RADARBANYUWANGI.ID - Senin, 27 April 2026 menjadi titik temu sejumlah momentum penting. Pada hari ini tercermin wajah kemanusiaan dari berbagai sisi, reformasi hukum, kesadaran kesehatan mental, hingga kepedulian terhadap kelestarian satwa.
Di dalam negeri 27 April merupakan peringatan Hari Bakti Pemasyarakatan (HBP). Sejak pertama kali digagas pada 1964, HBP menjadi tonggak perubahan paradigma dalam sistem hukum Indonesia. Transformasi tersebut tak lepas dari peran Menteri Kehakiman saat itu, Sahardjo, yang memperkenalkan konsep pemasyarakatan menggantikan sistem kepenjaraan yang cenderung menghukum.
Perubahan itu menandai pergeseran mendasar dari pendekatan menghukum menuju rehabilitatif. Warga binaan tidak lagi dipandang sebagai objek hukuman semata, melainkan subjek pembinaan yang dipersiapkan untuk kembali ke masyarakat.
Direktur Jenderal Pemasyarakatan menegaskan bahwa semangat utama peringatan ini adalah memanusiakan manusia. Hal tersebut selaras dengan amanat Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1995 tentang Pemasyarakatan.
Beragam program pembinaan terus diperkuat. Mulai dari pelatihan keterampilan kerja, pendidikan formal, hingga penguatan mental dan spiritual. Tujuannya untuk menghapus stigma dan membekali warga binaan agar siap menjalani kehidupan baru saat bebas.
Di tingkat dunia, 27 April juga diperingati sebagai Hari Healing Sedunia. Peringatan ini berakar dari gerakan Tai Chi di Kansas City, Amerika Serikat, pada akhir 1990-an yang kemudian berkembang menjadi kampanye di seluruh dunia.
Hari Healing Sedunia menekankan pentingnya keseimbangan antara kesehatan fisik dan mental melalui aktivitas seperti yoga, meditasi, hingga Qigong. Pesannya relevan di tengah tekanan hidup modern, yakni ketenangan batin adalah bagian tak terpisahkan dari kesehatan.
Sementara itu, perhatian terhadap lingkungan juga mengemuka lewat peringatan Hari Tapir Sedunia. Satwa herbivora berciri khas belalai pendek ini menghadapi ancaman serius akibat deforestasi dan perburuan liar.
Populasi tapir yang tersebar di Asia Tenggara dan Amerika Selatan terus mengalami penurunan. Peringatan ini menjadi pengingat bahwa upaya konservasi tidak bisa ditunda. Tanpa langkah yang nyata, tapir berisiko menjadi sekadar catatan dalam buku sejarah keanekaragaman hayati.
Editor : Lugas Rumpakaadi