Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

TKA Resmi Gantikan Indeks Sekolah di SPMB 2026, Ini Skema Baru Seleksi SMA-SMK di Banyuwangi

Fredy Rizki Manunggal • Rabu, 6 Mei 2026 | 02:00 WIB
SELEKSI SISWA BARU: Pelajar lulusan SMP mengambil PIN SPMB SMA/SMK tahun 2025 lalu. (Dok. Radar Banyuwangi)
SELEKSI SISWA BARU: Pelajar lulusan SMP mengambil PIN SPMB SMA/SMK tahun 2025 lalu. (Dok. Radar Banyuwangi)

Perubahan besar terjadi dalam Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) 2026. Nilai Tes Kemampuan Akademik (TKA) kini resmi menggantikan indeks sekolah sebagai komponen utama penilaian siswa SMP untuk masuk SMA dan SMK. Skema baru ini langsung berdampak pada strategi pendaftaran dan peluang lolos siswa.

RADARBANYUWANGI.ID - Dinas Pendidikan Jawa Timur melalui Cabang Dinas Wilayah Banyuwangi memastikan bahwa mulai tahun ini nilai Tes Kemampuan Akademik (TKA) menjadi komponen penting dalam perhitungan skor SPMB jenjang SMA dan SMK.

Kepala Seksi SMA Cabang Dinas Pendidikan Jawa Timur Wilayah Banyuwangi, Arief Ainur Rozie, menjelaskan bahwa TKA menggantikan indeks sekolah yang selama ini digunakan dalam penilaian.

“Komposisi skor tahun ini adalah 60 persen dari rerata nilai rapor dan 40 persen dari nilai TKA,” ujarnya.

Skor gabungan tersebut menjadi acuan utama dalam seleksi jalur domisili dan jalur prestasi akademik, khususnya pada tahap I yang difokuskan untuk pendaftaran SMA melalui jalur domisili.

Menurut Arief, terdapat perbedaan mendasar dalam mekanisme seleksi antara SMA dan SMK. Untuk SMA, skor siswa menjadi prioritas utama sebelum mempertimbangkan jarak tempat tinggal ke sekolah.
“Kalau SMA, yang dilihat pertama adalah skor, baru jarak. Sementara untuk SMK, justru jarak yang menjadi acuan awal,” jelasnya.

Dengan sistem baru ini, siswa sudah bisa memetakan peluang sejak awal. Skor akan langsung terlihat setelah proses pengambilan PIN yang dijadwalkan pada 28 Mei hingga 9 Juni mendatang.

“Setelah ambil PIN, siswa bisa mengetahui nilai rapor dan TKA mereka. Dari situ sudah bisa menghitung peluang masuk sekolah tujuan,” tegas Arief.

Pada jalur prestasi akademik, persaingan dipastikan lebih terbuka. Siswa dapat mendaftar ke sekolah mana pun tanpa terikat wilayah, karena seleksi murni berdasarkan skor.

Sebaliknya, pada jalur domisili masih diberlakukan sistem rayonisasi. Artinya, siswa tetap harus mempertimbangkan zonasi wilayah meskipun skor tetap menjadi faktor penting.

Arief juga mengingatkan adanya perubahan signifikan pada jadwal pelaksanaan SPMB tahun ini. Tahap I jalur domisili justru digelar lebih awal, berbeda dengan tahun sebelumnya yang berada di tahap akhir.

“Ini yang harus menjadi perhatian siswa dan orang tua. Jangan sampai terlewat karena perubahan jadwal,” imbaunya.

Sementara itu, bagi lulusan tahun sebelumnya yang belum mengikuti TKA, tetap diberikan kesempatan untuk mengikuti SPMB dengan mengambil PIN. Namun, konsekuensinya cukup berat.

“Nilai TKA mereka akan nol, sehingga skor hanya mengandalkan nilai rapor dan indeks sekolah. Ini tentu berpengaruh besar pada peluang diterima,” pungkasnya.

Perubahan skema ini diharapkan mampu menciptakan sistem seleksi yang lebih objektif dan kompetitif. Namun di sisi lain, siswa dituntut lebih siap secara akademik untuk menghadapi TKA sebagai penentu penting dalam persaingan masuk SMA dan SMK. (fre/sgt)

Editor : Ali Sodiqin
#TKA SPMB 2026 #jalur domisili SMA #seleksi SMK #Tes Kemampuan Akademik #spmb banyuwangi