RADARBANYUWANGI.ID - Kalangan ilmuwan kembali dibuat takjub oleh kemampuan otak serangga yang ternyata jauh lebih kompleks daripada dugaan sebelumnya. Penelitian terbaru mengungkap bahwa serangga memiliki sistem kerja otak yang mampu memproses informasi visual dengan sangat cepat dan presisi.
Penelitian tersebut dilakukan oleh peneliti dari University of Sheffield dengan fokus pada dua spesies serangga, yakni lalat rumah dan lalat buah. Dari hasil studi itu, para akademisi menemukan mekanisme unik bernama high-frequency jumping yang membantu sistem saraf bekerja lebih efisien.
Mekanisme tersebut memungkinkan serangga merespons lingkungan secara cepat sekaligus akurat. Sistem itu juga memberi dorongan tambahan pada saraf untuk memproses informasi visual dalam waktu singkat.
Baca Juga: James Webb Ungkap Wajah Eksoplanet “Kua’kua”, Dunia Tandus Mirip Merkurius tanpa Atmosfer
“Serangga ternyata tidak hanya menerima informasi visual secara pasif, tetapi juga aktif mengolah dan meningkatkan kualitas informasi tersebut,” ungkap tim peneliti dalam laporan studi.
Temuan tersebut sekaligus mengubah pandangan ilmuwan tentang cara kerja otak serangga selama ini. Meski memiliki ukuran otak sangat kecil, serangga mampu menangkap detail lingkungan dengan kemampuan luar biasa.
Kemampuan itu terlihat saat serangga mendeteksi gerakan kecil secara cepat, termasuk gerakan mata cepat atau saccade. Berkat sistem pemrosesan berkecepatan tinggi, serangga dapat fokus pada informasi penting ketika bergerak atau terbang.
Baca Juga: Koper Haji Mulai Dikumpulkan, CJH Banyuwangi Kini Terima Tiga Kartu Identitas Sejak dari Daerah
Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Nature Communications juga menunjukkan bahwa kemampuan tersebut sangat membantu serangga bertahan hidup. Mereka dapat menghindari predator maupun melakukan manuver tajam saat terbang.
Tak hanya itu, otak serangga juga disebut mampu menyelesaikan persoalan kompleks dengan cepat. Fakta ini menjadi perhatian besar para ilmuwan karena ukuran otak serangga jauh lebih kecil dibanding manusia.
Sebagai gambaran, lalat buah diketahui memiliki sekitar 100 ribu neuron. Sementara lebah madu memiliki sekitar 1 juta neuron. Jumlah itu memang jauh di bawah manusia yang memiliki sekitar 86 miliar neuron, tetapi efisiensi kerja otak serangga dinilai sangat mengesankan.
Profesor Lars Chittka menyebut anatomi otak serangga juga sangat rumit. Menurutnya, setiap sel dalam otak serangga dapat terhubung dengan hingga 10 ribu sel otak lainnya melalui jaringan bercabang halus dan kompleks.
“Kerumitan jaringan otak serangga membuat penelitian tentang sistem saraf mereka membutuhkan waktu panjang dan sangat mendalam,” ujar Lars Chittka.
Secara anatomi, otak serangga berada di bagian kepala dekat punggung dan terdiri atas tiga pasang lobus. Bagian tersebut berfungsi mengendalikan gerakan, perilaku, memori, emosi, hingga fungsi intelektual.
Para ilmuwan juga sepakat bahwa serangga termasuk hewan cerdas. Kemampuan menghafal menjadi salah satu faktor utama yang mendukung kecerdasan tersebut. Contohnya dapat dilihat pada lebah yang mampu terbang bermil-mil jauhnya namun tetap bisa kembali ke sarang.
Meski demikian, peneliti menilai tingkat kecerdasan serangga tidak selalu disertai kesadaran yang seimbang. Hanya beberapa spesies tertentu yang dinilai memiliki hubungan antara kesadaran dan kecerdasan secara bersamaan.
Temuan ini semakin memperlihatkan bahwa ukuran kecil bukan penentu kemampuan makhluk hidup. Di balik tubuh mungilnya, serangga ternyata menyimpan sistem otak yang efisien, kompleks, dan sangat adaptif terhadap lingkungan.
Editor : Lugas Rumpakaadi