Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Pemulihan Trauma Korban Kecelakaan Kereta Harus Bertahap, Pakar UI Tekankan Exposure dan Dukungan Keluarga

Lugas Rumpakaadi • Rabu, 29 April 2026 | 13:38 WIB
Korban kecelakaan kereta api perlu pemulihan trauma secara bertahap melalui exposure dan dukungan keluarga. (JawaPos.com)
Korban kecelakaan kereta api perlu pemulihan trauma secara bertahap melalui exposure dan dukungan keluarga. (JawaPos.com)

RADARBANYUWANGI.ID - Pemulihan trauma psikologis korban kecelakaan kereta api membutuhkan pendekatan bertahap dan terstruktur. Hal itu penting agar korban dapat kembali beraktivitas tanpa dibayangi kecemasan berlebihan.

Guru Besar Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, Rose Mini Agoes Salim, menegaskan bahwa rasa takut setelah mengalami kecelakaan merupakan respons yang wajar. Namun, kondisi tersebut tidak boleh dibiarkan berlarut tanpa penanganan yang tepat.

“Jika seseorang merasa takut dengan kereta, maka bisa dilakukan secara bertahap melalui exposure. Tidak langsung dihadapkan pada situasi yang memicu ketakutan,” ujarnya kepada Antara.

Menurut dia, tahap awal pemulihan dapat dimulai dari hal sederhana, seperti melihat gambar kereta tanpa suara. Langkah ini bertujuan membangun toleransi terhadap stimulus yang sebelumnya memicu trauma.

Selanjutnya, paparan dapat ditingkatkan secara perlahan. Misalnya dengan melewati area stasiun atau mendengarkan suara kereta dari jarak tertentu sebelum akhirnya kembali berada di dalam lingkungan tersebut.

Pendekatan bertahap ini dinilai efektif melatih otak agar mampu beradaptasi kembali. Seiring waktu, respons kecemasan diharapkan menurun secara perlahan.

Romi. sapaan akrabnya, mengingatkan agar korban tidak memaksakan diri kembali ke situasi pemicu dalam waktu singkat. “Hal itu justru berisiko memperparah kondisi psikologis,” katanya.

Di sisi lain, menghindari sepenuhnya stimulus terkait trauma dalam jangka panjang juga tidak dianjurkan. Sikap tersebut justru dapat menghambat proses pemulihan.

Kecelakaan kereta api yang terjadi di wilayah Bekasi sebelumnya tidak hanya menimbulkan luka fisik, tetapi juga tekanan psikologis bagi para korban. Dalam kondisi tertentu, keterbatasan pilihan transportasi membuat sebagian korban tetap harus menggunakan kereta untuk aktivitas sehari-hari.

Situasi tersebut menuntut strategi pemulihan yang realistis dan aplikatif. Korban tetap perlu menjalankan aktivitas, namun tanpa mengabaikan kondisi kesehatan mental.

Selain pendekatan bertahap, dukungan keluarga menjadi faktor penting dalam proses pemulihan. Lingkungan yang aman dan suportif dinilai mampu membantu korban mengelola trauma dengan lebih baik.

“Pengalaman traumatis itu dialami langsung oleh korban, bukan oleh orang di sekitarnya. Karena itu, penting untuk memberi waktu bagi korban agar bisa pulih,” ujar Romi.

Ia menekankan, keluarga sebaiknya menghindari sikap menyudutkan, termasuk menuntut korban segera pulih atau membandingkan kondisinya dengan orang lain. Korban perlu diberi ruang untuk menenangkan diri dan kesempatan bercerita ketika sudah siap.

Namun, keluarga juga tidak dianjurkan memaksa korban mengulang cerita kejadian secara rinci. Hal tersebut berpotensi memicu kembali rasa tidak nyaman.

Menurut Romi, keseimbangan dalam memberikan dukungan sangat penting—kapan harus mendampingi dan kapan memberi ruang bagi korban untuk sendiri.

Ia menambahkan, jika trauma berlangsung lebih dari dua hingga empat minggu, korban sebaiknya segera mendapatkan bantuan profesional.

“Pemulihan trauma membutuhkan waktu, konsistensi, serta dukungan dari lingkungan agar korban dapat kembali menjalani aktivitas secara normal,” pungkasnya.

Editor : Lugas Rumpakaadi
#trauma psikologis #pemulihan mental #exposure therapy #dukungan keluarga #kecelakaan kereta api