RADARBANYUWANGI.ID - Ikan sapu-sapu kerap dianggap sebagai “ikan pembersih” yang hidup di perairan kotor. Namun, di balik citra tersebut, muncul pertanyaan masyarakat, apakah ikan ini aman dikonsumsi?
Secara teknis, ikan sapu-sapu memang bisa dimakan. Akan tetapi, faktor lingkungan tempat hidupnya menjadi penentu utama keamanan konsumsi.
Ikan sapu-sapu dikenal mampu bertahan hidup di lingkungan ekstrem, termasuk sungai dengan tingkat polusi tinggi. Kemampuannya ini justru menjadi sumber kekhawatiran.
Menurut sejumlah kajian kesehatan, ikan yang hidup di air tercemar berpotensi menyerap logam berat seperti merkuri, timbal, dan kadmium. Zat-zat tersebut dapat terakumulasi dalam tubuh ikan dan berpindah ke manusia saat dikonsumsi.
Ikan sapu-sapu yang dipelihara pada kondisi air yang baik, tidak masalah untuk dikonsumsi. Namun, ikan yang berasal dari perairan buruk tidak layak untuk dimakan. Sebab paparan logam berat dalam jangka panjang diketahui dapat memicu gangguan organ hingga risiko kanker.
Selain itu, ikan dari lingkungan tercemar juga berpotensi membawa bakteri, parasit, dan zat kimia berbahaya yang dapat menyebabkan keracunan makanan dengan gejala seperti mual, muntah, dan diare.
Di sisi lain, ikan sapu-sapu sebenarnya memiliki nilai gizi yang cukup baik jika berasal dari lingkungan bersih. Kandungan proteinnya dilaporkan cukup tinggi, disertai mineral seperti kalsium dan fosfor yang bermanfaat untuk kesehatan tulang.
Namun, manfaat ini kerap tertutupi oleh risiko kontaminasi, terutama di wilayah perkotaan dengan tingkat pencemaran air yang tinggi.
Di beberapa negara, ikan sapu-sapu justru menjadi bagian dari kuliner tradisional. Seperti di Amerika Selatan, Brasil dan Venezuela, ikan ini dikonsumsi karena berasal dari habitat alami yang relatif bersih, seperti Sungai Amazon. Olahannya beragam, mulai dari sup hingga tepung ikan.
Di Meksiko, ikan ini dikenal sebagai “pez diablo” dan diolah menjadi taco, sup, hingga produk olahan seperti dendeng. Sementara di Guyana dan Trinidad, ikan ini juga menjadi bagian dari menu lokal.
Sebaliknya, di Asia, termasuk Indonesia, ikan sapu-sapu lebih sering dianggap sebagai spesies invasif dan jarang dikonsumsi secara terbuka. Meski demikian, ada laporan pemanfaatannya sebagai bahan campuran makanan olahan karena harganya yang murah.
Meski demikian, pakar kesehatan menegaskan bahwa keamanan ikan sapu-sapu sangat bergantung pada asalnya. Ikan dari budidaya air bersih masih berpotensi aman, sedangkan ikan dari sungai liar yang tercemar sebaiknya dihindari.
Dengan kata lain, meski ikan sapu-sapu dapat menjadi alternatif protein, risiko kesehatannya tidak bisa dianggap sepele jika sumbernya tidak jelas.
Ikan sapu-sapu tidak sepenuhnya berbahaya, namun juga bukan pilihan konsumsi yang aman tanpa seleksi ketat.
Di Indonesia, banyak populasi ikan ini hidup di perairan tercemar. Masyarakat perlu berhati-hati dengan memastikan asal-usul ikan sebagai langkah penting sebelum memutuskan untuk mengonsumsinya.
Editor : Lugas Rumpakaadi