Mahasiswa Untag Banyuwangi Borong 3 Penghargaan Internasional, Inovasi EDUMORA Jadi Sorotan di Malaysia-Singapura

M Ksatria Raya • Dipublikasikan Jumat, 17 April 2026 | 05:33 WIB
HARUMKAN BANYUWANGI: Mohamad Fahat Saputra, mahasiswa dari jurusan Pendidikan Bahasa Inggris Untag Banyuwangi meraih tiga penghargaan dalam ajang IYIS yang digelar di Malaysia dan Singapura pada Selasa (7/4) hingga Jumat (10/4). (Fahat Saputra for Radar Banyuwangi)
HARUMKAN BANYUWANGI: Mohamad Fahat Saputra, mahasiswa dari jurusan Pendidikan Bahasa Inggris Untag Banyuwangi meraih tiga penghargaan dalam ajang IYIS yang digelar di Malaysia dan Singapura pada Selasa (7/4) hingga Jumat (10/4). (Fahat Saputra for Radar Banyuwangi)

RADARBANYUWANGI.ID – Di tengah keterbatasan akses pendidikan di daerah pelosok, sebuah ide dari mahasiswa Banyuwangi justru menembus panggung internasional. Mohamad Fahat Saputra, mahasiswa Universitas 17 Agustus (Untag) Banyuwangi, sukses menyita perhatian dunia lewat inovasi pendidikan yang lahir dari realitas di lapangan.

Tak sekadar tampil, Fahat langsung memborong tiga penghargaan dalam ajang International Youth Innovation Summit (IYIS) yang digelar di Malaysia dan Singapura pada 7–10 April lalu. Prestasi ini sekaligus menjadi bukti bahwa gagasan dari daerah mampu bersaing di level global.

Mahasiswa 22 tahun asal Kecamatan Sempu itu meraih penghargaan 2nd Best Video Innovation dan Best Team bersama timnya. Lebih mencolok lagi, ia juga dinobatkan sebagai The Most Favorite Delegate—pengakuan individu atas kualitas ide, kemampuan presentasi, dan karakter personal di mata peserta dari berbagai negara.

Capaian tersebut tidak datang instan. Gagasan yang diusung Fahat berangkat dari pengalaman nyata saat terjun langsung ke sekolah-sekolah di wilayah terpencil Banyuwangi. Ia menyaksikan langsung keterbatasan tenaga pengajar dan minimnya akses terhadap media pembelajaran digital.

Dari situ lahir EDUMORA—sebuah inovasi pendidikan berbasis Sustainable Development Goals (SDGs) yang dirancang untuk menjawab persoalan di wilayah 3T (tertinggal, terluar, dan terdepan).

“Saya mempresentasikan inovasi pendidikan berbasis SDGs bernama EDUMORA, yang bisa digunakan secara offline maupun online untuk meningkatkan akses pendidikan inklusif,” ujar Fahat.

EDUMORA dirancang menyerupai proyektor pintar. Perangkat ini mampu menampilkan materi pembelajaran sesuai jenjang pendidikan dan kurikulum. Tidak hanya itu, teknologi yang dibenamkan juga memungkinkan pengguna mengakses fitur kecerdasan buatan (AI) secara offline.

“Bentuknya seperti proyektor. Ketika dihidupkan, pengguna bisa memilih materi sesuai jenjang. Ada juga fitur AI offline, jadi ketika ada pertanyaan bisa langsung dicari jawabannya dari materi yang tersedia,” jelasnya.

Inovasi ini menjadi nilai lebih di tengah tantangan konektivitas internet di daerah terpencil. EDUMORA menawarkan solusi praktis tanpa bergantung sepenuhnya pada jaringan online, sekaligus menghadirkan materi interaktif berbasis buku digital dan video animasi.

Dalam ajang IYIS, Fahat tergabung dalam tim beranggotakan lima orang yang berkompetisi di bidang inovasi pendidikan bersama delegasi dari berbagai negara. Presentasi EDUMORA yang dilakukan pada hari ketiga menjadi salah satu momen krusial yang mengantarkannya meraih pengakuan internasional.

Selama mengikuti rangkaian kegiatan, Fahat juga aktif dalam berbagai agenda, mulai dari kunjungan edukatif, diskusi panel, hingga membangun jejaring global dengan peserta lintas negara.

“Selain kompetisi, saya juga mengikuti diskusi panel, kunjungan edukatif, dan networking dengan peserta dari berbagai negara,” katanya.

Prestasi ini sekaligus menjadi catatan penting bagi dunia pendidikan di daerah. Di tengah keterbatasan fasilitas, lahir inovasi yang justru mampu menjawab persoalan global.

Fahat pun mengajak generasi muda untuk tidak ragu mencoba dan berani melangkah, meski berasal dari daerah dengan segala keterbatasan.

“Jangan tunggu hebat untuk meraih impian. Mulailah untuk menjadi hebat. Gagal itu wajar, yang tidak wajar adalah ketika tidak mau mencoba,” pesannya.

Capaian ini tak hanya mengharumkan nama pribadi, tetapi juga membawa nama Untag Banyuwangi ke panggung internasional—membuktikan bahwa ide besar bisa lahir dari ruang kelas sederhana dan menjangkau dunia. (ray/aif)

Editor : Ali Sodiqin
Mohamad Fahat Saputra IYIS 2026 inovasi EDUMORA prestasi mahasiswa internasional untag banyuwangi