RADARBANYUWANGI.ID – Pemerintah Kabupaten Banyuwangi kembali menggelontorkan bantuan sosial (bansos) sektor pendidikan pada 2026. Program ini menyasar ribuan peserta didik dari jenjang PAUD hingga SMP, termasuk pendidikan nonformal, sebagai upaya menjaga akses pendidikan bagi keluarga kurang mampu.
Melalui Dinas Pendidikan Banyuwangi (Dispendik), sejumlah skema bantuan disiapkan dengan cakupan lebih luas dan pendekatan yang lebih berkelanjutan. Program unggulan seperti Garda Ampuh hingga bantuan transport menjadi tulang punggung intervensi pendidikan tahun ini.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dispendik Banyuwangi, Alfian, menegaskan bahwa bansos pendidikan ini dirancang untuk meningkatkan aksesibilitas sekaligus mencegah angka putus sekolah.
“Dispendik Banyuwangi mengelola berbagai bansos pendidikan untuk meningkatkan aksesibilitas, khususnya bagi masyarakat dari keluarga kurang mampu,” ujarnya.
Berbasis Data Desil 1 DTSEN
Penyaluran bantuan mengacu pada Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN), khususnya kategori Desil 1 atau kelompok masyarakat dengan tingkat kesejahteraan terendah. Sasaran penerima mencakup satuan pendidikan PAUD/RA, SD/MI, SMP/MTs, hingga pendidikan kesetaraan (dikmas).
Dengan basis data tersebut, pemerintah daerah berupaya memastikan bantuan tepat sasaran dan berdampak langsung terhadap keberlangsungan pendidikan siswa.
Rincian Program dan Anggaran
Data bansos pendidikan 2026 menunjukkan beberapa program utama dengan jumlah penerima dan pagu anggaran signifikan:
-
Garda Ampuh SD: 3.500 penerima, anggaran Rp 3,75 miliar
-
Garda Ampuh SMP: 734 penerima, anggaran Rp 1,76 miliar
-
Garda Ampuh PAUD: 563 penerima, anggaran Rp 434,4 juta
-
Garda Ampuh Dikmas: 314 penerima, anggaran Rp 753,6 juta
Selain itu, terdapat program bantuan transport bagi siswa:
-
Transport SD: 167 penerima, anggaran Rp 626,25 juta
-
Transport SMP: 200 penerima, anggaran Rp 635 juta
Bantuan Transport Berubah Jadi Sepeda
Menariknya, bantuan transport tahun ini tidak lagi diberikan dalam bentuk uang tunai. Dispendik memilih skema pemberian sepeda kayuh untuk para siswa penerima.
Menurut Alfian, kebijakan ini diambil untuk memastikan manfaat bantuan lebih berkelanjutan.
“Jika berupa uang hanya bisa digunakan saat itu saja, tetapi jika sepeda kayuh bisa dimanfaatkan lebih lama,” jelasnya.
Langkah ini juga dinilai mampu mendorong kemandirian siswa dalam mengakses sekolah, terutama bagi mereka yang tinggal di wilayah dengan keterbatasan transportasi umum.
Dorong Akses dan Pemerataan Pendidikan
Program bansos pendidikan ini menjadi bagian dari strategi Pemkab Banyuwangi dalam memperkuat pemerataan pendidikan sekaligus meningkatkan kualitas sumber daya manusia sejak dini.
Dengan intervensi yang menyasar langsung kebutuhan dasar siswa, pemerintah berharap tidak ada lagi anak usia sekolah yang terhambat mengenyam pendidikan karena faktor ekonomi.
Ke depan, Dispendik juga membuka peluang evaluasi dan pengembangan program agar lebih adaptif terhadap kebutuhan masyarakat dan dinamika sosial ekonomi. (ray/sgt)
Editor : Ali Sodiqin