Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Siswa SMK Gajah Mada Banyuwangi Ciptakan Kompor Berbahan Bakar Jelantah, Hemat dan Ramah Lingkungan

Sigit Hariyadi • Selasa, 12 Mei 2026 | 06:00 WIB
INOVATIF: Bupati Ipuk Fiestiandani melihat langsung kompor berbahn bakar oli bekas atau jelantah inovasi siswa SMK Gajah Mada dalam rangkaian Bunga Desa di Patoman, Kecamatan Blimbingsari, pekan lalu (7/5). (DINI for Radar Banyuwangi)
INOVATIF: Bupati Ipuk Fiestiandani melihat langsung kompor berbahn bakar oli bekas atau jelantah inovasi siswa SMK Gajah Mada dalam rangkaian Bunga Desa di Patoman, Kecamatan Blimbingsari, pekan lalu (7/5). (DINI for Radar Banyuwangi)

Hanya memakai satu liter oli bekas atau minyak jelantah, kompor rakitan siswa SMK Gama bisa menyala hingga empat jam

RADARBANYUWANGI.ID – Kreativitas siswa SMK Gajah Mada Banyuwangi kembali mencuri perhatian. Para siswa sekolah kejuruan tersebut berhasil menciptakan kompor ekonomis berbahan bakar limbah cair berupa oli bekas dan minyak goreng bekas pakai atau jelantah.

Inovasi ramah lingkungan itu dinilai mampu menjadi solusi alternatif di tengah tingginya ketergantungan masyarakat terhadap gas elpiji. Selain hemat biaya, pemanfaatan limbah cair juga diyakini dapat membantu mengurangi pencemaran lingkungan.

Menariknya, hanya dengan satu liter oli bekas atau minyak jelantah, kompor hasil rakitan siswa SMK Gama tersebut mampu menyala selama tiga hingga empat jam.

Guru pembimbing Jurusan Otomotif SMK Gajah Mada, Rusianto mengatakan, ide pembuatan kompor itu muncul dari keresahan melihat banyaknya limbah oli bengkel dan minyak jelantah industri rumahan yang dibuang begitu saja.

Padahal, menurut dia, limbah tersebut masih dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi alternatif.

“Padahal ini bisa dimanfaatkan sebagai bahan bakar alternatif. Dengan demikian, limbah cair tersebut tidak sampai terbuang yang akhirnya bisa menyebabkan dampak negatif bagi lingkungan,” ujarnya.

Selain faktor lingkungan, inovasi tersebut juga lahir dari keprihatinan terhadap tingginya ketergantungan masyarakat pada gas elpiji untuk kebutuhan memasak sehari-hari.

Karena itu, kompor berbahan bakar jelantah tersebut diharapkan mampu menjadi solusi alternatif bagi rumah tangga maupun pelaku UMKM kuliner.

“Maka ini bisa menjadi solusi alternatif bagi ibu rumah tangga maupun pelaku usaha kecil bidang kuliner,” katanya.

Rusianto memastikan penggunaan oli bekas maupun minyak jelantah tidak mempengaruhi kualitas masakan. Kompor juga diklaim tidak menimbulkan bau saat digunakan memasak.

“Meski menggunakan bahan bakar jelantah maupun oli bekas, tidak mempengaruhi rasa pada masakan. Tidak ada bau sama sekali,” tegasnya.

Kompor rakitan tersebut dibuat menggunakan bahan sederhana yang mudah ditemukan. Di antaranya pipa besi sebagai rangka, blower untuk mendorong bahan bakar, keran air sebagai pengatur aliran bahan bakar, serta kaleng sebagai ruang pemanas.

Cara pengoperasiannya juga cukup sederhana. Sebelum digunakan memasak, kompor dipanaskan secara manual selama sekitar lima menit. Setelah itu, keran dibuka untuk mengalirkan bahan bakar dan blower dinyalakan untuk mengatur besar kecilnya api.

Saat ini, pihak sekolah juga mulai membuka pemesanan kompor untuk kebutuhan rumah tangga maupun UMKM dengan harga yang disebut cukup terjangkau.

“Kami menerima pesanan untuk rumah tangga maupun UMKM. Harganya sangat terjangkau dan bisa custom sesuai kebutuhan,” ujar Rusianto.

Inovasi para siswa SMK Gajah Mada itu bahkan mendapat perhatian langsung dari Ipuk Fiestiandani saat kegiatan Bupati Ngantor di Desa (Bunga Desa) di Patoman, Kecamatan Blimbingsari, pekan lalu.

Ipuk mengapresiasi kreativitas guru dan siswa yang berhasil mengubah limbah menjadi sumber energi alternatif bernilai ekonomis.

“Ini ide kreatif supaya masyarakat tidak hanya bergantung pada elpiji. Ternyata ada alternatif bahan bakar yang sangat mudah didapatkan. Bahkan di rumah kita juga setiap hari memproduksi limbah,” ujarnya.

Bupati Banyuwangi itu juga meminta inovasi tersebut terus disempurnakan agar dapat diproduksi massal dan dimanfaatkan masyarakat lebih luas.

“Biar bisa diproduksi massal dan dimanfaatkan banyak orang. Saya berharap kreativitas ini bisa menjadi motivasi bagi pelajar lain untuk menghasilkan karya yang lebih inovatif,” pungkasnya.

Inovasi kompor berbahan bakar jelantah tersebut menjadi contoh bagaimana dunia pendidikan vokasi mampu menghadirkan solusi nyata bagi persoalan energi sekaligus pengelolaan limbah di masyarakat. (sgt)

Editor : Ali Sodiqin
#kompor oli bekas #SMK Gajah Mada Banyuwangi #Kompor minyak jelantah #Inovasi siswa Banyuwangi #Kompor ramah lingkungan