Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Riset Untag Banyuwangi: Produksi Udang Baru 7,66 Persen, Potensi Pasar Masih Terbuka Lebar

Fredy Rizki Manunggal • Sabtu, 25 April 2026 | 07:00 WIB
BAHAS KOMODITAS UDANG: Dekan Fakultas Pertanian dan Perikanan Untag Banyuwangi Dr Ervina Wahyu Setyaningrum, SPi, MSi memberikan sambutan dalam kegiatan diseminasi hasil penelitian yang digelar di ruang F4, Jumat (24/4). (Ramada Kusuma/Radar Banyuwangi)
BAHAS KOMODITAS UDANG: Dekan Fakultas Pertanian dan Perikanan Untag Banyuwangi Dr Ervina Wahyu Setyaningrum, SPi, MSi memberikan sambutan dalam kegiatan diseminasi hasil penelitian yang digelar di ruang F4, Jumat (24/4). (Ramada Kusuma/Radar Banyuwangi)

RADARBANYUWANGI.ID – Potensi besar komoditas udang di Banyuwangi belum tergarap optimal. Meski permintaan pasar tinggi, produksi lokal justru masih tertinggal jauh—bahkan belum mampu memenuhi kebutuhan industri pengolahan di Jawa Timur.

Fakta itu terungkap dalam diseminasi hasil penelitian yang digelar Universitas 17 Agustus 1945 Banyuwangi melalui Fakultas Pertanian dan Perikanan, Jumat (24/4). Forum ini mempertemukan akademisi, pemerintah, hingga pelaku usaha untuk membedah persoalan dari hulu ke hilir.

Dalam pemaparan riset, Wakil Dekan Fakultas Pertanian dan Perikanan, Annastia Loh Jayanti, menyebut kontribusi produksi udang Banyuwangi masih sangat minim.

Baca Juga: Purbaya Kaget Wacana PPN Jalan Tol di Renstra DJP, Menkeu: Saya Belum Tahu, Akan Saya Cek

“Pada 2025, suplai dari Banyuwangi hanya mampu memenuhi sekitar 7,66 persen kebutuhan Unit Pengolahan Ikan di Jawa Timur,” ujarnya.

Angka tersebut menjadi indikator jelas bahwa potensi pasar masih terbuka lebar. Namun, kapasitas produksi belum mampu mengejar permintaan.

Tiga Titik Kritis Produksi

Penelitian yang dilakukan tim Untag Banyuwangi memetakan persoalan dalam tiga fokus utama. Yakni suplai dan permintaan, faktor produksi, serta rantai pasok udang.

Dari sisi produksi, ada tiga faktor dominan yang memengaruhi produktivitas tambak. Pertama kualitas benur atau bibit udang. Kedua kualitas air tambak. Ketiga, kapasitas sumber daya manusia (SDM) petambak.

Baca Juga: TransNusa Buka Rute Jakarta–Lombok, Persaingan Maskapai Memanas di BIZAM

“Tiga faktor ini yang paling menentukan. Kalau ingin meningkatkan produksi, harus fokus pada perbaikan di titik tersebut,” tegas Annastia.

Riset tersebut melibatkan 52 petambak sebagai sampel. Hasilnya menunjukkan, tidak semua tambak aktif berproduksi meski jumlahnya cukup banyak.

Salah satu penyebabnya adalah dampak kasus kontaminasi radioaktif Cesium-137 yang sempat mencuat pada 2025. Kasus itu memicu kekhawatiran di kalangan petambak hingga sebagian memilih menghentikan produksi.

“Dampaknya cukup signifikan. Produksi sempat turun karena petambak berhenti. Tapi sekarang mulai pulih seiring harga yang membaik,” jelasnya.

Rantai Pasok dan Margin Tinggi

Selain produksi, riset ini juga mengungkap dinamika rantai pasok udang di Banyuwangi. Nilai produk meningkat di setiap tahapan distribusi, mulai dari petambak hingga industri pengolahan.

Baca Juga: Sukun dari Nusantara Diburu Dunia: Dari Fantasi Eropa hingga Solusi Krisis Pangan Global

Dari petambak ke supplier, harga udang mengalami kenaikan sekitar 8 persen. Namun lonjakan terbesar terjadi di tingkat Unit Pengolahan Ikan (UPI).

“Di UPI, margin bisa mencapai lebih dari 70 persen. Karena udang diolah menjadi produk turunan dengan nilai tambah tinggi,” ungkap Annastia.

Meski demikian, tingginya margin tersebut juga diiringi biaya produksi, tenaga kerja, serta risiko usaha yang tidak kecil.

Kolaborasi Jadi Kunci

Kegiatan diseminasi ini dihadiri berbagai pihak, mulai dari Bappeda, Dinas Perikanan, Dinas Tenaga Kerja, hingga Dinas Koperasi. Selain itu, hadir pula petambak, supplier, pelaku UPI, dan akademisi.

Baca Juga: Suzuki APV 2026 Bertahan di Tengah Gempuran Mobil Listrik, Andalkan Ketangguhan dan Biaya Murah

Forum ini diharapkan menjadi titik awal penguatan kolaborasi lintas sektor. Dengan sinergi yang tepat, potensi besar udang Banyuwangi diyakini bisa dioptimalkan.

Peningkatan kualitas benur, pengelolaan air tambak, serta penguatan kapasitas SDM menjadi agenda penting ke depan. Tanpa itu, peluang pasar yang besar hanya akan menjadi potensi tanpa realisasi.

Dengan kondisi saat ini, Banyuwangi berada di persimpangan: antara potensi besar dan keterbatasan produksi. Riset Untag menjadi pengingat bahwa pekerjaan rumah masih panjang—namun peluangnya juga sangat menjanjikan. (fre/aif)

Editor : Ali Sodiqin
#udang Banyuwangi #riset Untag Banyuwangi #produksi udang Jatim #rantai pasok udang #petambak Banyuwangi