RADARBANYUWANGI.ID - Fenomena mobil mogok di perlintasan kereta api sebidang kerap memicu spekulasi publik. Salah satu yang sering beredar adalah dugaan adanya medan magnet rel yang mengganggu sistem kelistrikan kendaraan. Namun, anggapan tersebut ditepis secara tegas oleh pakar otomotif dari Institut Teknologi Bandung, Yannes Martinus Pasaribu.
Yannes menegaskan, secara ilmiah tidak ada mekanisme yang memungkinkan medan magnet rel kereta api melumpuhkan kendaraan modern.
“Secara ilmiah, medan magnet yang dihasilkan oleh perlintasan kereta api sama sekali tidak mampu mengganggu atau merusak ECU maupun komponen kelistrikan lainnya pada mobil modern,” ujarnya, dikutip Antara.
Baca Juga: Long Weekend Mei 2026, 51.575 Wisatawan Serbu Banyuwangi: AWT hingga De Djawatan Jadi Primadona
Menurut Yannes, kekuatan medan magnet di sekitar rel hanya berkisar 0,5–5 mikroTesla (µT). Angka ini jauh lebih kecil dibandingkan medan magnet alami bumi yang mencapai 25–65 µT.
Dengan kata lain, kendaraan sehari-hari sudah terbiasa terpapar medan magnet yang lebih besar tanpa mengalami gangguan apa pun. Selain itu, frekuensi medan magnet rel sangat rendah, di bawah 50 Hz, sehingga tidak cukup kuat untuk menginduksi arus listrik yang dapat mengganggu sistem elektronik mobil.
Ia juga menambahkan bahwa kendaraan modern telah melalui uji ketahanan elektromagnetik sesuai standar internasional, seperti ISO 11452, yang mensyaratkan ketahanan terhadap paparan hingga ratusan volt per meter. Sementara itu, paparan dari rel hanya kurang dari 0,01 V/m.
Selain faktor standar teknologi, struktur kendaraan juga memberikan perlindungan tambahan. Bodi mobil berbahan logam berfungsi sebagai Faraday Cage yang mampu meredam radiasi elektromagnetik hingga 40–60 dB.
Baca Juga: KAI Gelar Tahlilan di Bekasi Timur, Doakan Korban dan Perkuat Pemulihan Pelanggan
Efeknya, medan magnet dari rel akan melemah drastis hingga 100 sampai 1.000 kali lipat sebelum mencapai sistem elektronik kendaraan seperti ECU.
“Dengan demikian, tidak ada satu pun mekanisme fisika atau teknik yang memungkinkan medan magnet perlintasan kereta menyebabkan mobil berhenti atau mogok,” tegas Yannes.
Yannes menjelaskan, penyebab mobil mogok di perlintasan kereta lebih banyak dipicu faktor mekanis dan kesalahan pengemudi.
Pada mobil manual, kondisi rel yang tidak rata atau menonjol dapat menghambat laju kendaraan. Jika mobil kehilangan momentum dan pengemudi menggunakan gigi terlalu tinggi, putaran mesin bisa turun di bawah batas minimum.
Situasi ini diperparah jika pengemudi panik.
“Jika pengemudi tidak segera melakukan downshift atau gagal mengoperasikan kopling dengan benar, mesin mati tepat di atas rel,” jelasnya.
Selain faktor kendaraan dan pengemudi, kondisi infrastruktur juga berperan besar. Perlintasan tanpa palang pintu resmi, tanpa sistem deteksi kendaraan, serta keberadaan perlintasan sebidang di jalur padat meningkatkan risiko kecelakaan.
Yannes menilai, perlintasan seperti ini idealnya sudah digantikan dengan underpass atau overpass demi keselamatan.
Bagaimana dengan mobil listrik? Yannes memastikan kendaraan listrik justru memiliki ketahanan lebih tinggi terhadap gangguan elektromagnetik.
Mobil listrik modern dirancang dengan sistem pelindung interferensi dan wajib memenuhi standar internasional seperti ISO 11451, ISO 11452, serta ISO 7637 sebelum dipasarkan.
“Secara teknis, EV memiliki potensi yang sangat rendah untuk mati mendadak saat melintasi rel kereta api,” katanya.
Editor : Lugas Rumpakaadi