25 Pelajar Australia Keliling Kota Banyuwangi Naik Becak, Belajar Budaya hingga Membatik

Fredy Rizki Manunggal • Dipublikasikan Sabtu, 4 April 2026 | 00:34 WIB
Sebanyak 25 pelajar Australia keliling Kota Banyuwangi naik becak, belajar budaya, mengunjungi situs bersejarah, hingga mencoba membatik. (Ramada Kusuma/Radar Banyuwangi)
Sebanyak 25 pelajar Australia keliling Kota Banyuwangi naik becak, belajar budaya, mengunjungi situs bersejarah, hingga mencoba membatik. (Ramada Kusuma/Radar Banyuwangi)

RADARBANYUWANGI.ID – Pemandangan menarik terlihat di pusat Kota Banyuwangi pada Kamis pagi (3/3). Rombongan becak kayuh beriringan menyusuri sejumlah ruas jalan utama kota.

Yang menjadi perhatian warga, becak-becak tersebut mengangkut puluhan pelajar asal Australia yang tengah mengikuti program pembelajaran budaya di Bumi Blambangan.

Sebanyak 25 siswa dari John Septimus Roe (JSR) Anglican Community School, Australia, mengikuti city tour keliling Kota Banyuwangi dengan naik becak tradisional.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program pertukaran pelajar internasional yang secara khusus mengenalkan budaya lokal Indonesia kepada siswa mancanegara.

Banyuwangi dipilih sebagai salah satu destinasi utama untuk pembelajaran lintas budaya.


Empat Hari Belajar Budaya di Bumi Blambangan

Selama empat hari berada di Banyuwangi, para pelajar diajak mengeksplorasi berbagai titik ikonik dan destinasi budaya.

Salah satu agenda yang paling menyita perhatian adalah fun becak city tour mengelilingi kawasan kota.

Dengan menggunakan 25 becak kayuh, rombongan siswa asing itu menyambangi sejumlah lokasi bersejarah dan pusat budaya.

Beberapa titik yang dikunjungi antara lain:

Aktivitas tersebut memberikan pengalaman langsung kepada siswa untuk mengenal suasana kota dan kehidupan masyarakat Banyuwangi.


Belajar Sejarah, Kuliner, hingga Membatik

Tidak hanya city tour, para pelajar juga mengikuti beragam aktivitas edukatif.

Mereka diajak mengenal sejarah lokal melalui kunjungan ke bangunan ikonik dan situs budaya.

Selain itu, siswa juga mendapat kesempatan mengikuti cooking class kuliner khas Banyuwangi, termasuk belajar memasak menu tradisional seperti oseng khas daerah.

Pengalaman budaya semakin lengkap saat mereka mencoba membatik motif khas Banyuwangi secara langsung di sanggar batik.

Travel agent Banyuwangi yang mendampingi rombongan, Arief Firmansyah, mengatakan agenda tersebut merupakan program tahunan dari sekolah di Australia.

“Kegiatan ini menjadi bagian dari agenda tahunan sekolah tersebut dalam mengenalkan budaya Indonesia kepada para siswa,” kata Arief.


Sengaja Pilih Becak Kayuh, Cari Nuansa Tradisional

Untuk menghadirkan pengalaman yang lebih otentik, Arief sengaja memilih becak manual yang biasa beroperasi di kawasan Kota Banyuwangi.

Menurutnya, moda transportasi tradisional ini menjadi salah satu daya tarik tersendiri bagi siswa asing.

Ia sebenarnya sempat berupaya mencari becak listrik yang pernah dibagikan Presiden Prabowo beberapa waktu lalu.

Namun, pengumpulannya tidak mudah.

“Mencarinya tidak mudah ternyata, saya juga tidak tahu harus mengumpulkan dari mana,” jelasnya.

Karena itu, becak kayuh tradisional dipilih sebagai sarana city tour.

Pilihan tersebut justru memberi pengalaman budaya yang lebih kuat bagi para pelajar.


Bukan Sekadar Wisata, Tapi Pembelajaran Lintas Budaya

Arief menegaskan, program ini bukan sekadar kunjungan wisata biasa.

Lebih dari itu, kegiatan ini dirancang sebagai pembelajaran lintas budaya agar siswa memahami keragaman budaya Indonesia secara langsung.

Harapannya, pengalaman selama berada di Banyuwangi dapat menjadi cerita berharga yang dibawa pulang ke negara asal mereka.

“Ini menjadi embrio agar mereka mengenal Banyuwangi sejak dini dan ke depan bisa kembali lagi,” jelasnya.

Program seperti ini dinilai strategis dalam membangun citra Banyuwangi di mata dunia, khususnya generasi muda internasional.


Banyuwangi Punya Daya Tarik Besar bagi Wisatawan Australia

Menurut Arief, Banyuwangi memiliki potensi wisata yang sangat lengkap, mulai dari budaya, sejarah, kuliner, hingga alam.

Selama ini, wisatawan mancanegara, terutama dari Australia, umumnya masuk melalui Bali sebelum melanjutkan perjalanan ke Banyuwangi.

Kedekatan geografis dengan Bali menjadi keuntungan tersendiri dalam menarik kunjungan wisatawan asing.

“Harapannya, kunjungan seperti ini bisa terus berlanjut. Mereka nanti bisa mengajak keluarganya untuk datang dan melihat Banyuwangi,” pungkasnya.

Kunjungan para pelajar Australia ini diharapkan menjadi promosi tidak langsung bagi sektor pariwisata Banyuwangi di pasar internasional. (fre/aif)

Editor : Ali Sodiqin
wisata budaya Banyuwangi pelajar Australia di Banyuwangi city tour becak Banyuwangi pertukaran pelajar internasional Batik Banyuwangi