RADARBANYUWANGI.ID - Di tengah pesatnya modernisasi pendidikan, Pondok Pesantren Walisongo, Mimbaan, Panji, Situbondo, Jawa Timur, justru tumbuh sebagai salah satu benteng tradisi keilmuan Islam yang tetap relevan.
Dari awal yang sederhana—sekadar pengajian kampung—pesantren ini kini menjelma menjadi pusat pendidikan besar dengan ribuan santri.
Transformasi itu tidak terjadi dalam sekejap. Ada jejak panjang, konsistensi, dan visi besar yang terus dijaga sejak awal berdiri.
Dari Pengajian Sederhana ke Pesantren Besar
Pesantren ini didirikan pada 1993 oleh KHR. Moh. Kholil As’ad, putra dari ulama kharismatik KHR. As’ad Syamsul Arifin.
Pada masa awal, kegiatan yang berjalan hanyalah:
-
Pengajian Al-Qur’an untuk anak-anak
-
Majelis taklim masyarakat
-
Pembinaan keagamaan sederhana
Baca Juga: Latihan Soal TKA SD Bahasa Indonesia: Fokus Logika dan Pemahaman, Model HOTS
Namun, dari titik itulah pondasi pesantren mulai dibangun. Perlahan, jumlah santri bertambah, kepercayaan masyarakat meningkat, dan lembaga pendidikan mulai dikembangkan.
Berkembang Pesat, Tampung Ribuan Santri
Kini, Ponpes Walisongo Mimbaan berdiri di atas lahan sekitar 15 hektare di Kecamatan Panji, Situbondo.
Data terbaru menunjukkan:
-
Jumlah santri mencapai ±8.900 orang
-
Tersedia sekitar 500 kamar asrama
-
Fasilitas meliputi pendidikan, asrama, hingga unit ekonomi
Tak hanya menjadi tempat belajar agama, pesantren ini juga mengelola:
-
Pertanian
-
Perkebunan
-
Peternakan
Baca Juga: 400 Siswa Ramaikan Athletics Students Competition Banyuwangi, Ajang Jaring Atlet Muda Sejak Usia TK
Langkah ini menjadikan pesantren tidak hanya mandiri secara pendidikan, tetapi juga memiliki basis ekonomi yang kuat.
Sistem Pendidikan Terpadu
Salah satu kekuatan utama pesantren ini terletak pada sistem pendidikannya yang terintegrasi.
Santri tidak hanya belajar ilmu agama, tetapi juga pendidikan formal, mulai dari:
-
SD/MI
-
SMP/MTs
-
SMA/MA/SMK
Di sisi lain, pendidikan diniyah tetap menjadi ruh utama:
-
Diniyah Ula
-
Diniyah Wustha
-
Diniyah Ulya
Model ini menjawab tantangan zaman—menggabungkan tradisi pesantren dengan kebutuhan pendidikan modern.
Lahirkan Perguruan Tinggi Berbasis Al-Qur’an
Pengembangan tidak berhenti di jenjang menengah. Di lingkungan pesantren juga berdiri STIQ Walisongo Situbondo.
Baca Juga: Seleksi PPDS Dirombak: Pemerintah Terapkan Sistem Terpusat Mirip SNBT, PTN–PTS Wajib Ikut
Perguruan tinggi ini menjadi wadah lanjutan bagi santri untuk mendalami ilmu Al-Qur’an dan keislaman secara akademik.
Keberadaan STIQ memperkuat posisi pesantren sebagai pusat kaderisasi ulama dan intelektual Muslim.
Komitmen Ahlussunnah wal Jamaah
Secara ideologis, pesantren ini berpegang teguh pada manhaj Ahlussunnah wal Jamaah.
Nilai-nilai yang ditekankan meliputi:
-
Penguatan akidah
-
Pendalaman kitab kuning
-
Pembentukan akhlak
-
Kemandirian santri
Baca Juga: MyRepublic Air Resmi Meluncur: Internet Tanpa Kabel 100 Mbps Rp 100 Ribu, Tantang Dominasi Fiber
Di tengah arus globalisasi, pendekatan ini menjadi benteng penting dalam menjaga identitas keislaman yang moderat.
Peran Strategis di Tengah Masyarakat
Keberadaan Ponpes Walisongo Mimbaan tidak hanya terbatas pada pendidikan.
Pesantren ini juga berperan sebagai:
-
Pusat dakwah masyarakat
-
Penggerak ekonomi lokal
-
Pencetak kader pemimpin umat
Dengan ribuan santri yang berasal dari berbagai daerah, pengaruhnya melampaui batas geografis Situbondo.
Antara Tradisi dan Modernitas
Perjalanan pesantren ini menunjukkan satu hal penting: tradisi tidak harus ditinggalkan untuk berkembang.
Baca Juga: Profil Siti Nurhaliza: Diva Asia Tenggara yang Tetap Tegar Usai Kecelakaan Tol MEX Malaysia
Sebaliknya, Ponpes Walisongo Mimbaan justru membuktikan bahwa:
-
Tradisi bisa menjadi fondasi
-
Modernisasi bisa menjadi penguat
Di tengah tantangan zaman, pesantren ini terus bergerak—menjaga warisan keilmuan sekaligus menyiapkan generasi masa depan.
Dari pengajian sederhana di kampung hingga menjadi lembaga pendidikan besar, perjalanan Pondok Pesantren Walisongo Mimbaan adalah cerita tentang konsistensi, kepercayaan, dan visi jangka panjang.
Dan hari ini, di tengah dinamika pendidikan nasional, pesantren ini tetap berdiri—bukan hanya sebagai tempat belajar, tetapi sebagai pusat pembentukan karakter dan peradaban. (*)
Editor : Ali Sodiqin