RADARBANYUWANGI.ID - Selama puluhan tahun, es laut Antartika dianggap lebih tahan terhadap dampak pemanasan global dibanding kawasan Arktik. Saat es di Kutub Utara terus menipis, lapisan es di sekitar Antartika sempat terlihat stabil, bahkan sempat meluas pada akhir 2000-an.
Namun, kondisi itu kini berubah drastis.
Sebuah studi internasional yang dipublikasikan dalam jurnal Science Advances mengungkap bahwa sistem iklim di Antartika telah mengalami perubahan besar sejak 2015. Perubahan tersebut memicu penurunan es laut secara tajam hingga mencapai rekor terendah dalam beberapa tahun terakhir.
Baca Juga: Tes CAT Manajer Kopdes Merah Putih Bermasalah, Kemenkop dan BKN Buka Suara soal Gangguan Sistem
Penulis utama studi, Dr Aditya Narayanan dari University of Southampton, menyebut perubahan itu dipicu kombinasi tiga faktor iklim yang saling memperkuat.
“Pertama, emisi gas rumah kaca dan lubang ozon memperkuat pola angin di sekitar Antartika,” ujarnya, dikutip Mirage News.
Angin tersebut kemudian menarik air laut hangat dan asin dari lapisan dalam menuju permukaan. Saat air hangat bercampur dengan lapisan atas laut, panas yang tersimpan selama puluhan tahun dilepaskan dan mulai mencairkan es laut secara masif.
Baca Juga: Tottenham Hotspur Dekati Zona Aman, Leeds United Bidik Kepastian Bertahan
“Hal ini menciptakan lingkaran umpan balik yang membuat es laut terus berada dalam kondisi rendah,” kata Narayanan.
Penurunan es laut Antartika pada 2023 disebut para ilmuwan sebagai salah satu peristiwa iklim paling ekstrem dan paling sulit dipahami dalam catatan modern.
Menurut Narayanan, Antartika kini berpotensi berubah dari wilayah yang selama ini membantu menahan laju pemanasan global menjadi wilayah yang justru mempercepat perubahan iklim dunia.
Es laut di Samudra Selatan selama ini berperan penting dalam menggerakkan sirkulasi arus laut global. Sistem arus tersebut mengatur distribusi panas bumi dengan membawa air hangat ke kutub dan menenggelamkan air dingin ke dasar samudra.
Selain berdampak pada iklim global, pencairan es juga mengancam ekosistem Antartika. Lapisan es menjadi habitat penting bagi alga mikroskopis, krill, paus, hingga penguin.
Penguin kaisar termasuk spesies yang paling terdampak. Hewan tersebut bergantung pada kestabilan es laut untuk berkembang biak, berganti bulu, dan beristirahat sepanjang April hingga Desember.
Penurunan es laut yang cepat pada periode 2022–2024 menyebabkan kegagalan reproduksi dalam skala besar. Banyak anak penguin tenggelam atau mati membeku sebelum bulu tahan air mereka tumbuh sempurna.
“Sistemnya telah berbalik,” ujar Narayanan.
“Apa yang dimulai sebagai penumpukan panas laut dalam secara perlahan di bawah es Antartika kemudian diikuti pencampuran air yang kuat, hingga berujung pada siklus umpan balik yang membuat suhu terlalu hangat bagi es untuk pulih,” lanjutnya.
Penelitian tersebut juga menemukan bahwa lapisan laut di Samudra Selatan kini semakin tidak stabil. Sebelumnya, air dingin dan relatif tawar di permukaan bertindak seperti penutup yang menahan panas di lapisan bawah laut.
Namun, penghalang alami itu kini melemah.
Tim peneliti menemukan bahwa air hangat dari lapisan dalam atau Circumpolar Deep Water kini naik lebih dekat ke permukaan dan langsung mencairkan es laut.
Profesor Matthew England, ahli oseanografi dari UNSW Sydney sekaligus penulis pendamping studi, mengatakan perubahan ini bukan sekadar akibat kenaikan suhu udara.
“Kami melihat panas yang telah tersimpan di lautan selama puluhan tahun kini mulai menembus ke permukaan,” ujarnya.
“Ketika itu terjadi, sistem akan sangat sulit kembali ke kondisi sebelumnya,” tambahnya.
Penelitian juga menunjukkan adanya perbedaan kondisi antara Antartika Timur dan Barat.
Di Antartika Timur, pencairan es lebih banyak dipicu naiknya panas dari laut dalam. Sementara di Antartika Barat, peningkatan tutupan awan dan masuknya udara hangat dari wilayah subtropis membuat panas terperangkap di permukaan laut dan mempercepat pencairan es dari atas.
Baca Juga: Rahasia Tirakat Jawa yang Bikin Batin Tenang dan Hidup Berubah
Para ilmuwan menilai perubahan ini merupakan gabungan antara atmosfer, lautan, dan es yang saling memengaruhi.
“Itulah sebabnya respons yang terjadi sangat mendadak,” kata Prof England.
Es laut selama ini memegang peran penting dalam menjaga kestabilan iklim bumi. Permukaan es yang berwarna cerah memantulkan sinar matahari kembali ke angkasa sehingga lautan tidak menyerap terlalu banyak panas.
Selain itu, sistem sirkulasi laut global juga membantu menyimpan panas dan karbon di kedalaman samudra.
“Antartika secara historis membantu memperlambat laju perubahan iklim. Jika fungsi itu mulai berbalik, dampaknya akan dirasakan secara global,” ujar Narayanan.
Peneliti lainnya, Dr Alessandro Silvano, menambahkan bahwa pencairan es juga berpotensi mengganggu kestabilan lapisan es raksasa yang menahan gletser agar tidak meluncur ke laut.
Jika itu terjadi, kenaikan permukaan air laut global bisa semakin cepat.
Meski demikian, para ilmuwan belum dapat memastikan apakah perubahan ini bersifat sementara atau menjadi kondisi normal baru bagi Antartika.
Namun, mereka mengingatkan bahwa bila proses tersebut terus berlanjut, sistem iklim bumi bisa berubah secara fundamental.
“Apa yang terjadi di dasar dunia akan membentuk apa yang terjadi di seluruh dunia,” tutup Narayanan.
Editor : Lugas Rumpakaadi