mengganti puasa Ramadan karena sifatnya wajib.
Sedangkan niat mengambil keberkahan hari-hari Dzulhijjah menjadi niat tambahan.
Dengan cara itu, umat Islam tetap bisa mengejar keutamaan puasa Dzulhijjah tanpa mengabaikan kewajiban qadha Ramadan.
Meski begitu, ulama tetap mengingatkan agar sisa utang puasa tidak terus ditunda hingga mendekati Ramadan berikutnya.
Keutamaan Puasa Dzulhijjah
Sebagaimana diketahui, 10 hari pertama bulan Dzulhijjah termasuk waktu paling mulia dalam Islam.
Banyak hadis menyebut amal saleh pada hari-hari tersebut sangat dicintai Allah SWT, termasuk ibadah puasa sunnah.
Khusus puasa Arafah pada 9 Dzulhijjah, Rasulullah SAW menyebut keutamaannya dapat menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang bagi Muslim yang tidak sedang berhaji.
Karena itu, tak sedikit umat Islam berusaha tetap menjalankan puasa Dzulhijjah meski masih memiliki utang puasa Ramadan. (*)
Editor : Ali Sodiqin