Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Gelombang Gravitasi Ungkap Asal Baru Lubang Hitam Raksasa, Diduga Lahir dari Tabrakan Beruntun di Gugus Bola

Lugas Rumpakaadi • Minggu, 10 Mei 2026 | 23:15 WIB
Penelitian terbaru mengungkap lubang hitam paling masif kemungkinan terbentuk dari tabrakan berulang di gugus bola padat. (Pexels/Iceberg San)
Penelitian terbaru mengungkap lubang hitam paling masif kemungkinan terbentuk dari tabrakan berulang di gugus bola padat. (Pexels/Iceberg San)

RADARBANYUWANGI.ID - Para ilmuwan menemukan petunjuk baru mengenai asal-usul lubang hitam paling masif di alam semesta. Temuan terbaru menunjukkan bahwa objek kosmik tersebut kemungkinan besar terbentuk melalui rangkaian tabrakan dan penggabungan berulang di lingkungan bintang yang sangat padat, yang dikenal sebagai gugus bola.

Penelitian ini diperoleh setelah tim ilmuwan mempelajari gelombang gravitasi, yakni riak ruang-waktu yang muncul ketika dua lubang hitam saling bertabrakan dan menyatu. Fenomena tersebut dideteksi menggunakan instrumen berteknologi tinggi seperti LIGO, KAGRA, dan Virgo.

Gelombang gravitasi sendiri pertama kali diprediksi oleh fisikawan Albert Einstein pada 1915 melalui teori relativitas umum. Namun, keberadaannya baru berhasil diamati secara langsung dalam satu dekade terakhir.

Baca Juga: Menyusuri Rel Demi Keselamatan, 118 Petugas Pemeriksa Jalur KAI Daop 4 Semarang Siaga Setiap Hari di Lintas Sepanjang 677 Kilometer

Dalam studi terbaru, para peneliti menganalisis 153 peristiwa penggabungan lubang hitam yang tercatat dalam Katalog Transit Gelombang Gravitasi (GWTC4). Analisis dilakukan untuk mengetahui apakah lubang hitam bermassa sangat besar terbentuk langsung dari keruntuhan bintang tunggal atau justru tumbuh melalui proses penggabungan berulang.

Fabio Antonini dari Universitas Cardiff, Inggris, menyebut astronomi gelombang gravitasi kini telah memasuki tahap baru.

“Astronomi gelombang gravitasi kini melakukan lebih dari sekadar menghitung penggabungan lubang hitam. Ini mulai mengungkapkan bagaimana lubang hitam tumbuh, di mana mereka tumbuh, dan apa yang dikatakannya kepada kita tentang hidup dan mati bintang-bintang masif,” ujarnya, dikutip Zonautara.com.

Baca Juga: Indomobil Tirano Gegerkan Pasar Motor Listrik 2025, Jarak Tempuh 200 Km dan Teknologi Swap Battery Jadi Andalan

Penelitian tersebut juga menemukan adanya dua populasi lubang hitam yang berbeda. Kelompok pertama merupakan lubang hitam bermassa rendah yang terbentuk setelah bintang masif meledak dalam peristiwa supernova.

Sementara itu, kelompok kedua memiliki karakteristik berbeda. Lubang hitam dalam populasi ini memiliki massa jauh lebih besar, berputar lebih cepat, serta arah rotasinya cenderung acak. Karakteristik tersebut dinilai menjadi petunjuk kuat bahwa mereka terbentuk melalui tabrakan berantai di lingkungan bintang padat.

Isobel Romero-Shaw, anggota tim peneliti, mengatakan hasil tersebut menjadi salah satu bagian paling mengejutkan dalam studi mereka.

“Apa yang paling mengejutkan kami adalah betapa jelasnya lubang hitam bermassa tinggi menonjol sebagai populasi yang terpisah,” katanya.

Temuan ini sekaligus memperkuat teori mengenai “celah massa” lubang hitam. Dalam teori tersebut, bintang dengan ukuran sangat besar diperkirakan tidak dapat runtuh secara normal menjadi lubang hitam, melainkan memerlukan proses interaksi kompleks di gugus bintang padat.

Hasil penelitian yang dipublikasikan di jurnal Nature Astronomy pada 7 Mei itu menyebut lubang hitam dengan massa lebih dari 45 kali massa matahari kemungkinan besar terbentuk melalui penggabungan beruntun.

Fabio Antonini menilai masih banyak pertanyaan yang harus dijawab terkait proses pembentukan objek ekstrem tersebut.

Baca Juga: Maka Cavalry Jadi Motor Listrik Lokal Paling Diburu 2025, Desain Elegan dan Fitur Pintar Siap Tantang Produk Impor

“Pertanyaan kuncinya sekarang adalah, apakah lubang hitam ini memberi tahu kita bahwa model evolusi bintang kita salah, atau apakah mereka dibuat dengan cara lain?” tuturnya.

Temuan ini membuka peluang baru bagi ilmuwan untuk memahami proses evolusi bintang dan asal-usul objek paling misterius di alam semesta.

Editor : Lugas Rumpakaadi
#Nature Astronomy #gelombang gravitasi #gugus bola #lubang hitam #astronomi