RADARBANYUWANGI.ID – Upaya mengenalkan pentingnya air bersih, lingkungan, dan sejarah kepada anak-anak sejak dini mulai digerakkan di Banyuwangi. Melalui inovasi bertajuk Wisata Edukasi Sejak Usia Dini (Wisesa Sikadi), ratusan pelajar akan diajak belajar langsung di kawasan Sumber Air Gedor, Kalipuro, yang menjadi salah satu sumber air tertua dan bersejarah di Banyuwangi.
Program kolaboratif yang digagas Perusahaan Umum Daerah Air Minum (PUDAM) Banyuwangi bersama lintas organisasi perangkat daerah (OPD) itu dijadwalkan resmi diluncurkan pada Rabu, 13 Mei 2026. Kloter pertama akan diikuti 75 siswa sekolah dasar (SD) dari Banyuwangi.
Tidak sekadar wisata biasa, anak-anak akan diajak memahami bagaimana air bersih diproduksi, pentingnya menjaga kelestarian sumber mata air, hingga dampak lingkungan terhadap kehidupan masyarakat. Edukasi dikemas langsung di lokasi sumber mata air yang dibangun sejak era kolonial Belanda.
Kamis (7/5), tim lintas instansi melakukan survei akhir di kawasan Sumber Air Gedor yang berada di Dusun Sumberbaru, Kelurahan Gombengsari, Kecamatan Kalipuro. Lokasinya sekitar 10 kilometer dari pusat Kota Banyuwangi.
Survei diikuti perwakilan PUDAM Banyuwangi, Dinas Pendidikan, Bappeda, Dinas Lingkungan Hidup (DLH), Dinas Kesehatan, Bagian Perekonomian Pemkab Banyuwangi, guru SD, hingga tim Jawa Pos Radar Banyuwangi.
Program tersebut disebut menjadi bentuk nyata pembelajaran berdampak yang sejalan dengan arah kebijakan pendidikan nasional. Anak-anak tidak hanya belajar teori di kelas, tetapi juga mendapatkan pengalaman langsung di lapangan.
Direktur Utama PUDAM Banyuwangi Abd Rahman menjelaskan, Sumber Gedor merupakan salah satu aset penting Banyuwangi yang masih aktif memasok kebutuhan air bersih masyarakat hingga sekarang.
“Mata air Sumber Gedor telah beroperasi sejak 1927. Instalasi yang dibangun pada masa Hindia Belanda itu sampai hari ini masih menjadi salah satu andalan PUDAM Banyuwangi untuk memenuhi kebutuhan air masyarakat,” ujarnya.
Menurut dia, keberadaan sumber air tersebut bukan hanya penting dari sisi pelayanan publik, tetapi juga memiliki nilai sejarah dan edukasi yang tinggi. Karena itu, anak-anak perlu dikenalkan sejak dini terhadap pentingnya menjaga kelestarian sumber air.
“Kalau anak-anak sudah paham bagaimana air diambil, diolah, dan disalurkan ke rumah-rumah warga, maka kesadaran menjaga lingkungan akan tumbuh sejak kecil,” katanya.
Dalam program Wisesa Sikadi, peserta akan mendapatkan materi langsung dari sejumlah instansi sesuai bidang masing-masing. PUDAM Banyuwangi akan mengenalkan proses pengambilan serta pengolahan air bersih, pentingnya menjaga sumber mata air, hingga edukasi hemat air.
Sementara Dinas Kesehatan akan memberikan materi tentang pentingnya air bersih bagi kesehatan, penerapan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), hingga bahaya penyakit akibat lingkungan tercemar.
Sekretaris Dinas Kesehatan Banyuwangi Firman Sanyoto mengatakan, seluruh materi telah disusun sesuai jenjang usia peserta agar lebih mudah dipahami anak-anak.
“Kami sudah menyiapkan materinya. Menyesuaikan dengan peserta inovasi Wisesa Sikadi. Materi anak TK tentu berbeda dengan level SMP,” jelasnya.
Selain itu, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) juga akan memberikan edukasi terkait pentingnya menjaga hutan dan vegetasi di sekitar sumber air, dampak sampah terhadap lingkungan, hingga pengelolaan sampah sejak dini.
Anak-anak nantinya juga diajak memahami bagaimana ekosistem alam berperan besar menjaga debit dan kualitas air tetap stabil.
Koordinator Wilayah Kerja Satuan Pendidikan (Korwilsatdik) Banyuwangi Janoto mengatakan, Dinas Pendidikan telah mulai menyusun sekolah-sekolah yang akan mengikuti kegiatan tersebut secara bertahap.
“Kloter pertama akan diikuti 75 siswa SD. Yang pasti inovasi ini sangat bagus bagi anak-anak,” ujarnya.
Menurut Janoto, kegiatan edukasi luar kelas seperti ini penting untuk membangun pengalaman belajar yang lebih menyenangkan sekaligus membentuk kepedulian sosial dan lingkungan.
Teknis keberangkatan peserta juga disiapkan dengan konsep edukatif dan ramah lingkungan. Anak-anak akan diangkut menggunakan angkutan umum menuju lokasi Sumber Gedor. Peserta juga dilarang membawa makanan berbungkus plastik untuk mengurangi sampah.
Setelah sesi edukasi di Sumber Gedor selesai, peserta akan diajak mengunjungi tandon air minum di Kalipuro dan Penataban untuk melihat langsung sistem distribusi air bersih.
Direktur Radar Banyuwangi Samsudin Adlawi yang turut memandu survei lapangan menilai Wisesa Sikadi menjadi inovasi pendidikan yang sangat relevan di tengah derasnya pengaruh negatif media sosial terhadap anak-anak.
Menurut dia, kegiatan edukasi berbasis pengalaman langsung di alam dapat membantu membangun karakter sekaligus memperkuat kepedulian lingkungan sejak dini.
“Nah, kegiatan ini sangat membantu anak-anak mengenal Sumber Gedor yang dibangun Belanda sejak 1926. Edukasi sejarahnya masuk, pengenalan air bersih juga masuk. Anak-anak nanti akan bercerita kepada orang tuanya bahwa menjaga kelestarian air itu sangat penting,” tegasnya.
Program Wisesa Sikadi dijadwalkan berlangsung rutin dengan peserta bergantian dari tingkat TK, SD, hingga SMP di Banyuwangi. (aif)
Editor : Ali Sodiqin