Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Korban Kecelakaan Kereta Tetap Beraktivitas, Psikolog Ingatkan Trauma Tak Selalu Terlihat

Lugas Rumpakaadi • Rabu, 29 April 2026 | 14:59 WIB
Korban kecelakaan kereta dinilai tetap adaptif melanjutkan aktivitas. (JawaPos.com)
Korban kecelakaan kereta dinilai tetap adaptif melanjutkan aktivitas. (JawaPos.com)

RADARBANYUWANGI.ID - Kecelakaan kereta api yang terjadi di wilayah Bekasi tidak hanya meninggalkan korban jiwa dan luka fisik, tetapi juga menyisakan dampak psikologis mendalam bagi para penyintas. Meski demikian, sebagian korban dinilai tetap mampu beradaptasi dan melanjutkan aktivitas sehari-hari.

Psikolog klinis Ratih Ibrahim menyebut, manusia pada dasarnya memiliki sifat adaptif dan resilien. Dalam kondisi tertentu, dorongan untuk memenuhi kebutuhan hidup membuat korban tetap berupaya kembali ke rutinitas, meskipun kondisi mental belum sepenuhnya pulih.

“Ketika tidak ada pilihan lain, kebutuhan untuk melanjutkan hidup akan mendorong seseorang kembali beraktivitas, meskipun kondisi psikologisnya belum stabil,” ujar Ratih saat dihubungi, Selasa (28/4/2026), dikutip Antara.

Menurutnya, respons terhadap trauma berbeda pada setiap individu. Sebagian korban memilih menunda aktivitas atau menghindari penggunaan kereta api dengan beralih ke moda transportasi lain. Namun, tidak sedikit pula yang memaksakan diri kembali beraktivitas seperti biasa.

“Perlu diwaspadai, kondisi yang terlihat baik-baik saja belum tentu menunjukkan bahwa traumanya sudah pulih,” tegasnya.

Ratih yang juga tergabung dalam Tim Ahli Kelompok Kerja Kesehatan Jiwa Kementerian Kesehatan RI menambahkan, upaya perbaikan fasilitas serta peningkatan layanan transportasi publik dapat membantu memulihkan kepercayaan masyarakat.

Selain itu, ia menekankan pentingnya penanganan saat terjadi serangan panik, terutama di ruang publik seperti kereta. Korban disarankan tetap berada di posisi aman, seperti duduk atau bersandar, serta mengatur napas secara perlahan.

Jika kondisi tidak membaik, korban dapat meminta bantuan penumpang lain atau petugas, bahkan disarankan turun di stasiun terdekat untuk menenangkan diri.

“Hubungi kontak darurat atau orang terdekat untuk mendapatkan dukungan saat kondisi mulai tidak terkendali,” imbuhnya.

Peran keluarga juga dinilai krusial dalam proses pemulihan trauma. Dukungan emosional melalui empati, kesediaan mendengarkan, hingga membantu korban menenangkan diri menjadi bagian penting dalam pemulihan.

Ratih mendorong korban untuk tidak ragu mencari bantuan profesional melalui psikolog klinis guna mendapatkan penanganan yang tepat, termasuk konseling dan terapi.

“Keluarga bisa mendampingi dan mendorong korban untuk mencari bantuan ahli agar proses pemulihan berjalan lebih optimal,” ujarnya.

Editor : Lugas Rumpakaadi
#trauma psikologis #pemulihan korban #psikolog Indonesia #kesehatan mental #kecelakaan kereta api