Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Trauma Psikologis Mengintai Penyintas Kecelakaan Kereta Bekasi, Pakar UI Ingatkan Risiko PTSD

Lugas Rumpakaadi • Rabu, 29 April 2026 | 13:33 WIB
Kecelakaan kereta di Bekasi Timur tak hanya sebabkan korban fisik, tetapi juga trauma psikologis. (JawaPos.com)
Kecelakaan kereta di Bekasi Timur tak hanya sebabkan korban fisik, tetapi juga trauma psikologis. (JawaPos.com)

RADARBANYUWANGI.ID - Kecelakaan kereta api yang terjadi di Bekasi Timur tidak hanya meninggalkan dampak fisik bagi para korban, tetapi juga berpotensi menimbulkan gangguan psikologis jangka panjang. Para penyintas dinilai berisiko mengalami trauma, bahkan gangguan stres pascatrauma (PTSD), jika tidak mendapatkan penanganan yang tepat.

Guru Besar Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, Rose Mini Agoes Salim, menjelaskan bahwa respons psikologis setiap individu terhadap peristiwa traumatis tidaklah sama.

“Setelah mengalami kecelakaan, mungkin saja seseorang mengalami gangguan stres pascatrauma. Namun, respons tiap individu berbeda, sehingga tidak semua akan berkembang menjadi PTSD,” ujarnya saat dihubungi, Selasa (28/4/2026), dikutip Antara.

Psikolog yang akrab disapa Bunda Romy itu menuturkan bahwa pengalaman kecelakaan dapat memicu spektrum reaksi psikologis, mulai dari kecemasan ringan hingga kondisi yang lebih serius seperti PTSD. Gejala yang muncul pun beragam.

Korban, kata dia, dapat mengalami kecemasan berlebihan, jantung berdebar saat berada di keramaian, hingga kesulitan berkonsentrasi yang membuat mereka tampak melamun. Bahkan, rangsangan yang berkaitan dengan kejadian, seperti suara kereta, bisa memicu ketakutan yang intens.

“Panic attack bisa muncul tiba-tiba, misalnya saat berada di tempat ramai atau ketika teringat kejadian. Ini membuat korban menjadi takut untuk beraktivitas seperti biasa,” jelasnya.

Lebih lanjut, ia mengingatkan bahwa trauma yang tidak tertangani berpotensi berkembang menjadi depresi. Kondisi ini ditandai dengan perasaan sedih berkepanjangan, kehilangan minat terhadap aktivitas sehari-hari, hingga kecenderungan menarik diri dari lingkungan sosial.

Menurut Romy, pengalaman traumatis bersifat sangat subjektif. Faktor kondisi psikologis, dukungan sosial, serta pengalaman hidup sebelumnya turut memengaruhi proses pemulihan seseorang. Karena itu, ia menekankan pentingnya pemahaman dari lingkungan sekitar.

Peristiwa kecelakaan kereta di Bekasi Timur sebelumnya dilaporkan menimbulkan korban jiwa dan luka-luka, dengan sejumlah korban mengalami kondisi serius. Insiden tersebut menyedot perhatian publik, tidak hanya terkait aspek keselamatan transportasi, tetapi juga dampaknya terhadap kesehatan mental para korban.

Romy menegaskan bahwa pemulihan trauma membutuhkan waktu dan dukungan yang tepat. Pendampingan dari keluarga, tenaga profesional, serta lingkungan yang empatik menjadi kunci agar para penyintas dapat kembali menjalani aktivitas secara normal.

Editor : Lugas Rumpakaadi
#Kecelakaan kereta Bekasi #trauma psikologis korban #PTSD penyintas kecelakaan #kesehatan mental Indonesia #psikolog Universitas Indonesia