RADARBANYUWANGI.ID – Perjuangan belasan siswa sekolah dasar di pelosok hutan Banyuwangi ini jauh dari kata biasa.
Demi mengikuti Tes Kemampuan Akademik (TKA), mereka harus meninggalkan sekolah, menembus medan ekstrem, hingga dikawal polisi untuk mengantisipasi ancaman hewan liar.
Belasan siswa SDN 2 Sarongan, Kecamatan Pesanggaran, Banyuwangi, terpaksa “mengungsi” ke Aula Perlindungan Hutan dan Pelestarian Alam (PHPA) Meru Betiri untuk mengikuti ujian yang dimulai Senin (20/4).
Keputusan ini diambil karena keterbatasan jaringan internet di sekolah mereka yang berada di kawasan hutan konservasi.
SDN 2 Sarongan sendiri berlokasi di Dusun Sukomade, Desa Sarongan—wilayah terpencil yang masuk kawasan hutan lindung.
Akses menuju sekolah pun tidak mudah. Setiap hari, siswa harus melewati jalur terjal di tengah rimbunnya hutan.
Kondisi tersebut semakin menantang saat pelaksanaan TKA yang digelar secara daring selama dua hari.
Baca Juga: Polresta Banyuwangi Tunjukkan Kepedulian, Evakuasi ODGJ Berawal dari Laporan Media Sosial
Tanpa jaringan internet yang memadai, pelaksanaan ujian di sekolah tidak memungkinkan.
“Pelaksanaan TKA terpaksa dialihkan ke Aula PHPA Meru Betiri agar siswa bisa terhubung dengan sistem ujian daring,” ujar Kepala SDN 2 Sarongan, Angga Setiawan.
Perpindahan lokasi ujian ini bukan sekadar soal teknis, melainkan juga soal keselamatan.
Untuk mencapai lokasi ujian, para siswa harus diangkut menggunakan truk menyusuri jalur hutan yang sulit dan berisiko.
Bhabinkamtibmas Desa Sarongan, Briptu Robi Wijaya, turun langsung mengawal perjalanan tersebut. Sebanyak 12 siswa dijemput dari sekolah dan diantar bersama menuju lokasi ujian.
Baca Juga: Jangan Salah Didik! Ini Cara Orang Tua Mengenalkan Masa Remaja ke Anak
“Jalurnya cukup sulit. Siswa harus berkumpul di sekolah, lalu diantar menggunakan truk menuju lokasi ujian,” jelasnya.
Perjalanan menuju Aula PHPA bukan tanpa tantangan. Jalur yang dilalui berupa jalan tanah, menanjak, serta dikelilingi hutan lebat.
Dalam kondisi tertentu, akses tersebut bisa menjadi licin dan berbahaya.
Namun tantangan tidak berhenti di situ. Lokasi ujian yang berada di area terbuka juga memiliki risiko gangguan dari satwa liar.
“Karena ini kawasan hutan, potensi adanya hewan liar seperti monyet bahkan ular cukup tinggi. Makanya kami berjaga untuk memastikan keamanan siswa,” tegas Robi.
Pengamanan dilakukan selama proses keberangkatan hingga pelaksanaan ujian berlangsung.
Baca Juga: Ancaman Nyata Ikan Sapu-sapu, Spesies Invasif yang Merusak Ekosistem Perairan Indonesia
Polisi juga siap membantu jika terjadi kendala di lapangan, baik teknis maupun non-teknis.
Meski dihadapkan pada berbagai keterbatasan, semangat para siswa untuk mengikuti ujian tetap tinggi.
Mereka menjalani perjalanan panjang dan penuh risiko demi mendapatkan hak pendidikan yang sama seperti siswa di wilayah perkotaan.
“Semoga pelaksanaan TKA berjalan lancar. Terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu, termasuk Bhabinkamtibmas dan pihak taman nasional,” ucap Angga.
Kisah ini menjadi potret nyata kesenjangan akses pendidikan di wilayah terpencil, sekaligus bukti bahwa keterbatasan bukan halangan bagi anak-anak untuk terus belajar dan meraih masa depan. (sas/sgt)
Editor : Ali Sodiqin