Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Hujan Meteor Lyrids 2026 Capai Puncak 22 April, Ini Cara Menyaksikannya

Lugas Rumpakaadi • Rabu, 25 Maret 2026 | 23:15 WIB

Ilustrasi hujan meteor Lyrids.
Ilustrasi hujan meteor Lyrids.

RADARBANYUWANGI.ID - Bulan April 2026 menjadi momen istimewa bagi para pencinta fenomena langit. Salah satu hujan meteor tertua yang pernah dicatat manusia, yakni Hujan Meteor Lyrids, diperkirakan mencapai puncaknya pada 22 April 2026.

Fenomena ini terjadi ketika Bumi melintasi jalur debu yang ditinggalkan oleh Komet Thatcher (C/1861 G1). Partikel-partikel kecil tersebut kemudian terbakar di atmosfer dan tampak sebagai meteor yang melesat di langit malam.

“Pada puncaknya, pengamat di lokasi gelap dapat melihat hingga 10 meteor per jam,” demikian perkiraan yang disampaikan dalam data pengamatan astronomi.

Meski tergolong moderat, Lyrids dikenal memiliki potensi lonjakan aktivitas. “Dalam kondisi tertentu, jumlahnya bisa melonjak hingga 100 meteor per jam, meski peristiwa ini jarang terjadi.”

Hujan meteor ini dapat diamati dari belahan Bumi utara maupun selatan. Namun, aktivitasnya cenderung lebih tinggi di belahan utara karena posisi titik radian berada lebih tinggi di langit.

Bagi masyarakat Indonesia yang berada di belahan selatan, fenomena ini tetap dapat dinikmati. Pengamat disarankan mencari lokasi yang gelap dan minim polusi cahaya agar pengalaman melihat meteor lebih optimal.

Waktu terbaik untuk mengamati adalah pada dini hari, sekitar pukul 02.00 hingga 04.00 waktu setempat. Pada tanggal puncak, Bulan berada dalam fase waxing crescent dengan iluminasi sekitar 33 persen, sehingga tidak terlalu mengganggu pengamatan.

“Arahkan pandangan ke bagian langit yang berlawanan dari posisi bulan agar visibilitas meteor lebih maksimal,” menjadi salah satu saran penting bagi pengamat.

Lyrids bukanlah fenomena baru. Catatan sejarah menunjukkan bahwa hujan meteor ini telah diamati sejak lebih dari 2.700 tahun lalu. Dokumentasi pertama berasal dari astronom Tiongkok pada tahun 687 SM.

Nama Lyrids sendiri diambil dari Rasi bintang Lyra, yang menjadi titik radian atau asal tampak meteor. Meski demikian, meteor dapat muncul di seluruh penjuru langit.

Ciri khas Lyrids adalah jejak cahayanya yang sering meninggalkan pijaran beberapa detik setelah melintas, memberikan pengalaman visual yang memukau bagi pengamat.

Agar pengalaman mengamati lebih maksimal, beberapa langkah berikut dapat dilakukan:

Selain Lyrids, tahun 2026 juga akan menghadirkan berbagai fenomena astronomi menarik lainnya. Beberapa di antaranya adalah:

Hujan meteor Lyrids 2026 menjadi kesempatan langka yang sayang untuk dilewatkan. Tanpa memerlukan alat khusus, fenomena alam ini dapat dinikmati hanya dengan persiapan sederhana.

Editor : Lugas Rumpakaadi
#hujan meteor lyrids