RADARBANYUWANGI.ID - Para ahli geologi mengungkap proses terbelahnya Benua Afrika berlangsung lebih cepat dari perkiraan sebelumnya. Temuan terbaru menunjukkan kerak Bumi di kawasan Retakan Turkana, yang membentang di Kenya dan Ethiopia, kini berada dalam fase kritis sebelum benar-benar terpisah menjadi dua daratan berbeda.
Hasil penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Nature Communications menemukan ketebalan kerak Bumi di pusat retakan hanya sekitar 13 kilometer. Angka tersebut jauh lebih tipis dibandingkan bagian tepi retakan yang masih memiliki ketebalan lebih dari 35 kilometer.
Penipisan ekstrem itu menjadi tanda bahwa kawasan tersebut telah memasuki fase necking, yakni tahap ketika kerak Bumi melemah dan mulai meregang sebelum akhirnya pecah membentuk samudra baru.
“Kami menemukan bahwa retakan di zona ini lebih maju, dan keraknya lebih tipis, dari yang pernah disadari siapa pun,” ujar Christian Rowan, peneliti dari Lamont-Doherty Earth Observatory, Columbia University, dikutip CNNIndonesia.com.
Rowan menjelaskan, semakin tipis kerak Bumi, maka kekuatannya akan semakin berkurang. Kondisi tersebut justru mempercepat proses retakan sehingga pemisahan benua menjadi tidak dapat dihentikan.
“Semakin tipis keraknya, semakin lemah ia, dan itu justru mendorong retakan terus berlanjut,” katanya.
Baca Juga: Musyker I PCNU Banyuwangi Digelar, PWNU Jatim Tekankan Tata Kelola Jam’iyah dan Transformasi Digital
Retakan Turkana disebut sebagai satu-satunya retakan aktif di Bumi yang saat ini berada pada fase necking. Proses pemisahan itu sebenarnya telah dimulai sekitar 45 juta tahun lalu akibat pergerakan lempeng Afrika dan Somalia yang saling menjauh dengan kecepatan sekitar 4,7 milimeter per tahun.
Dalam beberapa juta tahun mendatang, kawasan tersebut diperkirakan memasuki fase oseanisasi. Pada tahap ini, kerak Bumi akan meregang semakin tipis hingga magma muncul dari bawah permukaan dan membentuk cekungan laut baru.
Para ilmuwan memperkirakan air dari Samudra Hindia nantinya akan mengisi cekungan tersebut hingga menciptakan samudra baru di kawasan Afrika Timur.
Fenomena serupa diketahui mulai terlihat di Cekungan Afar yang berada di timur laut Afrika dekat Laut Merah.
Temuan ini sekaligus mempertegas bahwa susunan benua di Bumi sebenarnya terus bergerak meski berlangsung sangat lambat. Sekitar 200 juta tahun lalu, seluruh daratan di planet ini diyakini pernah menyatu dalam satu superbenua sebelum akhirnya terpecah menjadi benua-benua modern saat ini.
Sistem Retakan Afrika Timur menjadi contoh nyata proses pemisahan lempeng tektonik. Saat ini, Lempeng Afrika mulai terbelah menjadi dua bagian besar, yakni Lempeng Nubia di sisi barat dan Lempeng Somalia di bagian timur yang mencakup wilayah pesisir hingga Pulau Madagaskar.
Dalam penelitian tersebut, ilmuwan memanfaatkan data seismik dari kawasan Retakan Turkana untuk memetakan perubahan struktur kerak Bumi.
Tak hanya penting bagi ilmu geologi, temuan ini juga dinilai berkaitan erat dengan sejarah evolusi manusia. Kawasan Turkana selama ini dikenal sebagai salah satu lokasi penemuan fosil hominin tertua di dunia.
Para peneliti menemukan fase necking yang dimulai sekitar 4 juta tahun lalu terjadi bersamaan dengan usia fosil hominin tertua di wilayah tersebut.
“Kebetulan waktu antara transisi tektonik ini dan munculnya lapisan fosil yang tebal dan berkelanjutan menunjukkan bahwa fase necking menyediakan kondisi kritis bagi pelestarian fosil,” tulis para peneliti dalam studinya.
Peneliti menilai perubahan tektonik di kawasan Retakan Turkana kemungkinan memainkan peran penting dalam membentuk catatan paleoantropologi yang menjadi kunci memahami evolusi awal manusia.
Editor : Lugas Rumpakaadi