Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Kontroversi Pluto Memanas, NASA dan Politisi AS Ikut Bersuara

Lugas Rumpakaadi • Rabu, 25 Maret 2026 | 22:15 WIB

Ilustrasi Pluto.
Ilustrasi Pluto.

RADARBANYUWANGI.ID - Perdebatan mengenai status Pluto sebagai planet kembali mengemuka dan memantik perhatian publik global. Isu yang telah berlangsung lebih dari dua dekade ini kembali mencuat setelah dukungan terbuka dari Administrator NASA, Jared Isaacman.

Bagi sebagian masyarakat, Pluto bukan sekadar objek astronomi, melainkan bagian dari sejarah yang melekat kuat dalam ingatan sejak lama. Sejak ditemukan pada 18 Februari 1930 oleh Clyde W. Tombaugh di Observatorium Lowell, Arizona, Pluto dikenal luas sebagai planet kesembilan dalam tata surya.

Namun, status tersebut mulai dipertanyakan pada awal 2000-an ketika para astronom menemukan sejumlah objek besar di luar orbit Neptunus. Kondisi ini memunculkan dilema terkait definisi planet.

Mengutip laporan IFL Science, “Namun, memasuki awal tahun 2000-an, penemuan objek-objek besar lainnya di luar orbit Neptunus mulai menggoyahkan posisi Pluto, karena para astronom mulai mempertanyakan apakah objek-objek baru tersebut juga harus disebut planet.”

Puncak kontroversi terjadi pada 2005 dengan ditemukannya Eris, yang memiliki massa lebih besar dari Pluto. Penemuan ini mendorong International Astronomical Union (IAU) untuk merumuskan ulang definisi planet pada 2006.

Hasilnya, Pluto resmi diklasifikasikan sebagai “planet kerdil” karena tidak memenuhi salah satu syarat utama, yakni kemampuan untuk “membersihkan” orbitnya dari objek lain.

Kini, wacana untuk mengembalikan status Pluto kembali muncul, bahkan disertai nuansa politik. Isaacman secara terbuka mengusulkan agar pemerintah Amerika Serikat turut campur dalam “memulihkan” status Pluto. Ia menilai langkah tersebut sebagai bentuk penghormatan terhadap kontribusi sejarah dan perkembangan industri antariksa Amerika.

Dukungan serupa juga datang dari sejumlah tokoh publik, termasuk William Shatner, serta beberapa anggota Kongres AS. Bahkan, muncul gagasan agar presiden mengeluarkan perintah eksekutif untuk menetapkan kembali Pluto sebagai planet.

Meski demikian, secara ilmiah, kewenangan penamaan dan klasifikasi benda langit tetap berada di tangan IAU sebagai lembaga independen internasional, bukan pemerintah suatu negara.

Perubahan status Pluto bukanlah kasus pertama dalam sejarah astronomi. Ceres, yang ditemukan pada 1801, juga sempat dianggap sebagai planet sebelum akhirnya diklasifikasikan ulang akibat ditemukannya banyak objek serupa di sekitarnya.

Secara teknis, alasan utama Pluto tidak lagi disebut planet adalah karena gravitasinya tidak cukup kuat untuk mendominasi orbitnya. Berbeda dengan planet seperti Bumi atau Jupiter, orbit Pluto masih beririsan dengan orbit Neptunus.

Di tengah perdebatan yang kerap emosional, Pluto tetap menjadi objek yang menarik bagi para ilmuwan. Bahkan, terdapat fakta unik bahwa sejak ditemukan pada 1930, Pluto belum menyelesaikan satu putaran penuh mengelilingi Matahari. Ia diperkirakan baru akan menyelesaikan orbit pertamanya pada 23 Maret 2178.

Apa pun statusnya di masa depan, Pluto tetap memiliki tempat istimewa dalam sejarah eksplorasi ruang angkasa dan imajinasi manusia.

Editor : Lugas Rumpakaadi
#jared isaacman #Sains #pluto