Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Terinspirasi Sunburn, Profesor Kimia AS Ciptakan “Baterai Cair” Penyimpan Energi Berkapasitas Superbesar

Lugas Rumpakaadi • Senin, 11 Mei 2026 | 04:15 WIB
Profesor kimia UC Santa Barbara mengembangkan teknologi “baterai cair” Most yang terinspirasi sunburn. (Pexels/Castorly Stock)
Profesor kimia UC Santa Barbara mengembangkan teknologi “baterai cair” Most yang terinspirasi sunburn. (Pexels/Castorly Stock)

RADARBANYUWANGI.ID - Inovasi teknologi energi kembali lahir dari riset yang tak biasa. Seorang profesor kimia di University of California, Santa Barbara, Grace Han, berhasil mengembangkan sistem penyimpanan energi baru setelah terinspirasi dari proses kulit manusia saat mengalami sengatan matahari atau sunburn.

Teknologi tersebut dikenal dengan nama Molecular Solar Thermal (Most). Sistem ini memanfaatkan molekul yang mampu berubah bentuk ketika terkena cahaya, lalu melepaskan energi yang tersimpan saat dibutuhkan.

Dalam penelitian yang dipublikasikan pada Februari lalu, Han bersama timnya memperkenalkan sistem penyimpanan energi dengan kapasitas sangat tinggi. Teknologi itu disebut mampu mencapai densitas energi sebesar 1,65 megajoule per kilogram, melampaui kapasitas baterai lithium-ion yang selama ini digunakan pada ponsel hingga kendaraan listrik.

Baca Juga: Muskercab PCNU Hasilkan Sejumlah Rekomendasi Penting, Semua Lembaga dan Banom Hadir Tunjukkan Kekompakan

Keunggulan teknologi tersebut terlihat dalam uji laboratorium. Energi yang tersimpan di dalam botol kecil mampu mendidihkan air hanya dalam waktu singkat.

“Saat saya melihat videonya dan melihat betapa cepat seluruh larutan mendidih, itu benar-benar luar biasa,” ujar Han, dikutip MediaIndonesia.com.

Peneliti dari Polytechnic University of Barcelona, Kasper Moth-Poulsen, yang turut meninjau penelitian tersebut mengaku terkejut dengan capaian tim Han.

Baca Juga: Musyker I PCNU Banyuwangi Digelar, PWNU Jatim Tekankan Tata Kelola Jam’iyah dan Transformasi Digital

“Saya pikir sistem terbaik kami berada di angka satu megajoule. Mereka mencapai 1,6, itu sangat menakjubkan,” katanya.

Teknologi Most bekerja dengan meniru mekanisme evolusi DNA manusia. Dalam tubuh manusia, molekul DNA yang berubah bentuk akibat paparan sinar matahari dapat kembali pulih melalui bantuan enzim fotoliase. Dari proses biologis tersebut, Han melihat peluang untuk menciptakan media penyimpanan energi berukuran kecil tetapi mampu menampung energi dalam jumlah besar.

Berbeda dengan bahan bakar fosil, teknologi ini tidak memerlukan proses pembakaran sehingga tidak menghasilkan emisi karbon.

“Teknologi ini beroperasi tanpa membakar apa pun,” tegas Moth-Poulsen.

Keunggulan lain dari sistem tersebut adalah kemampuan penyimpanan energi jangka panjang. Energi yang tersimpan disebut dapat bertahan hingga puluhan tahun tanpa kehilangan kapasitas secara signifikan.

Meski demikian, teknologi Most masih menghadapi sejumlah tantangan sebelum bisa digunakan secara luas. Saat ini, sistem tersebut masih membutuhkan sinar ultraviolet berkekuatan tinggi dan asam klorida untuk memicu pelepasan energi.

Han mengakui penggunaan bahan korosif itu belum ideal untuk penerapan komersial.

Baca Juga: Olahan Salak Naik Kelas, BRI Bawa SALAKU Tembus Pasar Global di Food & Hospitality Asia (FHA) 2026 di Singapura

“Saya berharap sistem ini bisa ditingkatkan responsnya terhadap cahaya alami, serta memicu pelepasan energi tanpa memerlukan bahan kimia beracun,” ungkapnya.

Pengembangan teknologi Most kini juga diarahkan ke bentuk padat. Para peneliti sedang menguji material transparan yang dapat diaplikasikan sebagai pelapis jendela. Selain menyimpan energi, material itu berpotensi mencegah pengembunan sekaligus membantu menghangatkan ruangan secara alami.

Jika berhasil disempurnakan, teknologi “baterai cair” tersebut diyakini dapat menjadi salah satu solusi penting dalam mendukung dekarbonisasi sistem pemanas di masa depan.

Editor : Lugas Rumpakaadi
#teknologi energi #baterai cair #Molecular Solar Thermal #inovasi energi terbarukan #Grace Han