RADARBANYUWANGI.ID - Cahaya kerap dipersepsikan sebagai sesuatu yang instan. Saklar ditekan, ruangan seketika terang.
Namun, di balik kesan tanpa jeda itu, tersimpan angka fundamental yang menjadi fondasi fisika modern, 299.792.458 meter per detik. Batas kecepatan tertinggi di alam semesta.
Pemahaman manusia terhadap kecepatan cahaya tidak lahir dalam sekejap. Pada masa awal, banyak ilmuwan meyakini cahaya tidak membutuhkan waktu untuk merambat.
Pandangan tersebut mulai digugat oleh Galileo Galilei. Ia merancang eksperimen sederhana dengan menempatkan dirinya dan seorang asisten di dua puncak gunung, masing-masing membawa lentera tertutup.
Ketika Galileo membuka penutup lenteranya, sang asisten diminta melakukan hal yang sama segera setelah melihat cahaya. Tujuannya, mengukur selisih waktu tempuh cahaya.
Namun, percobaan itu gagal memberikan hasil pasti. Jarak antargunung tak cukup untuk mengimbangi kecepatan cahaya yang luar biasa tinggi.
Terobosan penting baru terjadi pada 1676 melalui astronom Denmark, Ole Romer. Dengan mengamati pergerakan Io, bulan milik Jupiter, Romer menemukan adanya perbedaan waktu yang tidak dapat dijelaskan ketika Bumi berada lebih jauh dari Jupiter. Ia menyimpulkan bahwa cahaya membutuhkan waktu untuk mencapai Bumi.
Meski hasil perhitungannya sekitar 215 juta meter per detik, yang lebih rendah dari nilai sebenarnya, temuan itu menjadi tonggak penting dalam sejarah ilmu pengetahuan. Untuk pertama kalinya, kecepatan cahaya diukur secara astronomis, bukan hanya asumsi.
Kepastian angka absolut kemudian diperkuat oleh fisikawan Skotlandia, James Clerk Maxwell. Melalui persamaan elektromagnetisme, Maxwell menunjukkan bahwa cahaya adalah gelombang elektromagnetik dengan kecepatan konstan.
Pemahaman tersebut bertahan hingga kini dan menjadi dasar bagi berbagai cabang ilmu pengetahuan modern. “Kecepatan cahaya di ruang hampa adalah hal tercepat yang diizinkan di alam semesta,” ujar Erika Hamden, seorang Profesor Astrofisika dalam penjelasan edukasi sains baru-baru ini.
Editor : Lugas Rumpakaadi