RADARBANYUWANGI.ID - Setiap 23 April, dunia memperingati Hari Buku Sedunia atau World Book and Copyright Day. Momentum ini menjadi pengingat pentingnya membaca, penerbitan, serta perlindungan hak cipta di tengah arus informasi digital yang kian deras.
Penetapan hari tersebut dilakukan oleh UNESCO pada 1995 dalam Konferensi Umum di Paris. Tujuannya untuk mengangkat peran buku sebagai jendela pengetahuan sekaligus mendorong minat baca, khususnya di kalangan generasi muda.
“Perayaan ini bertujuan memberikan penghormatan kepada buku dan penulis secara global serta mendorong semua orang, terutama kaum muda, untuk menemukan kesenangan dalam membaca,” demikian semangat yang diusung UNESCO.
Jejak sejarah Hari Buku Sedunia tak lepas dari wilayah Catalunya, Spanyol. Pada 1922, penulis Vicente Clavel Andres mengusulkan hari khusus untuk menghormati Miguel de Cervantes. Awalnya diperingati pada 7 Oktober 1926, perayaan ini kemudian dipindahkan ke 23 April.
Tanggal tersebut dipilih bukan tanpa alasan. Ia memiliki makna simbolis dalam dunia sastra. Tiga sastrawan besar dunia, William Shakespeare, Miguel de Cervantes, dan Inca Garcilaso de la Vega, tercatat meninggal pada 23 April 1616.
Di Catalunya sendiri, tanggal ini bertepatan dengan perayaan Diada de Sant Jordi atau Hari St. George. Tradisinya unik, masyarakat saling bertukar buku dan bunga mawar sebagai simbol cinta dan penghormatan.
Gagasan menjadikan perayaan ini berskala internasional akhirnya terwujud pada 1995. Sejak itu, Hari Buku Sedunia berkembang menjadi gerakan global yang melibatkan berbagai negara.
Sebagai bagian dari upaya tersebut, sejak 2001 UNESCO juga menetapkan program World Book Capital. Setiap tahun, satu kota dipilih untuk menjadi pusat kegiatan literasi dunia selama setahun penuh.
Untuk 2026, kota Rabat di Maroko dipercaya menyandang status tersebut. Kota ini diharapkan mampu menjadi motor penggerak literasi melalui berbagai program budaya dan pendidikan.
Perlu dicatat, Indonesia memiliki Hari Buku Nasional yang diperingati setiap 17 Mei. Tanggal tersebut merujuk pada berdirinya Perpustakaan Nasional Republik Indonesia pada 1980.
Meski berbeda sejarah, kedua peringatan ini memiliki benang merah yang sama, yakni untuk menguatkan budaya membaca di tengah masyarakat.
Editor : Lugas Rumpakaadi