Di tengah meningkatnya biaya pendidikan, siswa kelas 12 SMKN 1 Banyuwangi justru menunjukkan solidaritas sosial. Menjelang kelulusan, mereka secara sukarela menyumbangkan seragam layak pakai untuk adik kelas—tradisi yang konsisten terjaga sejak 2021 dan kini menjadi budaya sekolah.
RADARBANYUWANGI.ID - Kebiasaan positif terus dirawat oleh para siswa kelas akhir di SMKN 1 Banyuwangi. Setiap menjelang kelulusan, ratusan siswa secara sukarela menyerahkan seragam sekolah mereka yang masih layak pakai untuk diberikan kepada adik kelas yang membutuhkan.
Program berbasis kepedulian ini telah berlangsung sejak 2021 dan hingga kini terus menunjukkan tren partisipasi yang meningkat. Tradisi tersebut tidak hanya menjadi solusi alternatif untuk menekan biaya pendidikan, tetapi juga memperkuat nilai empati di lingkungan sekolah.
Kepala sekolah, Mulyadi, menjelaskan bahwa program ini lahir dari kesadaran sosial antarsiswa.
“Anak kelas 12 yang sudah lulus secara sukarela menyumbangkan seragam layak pakai untuk adik kelasnya. Ini membantu siswa yang mungkin tidak mampu agar tidak harus membeli seragam baru,” ujarnya.
Menurutnya, sejak pertama kali diterapkan, respons siswa sangat positif. Bahkan, lebih dari 60 persen lulusan setiap tahunnya turut berpartisipasi dalam gerakan berbagi tersebut.
“Partisipasi terus meningkat. Ini murni sukarela tanpa paksaan, tetapi kesadaran siswa sangat tinggi,” tambahnya.
Seragam yang dikumpulkan meliputi berbagai jenis, mulai dari seragam putih abu-abu hingga seragam kejuruan. Semua pakaian yang disumbangkan telah melalui seleksi agar tetap dalam kondisi layak pakai.
Pembina OSIS, Jaenuri, mengatakan bahwa proses pengumpulan biasanya dilakukan saat momen perpisahan atau pengambilan rapor. Namun, siswa juga diperbolehkan menyumbang di luar momen tersebut.
“Yang penting seragam masih layak pakai. Ini menjadi bentuk kepedulian nyata antar siswa,” jelasnya.
Lebih dari sekadar kegiatan sosial, tradisi ini menjadi bagian dari pendidikan karakter di sekolah. Siswa tidak hanya dibekali keterampilan akademik dan vokasi, tetapi juga nilai kemanusiaan dan solidaritas.
Bagi siswa baru, program ini memberikan dampak langsung. Mereka tidak lagi harus mengeluarkan biaya besar untuk membeli seragam baru. Dana yang ada dapat dialihkan untuk kebutuhan pendidikan lainnya.
Langkah sederhana ini membuktikan bahwa budaya berbagi dapat tumbuh dari lingkungan sekolah. SMKN 1 Banyuwangi pun menjadikan tradisi ini sebagai bagian dari upaya membentuk generasi yang tidak hanya kompeten, tetapi juga berempati.
Di tengah tantangan ekonomi, praktik gotong royong seperti ini menjadi contoh nyata bahwa solusi bisa lahir dari kesadaran kolektif—dimulai dari hal sederhana seperti seragam sekolah. (ray/sgt)
Editor : Ali Sodiqin