Tak sekadar mencetak siswa berprestasi, SMAN 2 Taruna Bhayangkara membuktikan peran nyata dalam ketahanan pangan. Hasil panen siswa bahkan tembus pameran tingkat provinsi di Gedung Grahadi Surabaya.
RADARBANYUWANGI.ID – Inovasi pendidikan berbasis ketahanan pangan mulai menunjukkan hasil konkret. SMAN 2 Taruna Bhayangkara (Smadatara) Genteng, Banyuwangi, sukses memanen cabai dan pepaya dari program Sekolah Inovatif Ketahanan Pangan (Sikap) yang digagas sejak awal tahun lalu.
Program tersebut merupakan inisiatif Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur untuk mendorong sekolah berperan aktif dalam memperkuat ketahanan pangan melalui pemanfaatan lahan dan sumber daya yang dimiliki.
Plt Kepala Smadatara, I Ketut Renen, mengatakan hasil panen yang dilakukan Sabtu (2/5) lalu memang belum mencapai puncak produksi. Namun, kualitas dan kuantitasnya dinilai cukup memuaskan.
“Memang belum panen puncak, tapi hasilnya sudah cukup bagus,” ujarnya, kemarin (4/5).
Menariknya, hasil panen tersebut tidak hanya dimanfaatkan untuk kebutuhan internal sekolah seperti biasanya. Kali ini, produk pertanian siswa justru dikirim ke Gedung Grahadi untuk dipamerkan dalam rangka peringatan Hari Pendidikan Nasional.
“Biasanya untuk kebutuhan internal sekolah, tapi khusus panen ini diminta Dinas Pendidikan Jawa Timur untuk dipamerkan di Grahadi saat Hardiknas,” terang Ketut.
Program Sikap sendiri tidak hanya menitikberatkan pada hasil produksi pangan, tetapi juga pada proses pembelajaran. Siswa diajak terlibat langsung mulai dari pengolahan lahan, penanaman, hingga panen.
Melalui pendekatan ini, sekolah ingin menanamkan nilai-nilai penting seperti kemandirian, kepedulian terhadap lingkungan, serta tanggung jawab sosial kepada peserta didik.
“Kami menilai program ini sangat bagus karena tidak hanya menghasilkan produk, tetapi juga membentuk karakter siswa,” imbuhnya.
Partisipasi Smadatara dalam program ini menjadi bukti bahwa satuan pendidikan dapat berperan strategis dalam mendukung kebijakan pemerintah, khususnya di sektor ketahanan pangan.
Ketut menegaskan, ketahanan pangan tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah pusat, tetapi juga harus dimulai dari lingkungan terkecil, termasuk sekolah.
“Program ini sangat relevan. Ketahanan pangan harus dimulai dari lingkungan terdekat,” pungkasnya.
Dengan capaian tersebut, Smadatara tidak hanya menunjukkan prestasi akademik, tetapi juga kontribusi nyata dalam membangun kesadaran generasi muda terhadap pentingnya kemandirian pangan di masa depan. (sas/sgt)
Editor : Ali Sodiqin