RADARBANYUWANGI.ID – Pelaksanaan Tes Kompetensi Akademik (TKA) jenjang SMP di Banyuwangi tak hanya berjalan lancar, tetapi juga menghadirkan fenomena menarik. Sejumlah siswa mampu menyelesaikan soal ujian jauh lebih cepat dari waktu yang disediakan.
Pantauan di SMPN 2 Banyuwangi pada Senin (7/4/2026), dari 20 peserta yang diamati, sebanyak 11 siswa kelas IX mengaku hanya membutuhkan waktu sekitar 20 menit untuk merampungkan soal. Padahal, waktu yang disediakan mencapai 75 menit.
Fenomena ini menjadi indikasi bahwa soal TKA berbasis literasi dan numerasi relatif mudah dipahami siswa. Salah satu peserta, Pratama, mengaku tidak mengalami kesulitan berarti saat mengerjakan soal.
“Ujiannya cukup mudah, saya bisa menyelesaikan sekitar 20 menit tanpa menyontek. Yang penting teliti,” ujarnya.
Hal senada disampaikan Naufal. Ia menyebut kemudahan soal tidak terlepas dari persiapan matang yang telah dilakukan sebelumnya melalui tryout.
“Sekitar 20 menit selesai. Soalnya lumayan mudah karena sudah ikut tryout sebelum TKA,” katanya.
Sementara itu, Felia, peserta lainnya, menilai waktu pengerjaan yang diberikan bahkan lebih dari cukup. “Soalnya cenderung mudah dan waktunya sangat cukup untuk menyelesaikan tepat waktu,” ungkapnya.
Soal Bahasa Indonesia Dinilai Familiar
Pada hari kedua pelaksanaan TKA, materi yang diujikan adalah Bahasa Indonesia dengan format pilihan ganda serta benar-salah. Format ini dinilai cukup familiar bagi siswa.
Aleta, salah satu peserta, menyebut tipe soal yang dihadapi tidak jauh berbeda dengan latihan yang diberikan di sekolah. Hal ini membuat siswa lebih percaya diri dalam mengerjakan ujian.
Dispendik Tekankan Kejujuran dan Persiapan
Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pendidikan Banyuwangi Alfian turut meninjau langsung pelaksanaan TKA di SMPN 2 Banyuwangi. Ia menegaskan pentingnya persiapan tanpa menjadikan ujian sebagai beban bagi siswa.
“Anak-anak harus mempersiapkan diri sejak jauh hari, tapi jangan menganggap ini sebagai beban,” ujarnya.
Alfian juga menekankan bahwa integritas menjadi hal utama dalam pelaksanaan ujian. Ia mengingatkan siswa untuk tidak melakukan kecurangan demi meraih nilai tinggi.
“Utamakan kejujuran. Jangan sampai mendapatkan nilai baik dengan cara curang, karena itu akan berdampak pada masa depan mereka,” tegasnya.
Menurutnya, paradigma ujian saat ini telah berubah. Jika sebelumnya ujian identik dengan tekanan, kini diharapkan menjadi sarana evaluasi diri.
“Kalau dulu siswa cenderung cemas saat ujian, sekarang justru harusnya bahagia karena ini menjadi bahan refleksi untuk menjadi lebih baik,” tambahnya.
Peran Sekolah dalam Persiapan Siswa
Kepala SMPN 2 Banyuwangi, Dewi Astuti, menyampaikan bahwa keberhasilan siswa menyelesaikan soal dengan cepat tidak lepas dari pembekalan yang diberikan sekolah.
“Kami sudah menyiapkan siswa melalui pembelajaran berbasis literasi dan numerasi, termasuk tryout dan geladi bersih sebelum pelaksanaan TKA,” ujarnya.
Hal serupa juga terjadi di sekolah lain. Kepala SMPN 1 Glagah, Dardiri, memastikan pelaksanaan TKA berjalan lancar tanpa kendala.
“Alhamdulillah, dari sisi teknis, sarana, dan personalia semuanya berjalan lancar,” katanya.
Sementara itu, Kepala SMPN 1 Giri, Hadi Bagijono, menjelaskan bahwa pelaksanaan TKA di sekolahnya dibagi menjadi tiga ruang dan tiga sesi dengan total 325 peserta.
“Hari pertama siswa mengerjakan Matematika dan survei karakter, hari kedua Bahasa Indonesia dan survei lingkungan belajar. Semua berjalan baik,” jelasnya.
Indikator Awal Evaluasi Pendidikan
Pelaksanaan TKA tahun ini tidak menjadi penentu kelulusan siswa, melainkan sebagai tolok ukur awal (baseline) dalam evaluasi sistem pendidikan.
Dengan pendekatan literasi dan numerasi yang semakin ditekankan, hasil TKA diharapkan mampu memberikan gambaran kemampuan siswa secara lebih komprehensif.
Fenomena siswa yang mampu menyelesaikan soal lebih cepat pun menjadi catatan penting, bahwa pendekatan pembelajaran yang diterapkan selama ini mulai menunjukkan hasil positif. (ray/aif)
Editor : Ali Sodiqin