RADARBANYUWANGI.ID - Upaya pemulihan terumbu karang yang rusak kini memasuki babak baru dengan dukungan teknologi speaker bawah laut. Metode bernama acoustic enrichment tersebut digunakan untuk memutar suara ekosistem laut sehat guna menarik kembali kehidupan di kawasan karang yang rusak dan sunyi.
Teknologi ini dikembangkan berdasarkan temuan bahwa terumbu karang yang sehat memiliki suara alami yang ramai. Bunyi tersebut berasal dari aktivitas berbagai organisme laut, mulai dari ikan hingga udang pistol yang hidup di dalam ekosistem karang.
Suara alami itu ternyata bukan sekadar kebisingan bawah laut. Bagi ikan-ikan muda, bunyi ekosistem karang menjadi penunjuk arah untuk menemukan habitat yang aman dan layak dihuni.
Sebaliknya, ketika terumbu karang mengalami kerusakan akibat pemutihan, polusi, maupun dampak perubahan iklim, kawasan tersebut berubah menjadi sunyi. Kondisi itu membuat banyak biota laut enggan datang maupun menetap.
Dilansir dari Zonautara pada Sabtu (9/5/2026), penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Nature Communications pada 2019 menunjukkan hasil positif dari penggunaan teknologi acoustic enrichment di Great Barrier Reef, Australia.
Riset tersebut dilakukan tim gabungan dari University of Exeter, University of Bristol, James Cook University, dan Australian Institute of Marine Science. Dalam penelitian itu, speaker bawah laut dipasang di kawasan karang rusak untuk memutar rekaman suara terumbu karang sehat.
Hasilnya cukup signifikan. Jumlah ikan yang kembali ke kawasan karang rusak meningkat hingga dua kali lipat dibandingkan area tanpa rekaman suara. Selain itu, keragaman spesies ikan tercatat naik sekitar 50 persen.
Salah satu peneliti, Steve Simpson, menjelaskan bahwa suara memiliki peran penting dalam membantu ikan muda menemukan habitat baru.
“Terumbu karang yang sehat merupakan tempat yang sangat berisik,” ujarnya.
Temuan serupa juga diperoleh dalam penelitian yang dilakukan Woods Hole Oceanographic Institution di wilayah US Virgin Islands. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa pemutaran suara terumbu karang sehat mampu meningkatkan penempelan larva karang hingga 1,7 kali lebih tinggi dibandingkan area tanpa suara.
Meski menjanjikan, para peneliti menegaskan teknologi speaker bawah laut bukan solusi tunggal untuk menyelamatkan terumbu karang. Upaya perlindungan lingkungan laut, pengurangan polusi, serta penanganan perubahan iklim tetap menjadi langkah utama untuk menjaga keberlanjutan ekosistem bawah laut.
Editor : Lugas Rumpakaadi