RADARBANYUWANGI.ID - Selama puluhan tahun, dunia ilmu pengetahuan meyakini dinosaurus pertama kali muncul di Bumi sekitar 230 juta tahun lalu. Namun, penelitian terbaru membuka kemungkinan bahwa kelompok reptil purba tersebut sebenarnya telah berevolusi jauh lebih awal.
Mengutip MediaIndonesia.com, studi yang dipublikasikan dalam jurnal Nature Ecology & Evolution itu menyebut nenek moyang dinosaurus kemungkinan sudah muncul sekitar 240 juta tahun lalu. Artinya, sejarah kemunculan dinosaurus bisa mundur sekitar 10 juta tahun dari catatan ilmiah sebelumnya.
Penelitian dilakukan oleh tim paleontolog internasional dengan menganalisis fosil reptil awal yang ditemukan di kawasan Amerika Selatan dan Afrika. Para ilmuwan memadukan teknologi penanggalan geologi modern dengan pemodelan evolusi untuk menelusuri garis keturunan dinosaurus purba.
“Sejarah dominasi dinosaurus di Bumi ternyata jauh lebih tua dan lebih kompleks dari yang selama ini dibayangkan,” tulis tim peneliti dalam laporan studinya.
Temuan tersebut menempatkan periode Trias sebagai fase penting dalam evolusi kehidupan di Bumi. Masa itu merupakan era transisi setelah peristiwa kepunahan massal Permian–Triassic sekitar 252 juta tahun lalu yang memusnahkan hampir 90 persen spesies di planet ini.
Jika teori baru tersebut terbukti sepenuhnya, dinosaurus diperkirakan mulai berkembang tidak lama setelah Bumi mengalami salah satu bencana biologis terbesar sepanjang sejarah.
Namun, muncul pertanyaan besar di kalangan ilmuwan: mengapa fosil dinosaurus dari periode 240 juta tahun lalu sangat jarang ditemukan?
Para peneliti menjelaskan adanya fenomena yang dikenal sebagai “celah fosil”. Pada awal zaman Trias, kondisi lingkungan dinilai belum ideal untuk proses fosilisasi. Faktor iklim dan geologi membuat banyak sisa makhluk hidup gagal terawetkan secara sempurna.
Selain itu, populasi dinosaurus awal diyakini masih sangat sedikit sehingga peluang ditemukan fosilnya menjadi lebih rendah dibandingkan spesies predator lain pada masa itu.
Penelitian juga menyoroti karakter anatomi reptil awal yang memiliki struktur pinggul dan kaki belakang lebih aktif. Ciri tersebut kemudian berkembang menjadi identitas utama dinosaurus.
“Fokus kami tertuju pada kelompok reptil dengan pola gerak aktif yang menjadi fondasi evolusi dinosaurus modern,” ungkap salah satu peneliti dalam publikasi tersebut.
Studi ini sekaligus memperkuat teori bahwa superbenua Gondwana merupakan tempat kelahiran dinosaurus. Wilayah purba itu kini mencakup Amerika Selatan, Afrika, India, Australia, hingga Antarktika.
Selama ini, penemuan fosil dinosaurus tertua banyak berasal dari Argentina dan Brasil. Namun, riset terbaru membuat perhatian ilmuwan mulai bergeser ke Afrika yang dinilai memiliki potensi geologis serupa tetapi belum banyak dieksplorasi.
Meski demikian, para peneliti menegaskan bahwa temuan ini masih menjadi tahap awal. Bukti paling penting yang kini diburu adalah fosil fisik berusia sekitar 240 juta tahun untuk memastikan hasil pemodelan evolusi tersebut.
Dalam dunia paleontologi, penemuan fosil tersebut disebut sebagai “Holy Grail” atau target utama yang dapat mengubah pemahaman manusia mengenai awal dominasi dinosaurus di Bumi.
Editor : Lugas Rumpakaadi