Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Salinitas Melonjak Drastis, Petani Pesisir Bangladesh Terjebak Antara Gagal Panen dan Perubahan Iklim yang Tak Terkejar Sains

Lugas Rumpakaadi • Rabu, 15 April 2026 | 09:15 WIB
Ilustrasi, lonjakan salinitas tanah hingga 25 dS/m di pesisir Bangladesh melampaui batas toleransi padi modern. (Pexels/Adem Albayrak)
Ilustrasi, lonjakan salinitas tanah hingga 25 dS/m di pesisir Bangladesh melampaui batas toleransi padi modern. (Pexels/Adem Albayrak)

RADARBANYUWANGI.ID - Di sebuah lahan di Kaliganj, wilayah pesisir Satkhira, Bangladesh barat daya, tangan kasar Amal Kumar berbicara lebih dulu sebelum kata-kata keluar dari mulutnya. Selama empat dekade ia menggarap delapan bigha lahan, namun musim ini hasilnya jauh dari harapan.

Batang padi yang ia tanam tampak kerdil dan pucat. Sebagian bahkan mati sebelum sempat tumbuh sempurna. Sekitar seperempat tanaman mengering di tempat.

“Saya akan menghabiskan Tk120.000 untuk tanaman ini, dari persemaian hingga panen,” ujarnya lirih, dikutip TBSNews.net.

“Saya tidak yakin hasilnya bisa menutup bahkan setengah dari biaya itu.”

Masalah utama tertulis jelas di dalam tanah: salinitas ekstrem. Di wilayah Khajabaria, tingkat salinitas tanah mencapai 25 dS/m, jauh melampaui ambang batas toleransi pertanian yang hanya 7,5 dS/m.

Selama bertahun-tahun, Bangladesh mengandalkan inovasi ilmiah untuk melawan intrusi air asin. Lembaga riset berhasil mengembangkan varietas padi tahan garam seperti BRRI dhan67, dhan97, dan dhan99.

Varietas tersebut mampu bertahan pada salinitas hingga 12 dS/m. Namun, kondisi di lapangan kini jauh melampaui kemampuan itu.

“Ketika tingkat salinitas mencapai 20–25 dS/m, budidaya padi menjadi hampir mustahil,” jelas ilmuwan BRRI, Md Abu Bakar Siddique.

“Kami menghadapi target yang terus bergerak.”

Data terbaru menunjukkan lonjakan drastis. Dalam empat tahun, salinitas tanah meningkat hampir enam kali lipat, dari 4,1 dS/m pada 2022 menjadi 25 dS/m di beberapa lokasi.

Fenomena ini tidak hanya berasal dari laut, tetapi juga dari dalam tanah. Kurangnya curah hujan memicu naiknya air asin dari lapisan bawah melalui kapilaritas.

Romana Akter, peneliti BRRI, menjelaskan dampaknya pada tanaman.

“Ketika konsentrasi garam di tanah lebih tinggi daripada di dalam tanaman, air justru keluar dari akar. Padi tidak hanya berhenti tumbuh, ia mengalami dehidrasi dari dalam.”

Pada kondisi terburuk, permukaan tanah bahkan tampak seperti tertutup kristal putih, jejak nyata akumulasi garam.

Krisis ini didorong oleh kombinasi faktor kenaikan permukaan laut, berkurangnya aliran Sungai Gangga akibat Bendungan Farakka, serta siklon berulang seperti Amphan, Yaas, dan Remal.

Selain itu, praktik budidaya udang turut memperparah keadaan. Tanggul sengaja dibuka untuk memasukkan air laut, yang kemudian merembes ke lahan pertanian sekitar.

Dampaknya sangat luas. Dari 226 ribu hektare lahan di Satkhira, sekitar 153 ribu hektare telah terdampak salinitas. Lahan padi terus menyusut selama 15 tahun terakhir.

Masalah tidak berhenti di sektor pertanian. Air minum pun ikut tercemar. Survei PBB tahun 2021 menunjukkan 73% penduduk di wilayah pesisir mengonsumsi air asin yang tidak aman.

Dampak kesehatan pun muncul, terutama pada perempuan. Risiko keguguran meningkat 1,3 kali dibandingkan wilayah non-pesisir.

Kajoli Begum, warga yang kehilangan rumah akibat banjir berulang, menggambarkan situasi dengan getir.

“Setiap tahun kami membangun kembali, dan setiap tahun sungai datang lagi. Kami tidak tahu sampai kapan bisa bertahan.”

Pemerintah dan ilmuwan terus berupaya mencari solusi. Pada Februari 2026, enam varietas padi baru disetujui, termasuk BRRI dhan117 yang memiliki masa tanam lebih pendek.

“Keunggulan utama varietas ini adalah durasinya yang singkat,” kata Mamunur Rashid. “Padi bisa dipanen sebelum salinitas mencapai puncaknya.”

Namun strategi ini diakui hanya sebagai solusi sementara.

“Kami hanya membeli waktu,” ujar pejabat pertanian Saiful Islam.

Sementara itu, petani mulai beralih ke tanaman alternatif seperti bunga matahari, sayuran tahan garam, dan terutama tambak udang.

Ironisnya, tambak ini justru memperluas penyebaran garam, menciptakan lingkaran masalah yang sulit diputus.

Ketika varietas resmi tidak lagi cukup, petani mencari solusi sendiri. Benih tidak bersertifikat dari India, dikenal sebagai “Rod Miniket”, mulai banyak digunakan karena dianggap lebih tahan.

“Varietas itu cukup menguntungkan bagi petani,” ungkap Rashid, meski tanpa dukungan resmi.

Di tengah ketidakpastian ini, harapan masih tersisa, meski tipis.

“Kami sempat kehilangan harapan ketika tanah terlalu asin,” kata petani Anwar Hossain.

“Dengan padi tahan garam, setidaknya kami masih bisa menanam sesuatu.”

Masalah utama bukan kurangnya inovasi, melainkan laju perubahan iklim yang melampaui kecepatan riset.

Dibutuhkan waktu bertahun-tahun untuk mengembangkan varietas baru, sementara salinitas melonjak drastis hanya dalam hitungan tahun.

Bagi Amal Kumar, persoalan ini bukan soal sains atau angka. Ini soal bertahan hidup.

“Dulu tanah memberi,” katanya pelan.

“Sekarang, tanah justru mengambil.”

Editor : Lugas Rumpakaadi
#Petani #gagal panen #bangladesh #perubahan iklim