RADARBANYUWANGI.ID - Berikut materi khutbah Jumat tentang takabur berdasarkan data yang Anda berikan, disusun lengkap (khutbah pertama & kedua), dengan bahasa yang runtut dan mudah dipahami.
KHUTBAH JUMAT PERTAMA
Bahaya Takabur: Menolak Kebenaran dan Merendahkan Sesama
Pembukaan
إِنَّ الْحَمْدَ لِلّٰهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ
وَنَعُوذُ بِاللّٰهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا
مَنْ يَهْدِهِ اللّٰهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ
وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ
Amma ba’du.
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah ﷻ dengan sebenar-benarnya takwa, yaitu dengan menaati perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.
Pada kesempatan khutbah ini, kita akan membahas satu penyakit hati yang sangat berbahaya namun sering tidak disadari, yaitu takabur atau sombong.
1. Definisi Takabur Menurut Rasulullah SAW
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Takabur adalah menolak kebenaran dan merendahkan orang lain.”
(HR. Muslim)
Dari hadis ini, para ulama menjelaskan bahwa takabur memiliki dua unsur utama:
-
Menolak kebenaran
-
Merendahkan orang lain
Meskipun seseorang berilmu, berharta, atau memiliki kedudukan, jika dua hal ini ada dalam dirinya, maka ia telah terjatuh dalam sifat takabur.
2. Takabur yang Pertama: Menolak Kebenaran
Jamaah rahimakumullah,
Bentuk pertama takabur adalah seseorang menolak kebenaran meskipun ia mengetahui itu benar.
Biasanya hal ini terjadi karena:
-
Kebenaran datang dari orang yang lebih muda
-
Kebenaran disampaikan oleh orang yang lebih rendah status sosialnya
-
Ego dan gengsi menghalangi menerima nasihat
Padahal, kebenaran tetaplah kebenaran, siapa pun yang menyampaikannya.
Pelajaran dari Kisah Fir’aun
Fir’aun binasa bukan karena tidak melihat tanda-tanda kekuasaan Allah, tetapi karena kesombongan.
Ia telah menyaksikan mukjizat Nabi Musa AS, namun tetap menolak beriman. Bahkan para pembesarnya seperti Haman memperkuat kesombongan itu dengan berkata bahwa jika Fir’aun beriman, maka hilanglah kekuasaan dan kehormatannya.
Inilah takabur yang membutakan hati.
Pelajaran dari Bani Israil dan Kaum Quraisy
Demikian pula Bani Israil terhadap Nabi Isa AS. Mereka melihat mukjizat besar, tetapi menolak kebenaran karena takut kehilangan kedudukan.
Begitu juga tokoh-tokoh kafir Quraisy seperti Abu Lahab. Mereka mengakui keagungan Al-Qur’an, tetapi tetap menolak karena kesombongan.
Jamaah sekalian,
Inilah bahaya takabur: kebenaran ditolak bukan karena tidak tahu, tetapi karena tidak mau tunduk.
3. Takabur yang Kedua: Merendahkan Orang Lain
Bentuk kedua takabur adalah seseorang yang merasa dirinya lebih baik dari orang lain.
Ia melihat dirinya:
-
Lebih kaya
-
Lebih pintar
-
Lebih tampan
-
Lebih terpandang
Lalu ia merendahkan orang lain seakan-akan mereka tidak bernilai.
Padahal semua itu bukan miliknya. Itu adalah karunia Allah ﷻ yang bisa diambil kapan saja.
Allah ﷻ berfirman bahwa semua nikmat adalah titipan, bukan milik mutlak manusia.
4. Bahaya Takabur dalam Kehidupan
Takabur dapat merusak:
-
Hubungan antar manusia
-
Kebenaran ilmu
-
Hati menjadi keras
-
Menutup jalan hidayah
Bahkan Rasulullah ﷺ menegaskan bahwa orang yang di dalam hatinya ada kesombongan sekecil biji zarah tidak akan masuk surga dengan hati yang bersih dari penyakit itu.
Penutup Khutbah Pertama
Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,
Takabur bukan hanya soal sikap, tetapi penyakit hati yang sangat halus.
Mari kita selalu memohon kepada Allah agar dijauhkan dari kesombongan, dan diberi hati yang rendah hati dalam menerima kebenaran.
أقول قولي هذا وأستغفر الله لي ولكم فاستغفروه إنه هو الغفور الرحيم
KHUTBAH JUMAT KEDUA
Alhamdulillahi rabbil ‘alamin…
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Marilah kita tingkatkan ketakwaan kepada Allah ﷻ.
Kita telah memahami bahwa takabur adalah:
-
Menolak kebenaran
-
Merendahkan orang lain
Maka marilah kita lawan sifat ini dengan:
-
Tawadhu’ (rendah hati)
-
Menerima nasihat
-
Menghargai orang lain
-
Menyadari bahwa semua kelebihan adalah karunia Allah
Doa Penutup
اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنَ الْكِبْرِ وَالْعُجْبِ وَالْغُرُورِ
اللَّهُمَّ طَهِّرْ قُلُوبَنَا مِنَ التَّكَبُّرِ وَاجْعَلْنَا مِنَ الْمُتَوَاضِعِينَ لَكَ
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ
وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِهِمْ
Rabbana atina fid dunya hasanah, wa fil akhirati hasanah, wa qina ‘adhaban nar.
Amin ya Rabbal ‘alamin. (*)
Editor : Ali Sodiqin