RADARBANYUWANGI.ID - Keberadaan ikan sapu-sapu kian menjadi sorotan setelah sejumlah penelitian ilmiah mengungkap dampak seriusnya terhadap ekosistem perairan di Indonesia.
Spesies yang awalnya populer sebagai pembersih akuarium ini justru berubah menjadi ancaman ketika dilepas ke alam liar.
Secara ilmiah, ikan sapu-sapu termasuk dalam genus Pterygoplichthys dari famili Loricariidae.
Kemampuannya beradaptasi dan berkembang biak dengan cepat membuat spesies ini mudah mendominasi habitat baru, sekaligus menggeser populasi ikan lokal.
Penelitian dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) pada periode 2023–2024 menunjukkan peningkatan signifikan populasi ikan sapu-sapu di Sungai Ciliwung.
Dalam kajian tersebut, ikan ini tercatat sebagai salah satu spesies dengan tingkat kelimpahan tertinggi.
“Dominasi spesies invasif seperti ikan sapu-sapu dapat mengubah komposisi ikan lokal secara signifikan,” demikian temuan dalam laporan riset tersebut.
Secara ekologis, perilaku ikan sapu-sapu yang menggali dasar perairan menimbulkan dampak berantai.
Aktivitas tersebut menyebabkan sedimen terangkat ke permukaan, meningkatkan kekeruhan air, serta menghambat penetrasi cahaya matahari.
Kondisi ini berdampak langsung pada terganggunya proses fotosintesis tumbuhan air yang berperan penting dalam produksi oksigen.
Tidak hanya itu, akumulasi sedimen akibat aktivitas ikan ini juga mempercepat pendangkalan sungai dan danau.
Dampak lanjutannya adalah berkurangnya kapasitas tampung air, yang berpotensi meningkatkan risiko banjir di wilayah sekitar.
Di sisi lain, ikan sapu-sapu juga menimbulkan tekanan kompetitif terhadap spesies lokal.
Mereka bersaing untuk mendapatkan sumber makanan, bahkan dalam beberapa kasus menyebabkan penurunan populasi ikan asli.
Kajian ilmiah yang dipublikasikan dalam jurnal Zoological Studies menyebutkan bahwa invasi global ikan sapu-sapu berdampak luas, tidak hanya terhadap keanekaragaman hayati tetapi juga pada aspek ekonomi masyarakat yang bergantung pada sumber daya perairan.
Penelitian lain di jurnal nasional turut menguatkan temuan tersebut dengan mengategorikan ikan sapu-sapu sebagai spesies invasif dominan di sejumlah wilayah, seperti Sungai Ciliwung dan Danau Sidenreng.
Tingginya kemampuan adaptasi menjadi faktor utama keberhasilan spesies ini dalam merusak keseimbangan ekosistem.
Para ahli pun menegaskan pentingnya kesadaran masyarakat dalam mencegah penyebaran ikan ini.
“Pelepasan ikan sapu-sapu ke perairan umum harus dihindari karena berpotensi merusak ekosistem,” tulis salah satu kajian ilmiah.
Upaya pengendalian populasi serta edukasi publik dinilai menjadi langkah krusial untuk menjaga keseimbangan ekosistem perairan Indonesia.
Tanpa intervensi yang tepat, dominasi ikan sapu-sapu dikhawatirkan akan terus meluas dan memperparah kerusakan lingkungan.
Editor : Lugas Rumpakaadi