RADARBANYUWANGI.ID - Amerika Serikat melalui NASA bersiap mencatat sejarah baru dengan peluncuran misi Artemis II pada Rabu (1/4/2026) waktu setempat. Misi ini menjadi penerbangan berawak pertama menuju orbit Bulan sejak era Apollo berakhir pada 1972.
Peluncuran dijadwalkan berlangsung dari Florida menggunakan roket Space Launch System (SLS) dan kapsul Orion, paling cepat pukul 18.24 waktu setempat atau Kamis (05.24 WIB).
Empat astronaut yang tergabung dalam misi ini adalah Reid Wiseman, Victor Glover, Christina Koch, serta Jeremy Hansen dari Kanada.
Mereka akan menjalani perjalanan selama 10 hari mengelilingi Bulan tanpa pendaratan, serupa dengan misi Apollo 8 pada 1968.
Artemis II membawa sejumlah pencapaian penting, termasuk mengirim perempuan pertama, astronaut kulit berwarna pertama, serta warga non-Amerika pertama dalam misi lunar.
Christina Koch menegaskan pentingnya misi ini bagi ilmu pengetahuan dan masa depan eksplorasi antariksa.
“Bulan adalah saksi bisu pembentukan seluruh tata surya kita,” ujarnya.
“Ia adalah batu loncatan menuju Mars, di mana kita paling mungkin menemukan bukti kehidupan masa lalu.”
Selain nilai ilmiah, misi ini juga menjadi simbol kebangkitan ambisi eksplorasi manusia di luar orbit Bumi setelah lebih dari setengah abad.
Misi Artemis II merupakan tahap krusial dalam program Artemis yang akan menguji berbagai sistem penting, mulai dari pendukung kehidupan, navigasi, hingga komunikasi.
Meski terdapat perbedaan pernyataan terkait komunikasi di sisi jauh Bulan, NASA memastikan sistem tetap memungkinkan kontak dengan awak, meskipun ada potensi gangguan sementara.
Selama melintasi bagian belakang Bulan, astronaut akan mendokumentasikan permukaan melalui foto dan video untuk kemudian dianalisis oleh ilmuwan di Bumi.
Pejabat NASA, Amit Kshatriya, menyatakan kesiapan penuh menjelang peluncuran.
“Roketnya siap, sistemnya siap, awaknya siap.”
Program Artemis dirancang bukan hanya untuk kembali ke Bulan, tetapi juga untuk membangun fondasi eksplorasi jangka panjang, termasuk rencana pendirian pangkalan permanen dan misi ke Mars.
Bulan, khususnya wilayah kutub selatan, dinilai strategis karena diduga menyimpan es air yang dapat mendukung keberlanjutan misi manusia.
Kepala NASA, Jared Isaacman, menekankan bahwa misi ini melampaui persaingan geopolitik.
“Saya jamin, setelah para astronaut ini terbang mengelilingi Bulan, akan lebih banyak anak-anak yang berdandan sebagai astronaut saat Halloween,” katanya.
“Dan itu akan menginspirasi generasi berikutnya untuk membawa kita lebih jauh.”
Di balik ambisi besar, Artemis II tidak lepas dari tantangan. Penundaan jadwal, pembengkakan biaya hingga puluhan miliar dolar, serta tekanan politik menjadi bagian dari perjalanan program ini.
Selain itu, target pendaratan manusia kembali ke Bulan pada akhir dekade ini juga menghadapi skeptisisme, terutama karena teknologi pendaratan masih dikembangkan oleh perusahaan swasta seperti SpaceX dan Blue Origin.
Misi ini juga berlangsung di tengah persaingan dengan China yang menargetkan pendaratan manusia di Bulan pada 2030.
Jika berhasil, Artemis II akan membuka jalan bagi misi lanjutan, termasuk pendaratan manusia melalui Artemis IV pada akhir dekade ini.
Misi ini diharapkan menjadi pemicu lahirnya generasi baru penjelajah antariksa dan memperluas batas eksplorasi manusia di alam semesta.
Editor : Lugas Rumpakaadi